Gagal
Kegagalan itu, seringkali membuat kita menemukan apa yang sebelumnya tidak pernah kita kenali.
Di suatu hari yg mendung, seseorang pernah bilang, “Setiap kita punya jatah gagal, dan jatah gagal itu harus dihabiskan.” -- kurang lebih seperti itu, saya kurang ingat persisnya. Intinya dia menerangkan bahwa gagal itu bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, karena setiap orang punya jatahnya sendiri-sendiri.
Percaya tidak percaya hal itu yang membuat seorang dian yang pemalu (re: malu-maluin kalau udah kenal) ini nekat dalam mengambil banyak kesempatan dalam hidupnya, salah satunya adalah daftar Indonesia Mengajar. Nekat ya? Iya. Banget. Kalau ada kata yang lebih dari “banget” untuk bisa menggambarkan, boleh dm ya.
Berangkat dari cita-cita jadi guru TK, dan cita-cita menuntaskan adventure wishlist musiman menjejak kaki di 0 KM Indonesia. Dari dulu entah apa sebabnya, padahal saya ga terbiasa dengan laut, dan saya ga tau di 0 KM itu ada apa aja, tapi sekuat itu keinginannya, dan semakin kuat lagi karena punya bahan skripsi yang bercerita soal salah satu masjid yang qadarullah juga di daerah sana. Yah ini mah kayaknya bisa-bisaan saya aja cocoklogi. Wkwk
Lalu apa hubungannya 0 KM Indonesia dengan Indonesia Mengajar?
Setelah diamati, ditelusuri dan ditimbang-timbang, salah satu penempatan IM salah satunya ada di Aceh Utara. Penempatan yang sejak saya dapat pengumuman lolos tahap 1 sudah menjadi bagian dari doa sujud saya. Padahal tahapan prosesnya masih sangat panjang. Rayuan demi rayuan (kepada Tuhan) selalu diupayakan. Juga restu orang tua yang tak lupa diminta secara paripurna.
Seleksi tahap ke dua adalah seleksi tatap muka. Seleksi ini adalah seleksi paling memorable dalam hidup saya. Ada sesi FGD, sesi lobbying dengan petinggi setempat, dan simulasi mengajar yang keseluruhan sistemnya dikemas super-seru-banget-parah-ga-ngerti-lagi. Di sini saya merasa menemukan sisi diri yang baru, kalau bahasa yg lazim dipakai di FIM adalah discover myself.
Ternyata saya baru sadar saya ga sepemalu itu. Saya bahagia ketemu orang baru dengan serangkaian peristiwa yang mendukungnya. Dan, ngobrol sama orang baru ga menyeramkan yang saya pikirkan. Bahkan di sesi simulasi lobbying dengan petinggi setempat soal birokrasi, kata panitianya, saya adalah salah satu yang idealis dan strong will -- yang selalu mencari jalan tengah agar seluruh kepentingan terakomodir dengan baik (re: sebenernya ga mau ngikutin semua keinginan pejabat setempat, aneh2 banget permintaannya)
Meski pada akhirnya, perjuangan belum bersambut dengan gegap gempita keberhasilan. Entah gagal di mana, tapi evaluasi pertama barangkali tersesat di niat. Innamal a’malu binniyat, hadist pertama yang muncul untuk mengingatkan bahwa setiap amal akan dinilai dari apa niatnya.
Barangkali, niat 1 tahun mengabdi masih dikotori dengan niat mencari apa yang menyenangkan hati. Barangkali, kesempatan ini belum diberi karena masih banyak lagi intensi diri yang perlu dievaluasi. Dan barangkali sebuah pepatah yang cukup marak di kala patah hati dapat mewakili,
“Aku mungkin kehilanganmu, tapi aku akhirnya menemukan diriku.”
Siap coba lagi, Dianra? :)
(terdengar suara hati menjawab “tidak” XD)














