#MonthlyProject - Abadi atau Selamanya, Dua-Duanya Bukan Yang Dicari.
“Kali ini cerita siapa yang kamu buatkan novel?” kamu datang dari arah samping sambil menyeruput kopi pahit tanpa gula kesukaanmu. Aku melihatmu dan hanya tersenyum.
“Nanti saja kamu beli bukuku dan baca sendiri ya” Kataku sambil kembali fokus ke layar laptop. Sesekali aku menulis catatan-catatan kecil di buku memo yang sudah mau habis halamannya. Ah tapi aku malas menggantinya dengan buku memo baru.
“Kita harus segera pergi ke toko buku. Memo yang sudah kamu bawa lebih dari 2 tahun itu sudah harus tutup usia” Ledekmu lagi sambil membolak-balik halaman buku memo. Aku memukul tanganmu galak. Memberi peringatan dengan delikan mata yang berkata ‘Jangan sentuh Kitab Suciku!’. Kamu hanya tertawa melihat tingkahku lalu berjalan ke sofa yang ada di samping meja kerja.
Kita berdua lalu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku dengan draft novel untuk judul terbaru dan kamu dengan segela kopi pahit sambil terus melihat ke arahku. Ini semacam kebiasaan yang aneh. ‘Aku senang memperhatikan kamu sedang menulis’ jawabmu ketika aku memprotes karena membuatku tidak fokus. Tapi sekarang aku menikmatinya dan hanya bisa tersenyum jika tatapanmu mulai terasa menggelikan.
“Kamu tidak mau menulis cerita aku dan kamu?” tanyamu sambil menyeruput kopi pahit yang sudah mulai hangat. Aku menghentikan kegiatanku menulis lalu berbalik memandangmu dengan tatapan mencurigakan.
“Mungkin itu bisa jadi kisah yang menarik bagi orang lain. Menurutku pertemuan kita cukup menarik dan unik... Siapa sangka ternyata kita bisa berjodoh hanya karena satu minggu penuh kita selalu berebut tempat parkir mobil di komplek apartement kita. Ketika itu aku masih baru dan tidak mengerti kalau setiap pemilik apartemen harus memesan lahan parkir untuk mobil pribadi. Dan aku dengan kurang ajarnya meminta kamu untuk mencari tempat lain padahal memang itu tempat parkir mobilmu. Maklum saat itu aku baru pindah dan masih belum mengerti aturan disini. Setelahnya pun kita sering sekali berpapasan di lobby, tapi kamu tetap cuek. Di cafe, di lapangan tenis, dan tempat-tempat lainnya kita pasti selalu berpapasan” Kamu mulai berbicara melantur dan tidak menatap lurus mataku. Aku masih menatapmu dengan tatapan meneliti. Tapi kamu tidak peduli dan sekarang memilih memandang tembok yang dihiasi rak-rak buku milik kita.
Aku tertawa kecil. Tidak melanjutkan percakapan lagi. Lalu diantara kita berdua tidak ada yang berbicara sama sekali untuk waktu yang cukup lama. Hanya suara dari ketikan keyboard yang terdengar dan suara jam dinding yang terasa menggema.
Kini kamu sedang sibuk membaca buku yang kamu ambil secara acak di rak buku bagianku. Aku telah menyelsaikan bagian yang harus dikerjakan untuk hari ini, memilih mematikan laptop dan istirahat. Aku melirik ke arahmu yang sekarang sedang sangat fokus membaca buku. Ternyata kamu sedang membaca buku kedua karanganku. Itu cerita tentang kisah kedua orang tuaku. Aku meringis.
“Aku memilih untuk tidak menulis cerita tentang aku dan kamu” Aku membuka percakapan yang tadi sempat terhenti. Kamu kini berhenti membaca tapi tidak mengalihkan pandanganmu dari buku itu.
“Aku tidak ingin mengabadikan kamu, aku dan cerita kita didalam satu tulisan. Lalu, aku ini egois. Kalau nanti aku membuat cerita dengan kamu sebagai tokohnya, kamu akan jadi milik publik. Kamu tahu aku sangat posesif dengan kepemilikan” Kamu kini melirik aku yang sekarang sedang tersenyum lebar menatap wajahmu yang mulai memerah pipinya.
“Seperti yang kamu bilang, pertemuan kita cukup menarik dan unik. Dalam waktu satu minggu berturut-turut kita dipaksa bertemu. Dan lalu setelahnya kita jadi terbiasa dengan kehadiran masing-masing. Sampai akhirnya sekarang kita disini, saling berhadapan, aku dan kamu mencoba untuk menulis lembaran pertemuan yang lain. Tidak ada pertemuan yang tidak menarik, semuanya selalu menarik untuk diceritakan...
“Tapi... aku tidak percaya dengan yang namanya selamanya atau abadi. Dua kata itu selalu terasa seperti palsu dan tidak tulus. Kalau kamu tanya alasan lain kenapa aku tidak mau menulis kisah tentang kita, jawabannya adalah karena aku tidak yakin akan ke arah mana pertemuan-pertemuan kita ini...
“Sekali kamu menuliskan sebuah cerita, maka tokoh yang ada didalamnya akan diabadikan sejarah.... Dan aku memilih untuk tidak mengikuti cara itu... Aku bukan orang yang ingin dikenang banyak orang. Seperi yang kamu tahu sendiri, cukup beberapa saja...”
Aku menunggu reaksimu dari penjelasanku tadi. Tapi sudah lebih dari satu menit kamu hanya merubah posisi dari yang tadinya memegang buku terbuka, sekarang buku itu kamu pegang erat di atas pangkuanmu. Melihat reaksimu yang tidak berubah, aku memilih untuk membereskan meja kerjaku dan berjalan ke aras pantry untuk mengambil segelas air. Tenggorokanku kering.
Tanpa aku sadari, kamu berjalan mengikuti dari arah belakang. Dan sesampainya disana, aku berdiri memunggungimu yang kini mencengkram kedua pundakku erat penuh makna. Lalu cengkramanmu pun sedikit melonggar, menyisakan sedikit lelah.
“Aku harus bagaimana supaya kamu bisa sedikit lebih banyak, percaya kalau bisa jadi cerita kita berbeda?” Kamu mengucapkan kalimat itu lirih. Hatiku tersayat. Aku merasa bersalah, amat sangat.
Tapi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu. Aku hanya bisa menggenggam tanganmu erat yang masih kamu simpan di atas pundakku. Ketika aku hendak membuka mulut. Kamu sudah lebih dulu melepaskan pundakku dan berjalan ke arah pintu depan.
“Aku pergi dulu hari ini, aku hubungi kamu nanti ya”. Kamu terburu-buru memakai alas kaki dan pergi meninggalkan aku sendiri yang masih berdiri mematung di pantry.
Buku yang tadi kamu baca masih tergeletak di atas meja. Kini halamannya terbuka, menunjukkan sebuah kalimat yang aku ingat ditulis dibagian tengah cerita:
“Kehilangan sebuah perasaan itu menakutkan. Karena tidak terlihat, jadi kita tidak tahu kalau itu hilang. Karena harus tetap bertahan hidup walaupun tahu itu menyakitkan”
Kalimat terakhir di kutip dari webtoon judulnya Knitting Room...