Kematian
هُوَ ٱلَّذِى يُحْىِۦ وَيُمِيتُ ۖ فَإِذَا قَضَىٰٓ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ
Dialah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya bekata kepadanya: "Jadilah!", maka jadilah sesuatu itu. (QS. Ghafir, 40: 68)
Depok, 28 Desember 2017
Allahu Akbar....Semuanya mudah bagi Allah, Dialah yang Maha Besar serta Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang mampu membolak-balikkan keadaan juga perasaan hamba-hambanya.
Beberapa menit yang lalu aku masih bisa senyum-senyum sendiri, bahagia melihat hamparan buku-buku dalam acara Islamic Book Fair di Balairung, dari kos sudah berniat untuk membeli beberapa buku. Beberapa menit kemudian, perasaan berbalik 180 derajat. Ibuku memberi kabar bahwa mbokdheku kritis, pembengkakan jantung. Baru sampai di pintu masuk pameran, aku bergegas menuju pintu keluar sambil berusaha sebisanya mencari bantuan teman untuk mencarikan tiket kereta untuk hari ini juga.
-----
Tiket kereta nihil, sudah habis. Kuputuskan untuk bergegas ke pul bus. Beruntungnya aku karena ada satu tiket tersisa, sebuah tiket yang dicancel oleh pembeli sebelumnya.
----
Purworejo, 29 Desember 2017
Sekitar pukul 3 pagi aku sudah sampai terminal di kampung halaman. Sepanjang perjalanan sudah merencanakan beberapa hal, sampai di rumah aku akan langsung mandi, kemudian bergegas ke rumah sakit menjenguk mbokdhe.
----
Pagi itu cukup sepi. Akhirnya yang dinanti datang juga, bapakku yang datang menjemputku. Udara dingin, jalanan lengang. Sampailah aku ke jalanan menuju kampung halaman. Seharusnya bapakku ke arah kanan, tetapi ini lurus, menuju rumah mbokdheku.
---
Aku melihat hamparan kursi dan tenda. Deg. Aku paham ketika dan seketika itu juga. Aku masuk melalui pintu belakang, ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu kemudian menuju ke ruang depan.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un...
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un...
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un...
Beberapa orang sedang membaca ayat suci Al-Quran. Aku menuju tubuh itu. Kubuka penutup putih wajah itu, kupandangi wajah beliau. Inilah tidur terakhir....Ya Allah... ampunilah dosa beliau dan terimalah segala amal beliau. Amin...
Untuk sekian detik, terbersit dalam pikiran...Ya Allah...suatu saat aku pun akan terbaring begini, Ya Allah...suatu saat orang tuaku juga akan seperti ini. Ya Allah, sanggupkah aku, Ya Allah...
----
Atmosfer haru biru begitu melekat. Sontak segala memori terbayang. Tidak akan ada lagi kisah-kisah yang akan tercipta, tidak ada lagi sapa, tidak ada lagi momen lebaran bersama, atau sekadar bercerita hal-hal biasa, tidak bisa lagi bertanya kabar, atau melihat beliau duduk di teras rumah sementara aku menyapukan rumah beliau, sesekali, ketika aku pulang dan bertandang. Seketika itu juga hal-hal yang telah berlalu teringat, membendung bak telaga yang pecah menjadi air mata yang kuseka-seka, tidak boleh tersedu di hadapan almarhumah.
----
Sosok-sosok yang kokoh: suami, anak-anak, para mantu, cucu, luruh dalam haru biru. Sosok-sosok yang kokoh itu melemah pertahanan hatinya. Hancur. Tumpah semua, luruh, biru, air mata.
----
"Asyhadu al laa ilaaha illallah
wa ashadu anna muhammadar rasulullah.."
Kubisikaan lafadz syahadat dan kucium wajah yang dingin itu, setelah anak-anaknya.
----
Diciumi wajah dan kaki almarhumah ibunya oleh anak-anak dan cucu-cucunya. Penghormatan terakhir pada sosok pejuang kehidupan, ibu untuk anak-anaknya, untuk cucu-cucunya, suaminya, sebelum dikafani, didoakan, dan disemayamkan dalam peristirahatan terakhir.
----
Tiada duka yang abadi. Segala sesuatu adalah milik Allah. Semuanya hanyalah titipan yang akan kembali kepada Allah. Diri ini pun milik Allah. Raga yang dari tanah akan kembali ke tanah. Jiwa ini, ruh ini akan kembali pada-Nya, dimintai pertanggung jawaban atas apa-apa yang sudah dilakukan selama di dunia.
----
Yaa Allah, ampunkanlah segala dosa dan khilaf beliau, terimalah segala amal ibadah beliau disisi-Mu, terangi dan lapangkanlah alam kubur beliau.. amin...













