Menikah itu Energi yang Melahirkan Sinergi
Belakangan lagi pro-kontra tentang pembahasan mengenai pernikahan yang “too much” . Iya Lika juga sepakat kalau akhir-akhir ini topik itu “too much”, ini mah buat catatan pribadi aja ko, karena lagi nemu aja sumbernya. Kalau dibiarin gitu aja suka lupa soalnya. Lika nulis memang tujuan awalnya buat jadi catatan pribadi, tapi kalau kemudian ada yang mendapatkan manfaat dari catatan Lika Alhamdulilah.. tapi sungguh ini ga ada maksud buat nambah-nambah “too much” nya topik pernikahan.hehe
Judul diatas sama persis dengan salah satu chapter di buku bunda Tatty Elmir & Kurniawan Gunadi yang berjudul “Never Ending Hijrah”. Bukunya sangat direkomendasikan syekaliii. Review singkat : buku ini bercerita tentang kisah nyata sepasang perantau yang menambah list pasangan favorit Lika. Silvia Pamudji dan Reza Abdul Jabbar, keduanya asal Indonesia yang sukses membangun bisnis peternakan dan pertanian di New Zealand. Buku ini adalah sebuah catatan tentang bagaimana keduanya berjuang menghidupkan Islam di negeri paling selatan dunia itu.
Pertama kali Lika ngobrol langsung dengan beliau-beliau saat acara FIM Bandung bulan Ramadhan kemarin pada acara bedah buku “Never Ending Hijrah”, meski hanya lewat skype tapi energi keduanya kerasa banget dari NZ ke Bandung, ini serius! Lika ga bercanda sama sekali, semoga diberi kesempatan bertemu langsung keduanya di Invercargill. Nyata betul jika menikah itu energi yang melahirkan sinergi. Saat itu pertanyaan Lika pada keduanya : “apa bekal yang ditanamkan pada anak-anak untuk bisa tetap ‘survive’ di negri mayoritas non muslim?”. Keduanya kompak menjawab ‘Tauhid’. Tauhid bagi keluarga pak Reza sudah pasti harga mati ga bisa ditawar. Tauhid ini topik yang menarik banget jadi tulisan selanjutnya, jadi ga akan Lika bahas sekarang, next....
Pak Reza meyakini, pernikahan itu bukan cover zina. Pak Reza dan Bu Silvi menyepakati bahwa pernikahan itu adalah institusi yang melahirkan peradaban dengan meletakkan Al-Quran dan Sunnah Rasul sebagai dasar. Bu Silvi meyakini seyakin-yakinnya, bahwa pernikahan itu adalah kunci surga dunia hingga akhirat. Semakin cepat seorang wanita menyadari posisisnya, semakin cepat dia beriman. Semakin cepat dia beriman, maka semakin mudah hidupnya. Seseorang yang menerima aturan Allah itu hidupnya berlimpah kebahagiaan, kemuliaan serta berkah. Dan salah satu aturan Allah itu adalah kepatuhan seorang istri kepada suaminya.
Pernikahan yang melahirkan energi diyakini Pak Reza, mampu melahirkan sinergi. Sinergi itu bukan 1 + 1 = 2, namun bisa 10, 100, 1000 bahkan beratus juta dan miliar kebajikan. Menurut Pak Reza, bu Silvi adalah perempuan yang luar biasa, miliknya yang berharga dan tak tergantikan kebahagiaan memilikinya dengan apapun, selain shalihah, patuh pada suami, Bu Silvi bagi Pak Reza adalah partner yang baik dalam segala hal.
Catatan bagi saya khususnya, atau bagi siapapun yang ingin mengambil hikmah. Ternyata mempersiapkan diri menuju pernikahan bukan hanya perkara memperbaiki diri, tapi juga membekali diri dengan ilmu agama dan pemahaman yang baik dalam menjalani kehidupan. Karena yang dibutuhkan suami kita nanti bukan hanya seorang ibu untuk anak-anaknya, bukan hanya urusan ‘domestik’. Tapi life partner yang bisa kompak menjalani perjalanan di dunia menuju akhirat. Kompak artinya ada dua individu yang sama-sama berusaha, meski awalnya memiliki pemahaman yang berbeda justru disitulah peran pernikahan. Dua individu yang lahir dari keluarga dan lingkungan berbeda, budaya berbeda dan sudah pasti karakter yang berbeda kemudian dipersatukan dengan pernikahan yang memiliki standar yang sama Al-Quran dan Sunnah Rasul.
Sharing dengan teh Elma semoga menguatkan : perintah Allah untuk memantaskan diri itu memang benar adanya.
Karena hanya yang mulia di mata Allah, berhak atas yang terbaik. Dan yang oleh kita terlihat sebagai kurang baik, maka bisa jadi mata kita yang batasnya hanya bisa melihat dalam rentang waktu pendek saja, padahal orang itu bisa berubah. Atau Allah memang punya rencana untuk dia, yang sama sekali belum kita pahami kali ini.
Namun itu tidak menurunkan nilai pentingnya perintah Allah untuk memantaskan diri menjadi mulia. Karena kita sedang fokus menjalankan perintah Allah, bukan sedang fokus memenuhi hitung-hitungan kita. Berserah dirilah pada Allah, dan bersedialah menjalani kurikulum Allah yang Allah buat khusus untuk kita, "our own stairway to heaven".
insyaAllah, ya Rabb guide me :)