Seperti negeriku, kurasa sama krisisnya dengan keadaan diriku. Bukan karena moneter atau apa tentunya. Melainkan krisis identitas. Menjadi diri sendiri itu keinginan dan fitrah alami , namun disini perlu sekali penguatan, dukungan dan pengembangan agar lebih kuat, lebih kokoh agar tak goyah dalam terpaan dan tekanan zaman. Pahamkan ? 😩
Bukan sekedar fasilitas , moralitas , kreatifitas saja modal hidup beridentitas melainkan kesempatan dan langkah aktif untuk sekedar menjadi pembuktian diri. Bukan demi siapapun sih, kembali lagi demi kepuasan serta harga diri sendiri.
Hidup dalam zona nyaman , mereka kira akan tampak menyenangkan. Tapi sadarlah kawan, tak ada kehidupan sempurna di dunia ini. Semua dipenuhi drama dan sensasinya masing-masing. Saya sendiri percaya bahwa seindah apapun yang tampak oleh mata di alam fana ini, akan ada cela yang tersembunyi secara apik oleh Sang Pencipta. Dia Yang menyembunyikan kekurangan dan aib-aib kita , dan jika berkehendak, Dia pula yang akan membukanya. So, easy kawan... Tak ada yang benar-benar abadi di skenario ini. Tiada kebahagiaan abadi, pun penderitaan abadi. Semua berproses bagai roda pedati . Adakalanya kita di atas, di samping, di bawah. Seperti itulah kurang lebihnya.
Disuatu hari yang kurasa indah banget , positif banget , hidup diantara orang-orang yang saling menyayangi, normal, flat, tanpa tantangan yang berarti dalam urusan dunia-akhirat akan tampak aman hingga kurasa " Okelah.. Ini jalur aman gue, gue gak papa , gue terima jalan hidup gue ini dengan suka cita. Toh, kehidupan gak seberapa lama ini. Semoga istiqomah di jalanku yang cukup sederhana ini. "... Dan realitanya... Ekspektasi tak selalu semulus tol langit pak Jok. 😄😄😄 Adakalanya sesehari ...sesebulan...sesetahun waktu membuatku penat juga, bosanlah. Merasa hidup butuh warna yang lebih terang, lebih jelas tak sesederhana kutukan pencitraan yang kudu penuh kesederhanaan agar tampak baik-baik saja. Oke... Jelasnya, terkadang saya butuh jujur. Bukan semata untuk mencintai dunia alias hubbuddunya. Saya ingin iatiqomah, tapi istiqomah yang aktif. Saya butuh sesuatu yang bisa memajukan kinerja dan memaksimalkan keberadaanku selama di dunia. Bukan fix sesederhana kehidupan seperti ini yang sekarang kualami. Saya butuh terobosan, butuh kesempatan menjadi lebih di kehidupan ini, mengapa??? Karena saya percaya saya bisa berbuat lebih . Boleh kan saya komplen? Tapi pada siapa? Gak mungkin kan ke Tuhan?
Sabar dan syukur. Itu yang selalu saya tekankan di dalam diri saya setiap kali. Karena apa? Di dunia ini peran saya tak mudah. Tak seberuntung Nia Ramadani berparas cantik yang memiliki nasib mujur ketemu suami kaya , open minded, keluarga jutawan, berpendidikan. Saya bukan seperti itu. Suami dan keluarga yang pasif dalam mendorong diri saya disetiap pengembangan yang ingin saya lakukan. Bagaimana ini ? Sedang saya tak masih bisa komplen kan dengan keadaan dan segala keterbatasan saya.
Dan disetiap pengajuan kesempatan, adaaa... Saja halangan. Bukannya tak suka, tapi apa hanya sebatas ini saja? Saya mampu lho...
Ati karep bondo cupet, fasilitas mprepet, keluarga mremet, tinggal ngampet. Hehe 😁😁😁
Lagi-lagi dan lagi kuhanya bisa menghibur diri, sabarlah diri, suatu hari kau temukan jalanmu. Sabarlah diri, suatu hari kau temui kebahagiaanmu, sabarlah diri, suatu hari kau akan tau rahasia di balik semua uji deritamu.
Suatu hari kapan? Sampai kapan? Sampai mati kah? Dan kenyataannya semua itu takan pernah terealisasi dikesempatan satu-satunya sekarang saya hidup gitu?
Beri jika sekiranya tak Kau berikan keringanan, kesempatan dan nyata harapannya, kumohon kirimkan ratusan juta gerbong kosong berisi kekuatan dan kesabaran dalam beristiqomah, qona'ah untuk tetap di jalanMu ya Robb. Aamiin.
Memang tak semua harus seperti mau hamba tapi bolehkan saya meminta sedikit dari milyaran ciptaan Engkau , baik kebahagiaan berupa kesempatan untuk mengamalkan apa yang telah Engkau firmankan untuk menjadi makhluk sebaik-baiknya. Yaitu... Menjadi pribadi yang bermanfaat bagi makhluk lain.
Tunjukan jalanMu yang lurus ya Robb. Agar kelelahanku sirna, tunjukan cahayaMu agar hatiku lebih terang dalam palung kegelapan. Ajari hambaMu ini menjadi berguna, menjadi maju, menjadi makhluk yang mati dengan seminimal mungkin penyesalan. Menjadi hamba yang siap dan merindukan kematian untuk segera bertemu dalam bahagia berkumpul dengan RosulMu, berjumpa denganMu. Beri hamba kesempatan berkhusnul khotimah jika kesempatan dunia tak menghampiriku. Saya mohon...kumohon...kumohon...
Seperti ranting kayu di tengah lautan.