Aku mencintai seorang perempuan yang lahir dari kasta yang berbeda.
Bukan berbeda langit, bukan pula berbeda bumi. Kami masih menghirup udara yang sama, berjalan di jalan yang sama, dan menua di bawah waktu yang sama. Namun entah mengapa, dunia menciptakan tangga-tangga tak kasat mata yang membuat sebagian orang dianggap lebih tinggi, dan sebagian lainnya harus puas berdiri di bawahnya.
Aku mengenalnya sebagai manusia.
Bukan sebagai nama keluarga, bukan sebagai garis keturunan, bukan sebagai gelar yang mengiringi namanya. Aku mengenalnya dari caranya tertawa, dari mimpinya yang sederhana, dari luka-luka yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Tetapi cinta sering kali tidak berhadapan dengan dua hati saja.
Ia harus berhadapan dengan tradisi, dengan harapan keluarga, dengan bisik-bisik yang mengukur harga seseorang dari asal-usulnya. Seolah perasaan harus meminta izin kepada silsilah sebelum tumbuh menjadi cinta.
Kadang aku bertanya, apakah cinta memang harus memahami kasta?
Sebab ketika aku memandangnya, yang kulihat hanyalah seorang perempuan yang ingin dicintai sebagaimana manusia lain ingin dicintai. Bukan simbol kebanggaan keluarga, bukan warisan adat yang harus dijaga jaraknya.
Jika pada akhirnya jalan kami tak bertemu, mungkin bukan karena cinta kami kurang besar. Mungkin karena dunia masih terlalu sibuk menghitung perbedaan, hingga lupa bahwa dua hati tidak pernah lahir dengan kasta.
Dan jika suatu hari aku harus melepaskannya, aku ingin dunia tahu satu hal:
"Aku tidak kalah oleh lelaki yang lebih kaya, lebih tampan, atau lebih sempurna. Aku hanya kalah oleh tembok yang dibangun jauh sebelum kami saling mengenal."
@gramabiru | Perempuan Warisan










