Aku sedang menata ulang arah, merapikan kembali visi yang sempat kabur karena rutinitas yang melelahkan. Perjalanan menjadi versi profesional terbaik ini bukan tentang pembuktian pada siapapun, melainkan upaya agar aku pantas mengemban tanggung jawab yang lebih besar nantinya.
Hari ini, aku memilih untuk menyembuhkan rasa kecewa pada masa lalu dan merelakan bab pekerjaan yang telah usai.
Aku ingin berkarya dengan cara yang benar: dengan integritas, dedikasi, dan kehormatan.
Aku percaya, tempat pengabdian yang lebih baik akan datang di waktu yang tepat, saat aku sudah benar-benar siap memberikan kontribusi dengan kapasitas yang penuh.
@ekopuspito - Garut, 01 Mei 2026 | 13 Dzulqa'dah 1447 H
Setiap Manusia Memiliki Cara Untuk Menyusun Dirinya Sendiri
Mungkin selama ini aku terlihat baik-baik saja di hadapanmu.
Padahal, ada banyak hal yang belum benar-benar selesai di dalam diriku. Ada bagian-bagian yang masih berantakan, yang belum sempat kujelaskan, bahkan kepada diriku sendiri. Aku hanya belajar untuk tetap tersenyum, untuk tetap hadir seolah semuanya tidak terlalu berat.
Aku menyadari, aku sering memilih diam ketika seharusnya jujur. Bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu darimu, tetapi karena aku sendiri masih mencoba memahami apa yang sebenarnya kurasakan. Ada hal-hal yang belum berani kuhadapi sepenuhnya, dan tanpa sadar, itu ikut memengaruhi caraku bersikap padamu.
Kadang aku khawatir, kamu melihatku sebagai seseorang yang lebih utuh daripada kenyataannya. Padahal aku juga sering ragu, sering lelah, dan tidak selalu tahu harus menjadi seperti apa. Tapi di tengah semua itu, aku tetap ingin belajar menjadi seseorang yang lebih baik—bukan untuk terlihat kuat, melainkan supaya aku tidak terus lari dari diriku sendiri.
Jika suatu hari kamu menemukan sisi diriku yang tidak seindah yang kamu bayangkan, semoga kamu bisa melihatnya sebagai bagian dari prosesku, bukan sebagai kekecewaan. Aku tidak sedang berpura-pura, aku hanya sedang berusaha bertahan dengan cara yang paling mampu kulakukan saat ini.
Terima kasih karena tetap hadir, bahkan ketika aku belum sepenuhnya selesai dengan diriku sendiri. Dan jika aku pernah membuatmu merasa lelah tanpa kusadari, maafkan aku. Aku hanya berharap, pelan-pelan, aku bisa tumbuh tanpa harus kehilangan diriku, dan tanpa harus kehilangan kamu juga.
Tiga indikator manusia produktif dalam Islam sebenarnya sudah dirangkum secara padat dalam Surah Al-‘Ashr. Ayatnya singkat, namun kerangka berpikirnya sangat kaya. Jika dilihat lebih dekat, Islam tidak mendefinisikan produktivitas sekadar sibuk atau banyak kegiatan, tetapi sebagai kualitas hidup yang terarah.
Pertama, iman.
Produktivitas dalam Islam dimulai dari orientasi. Iman menentukan arah gerak dan memastikan bahwa kegiatan yang dilakukan tidak sekadar menghasilkan sesuatu, tetapi menghasilkan kebaikan yang bernilai di hadapan Allah. Iman membuat seseorang bekerja dengan integritas, jujur, amanah, dan konsisten.
Kedua, amal shaleh.
Ini indikator paling konkret. Produktif bukan hanya beraktivitas, tetapi menghasilkan tindakan yang membawa manfaat nyata. Dalam konteks keseharian, amal saleh mencakup pekerjaan yang dilakukan dengan benar, kontribusi pada lingkungan, peningkatan kualitas diri, hingga adab dalam interaksi. Islam menilai produktivitas dari dampak, bukan dari kepadatan jadwal.
Ketiga, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Ini dimensi sosial. Manusia produktif tidak hidup dalam ruang pribadi saja. Ia berperan menjaga lingkungannya tetap berada di jalur yang benar. Menyampaikan kebenaran menuntut keberanian. Menyampaikan kesabaran menuntut kebijaksanaan. Dua hal ini menunjukkan bahwa produktivitas bukan hanya soal apa yang kita capai, tetapi bagaimana kita memperkuat orang lain.
Jika tiga unsur ini bersatu, seseorang tidak hanya produktif secara duniawi, tetapi juga produktif dalam makna yang lebih luas. Produktivitas seperti ini stabil, tidak rapuh, dan tidak mudah dipatahkan oleh perubahan keadaan.
Islam menempatkan kualitas hidup pada keseimbangan antara orientasi batin, tindakan nyata, dan kontribusi sosial. Dari sini, jelas bahwa produktivitas sejati bersifat menyeluruh, tidak sepenggal atau terpisah dari nilai-nilai yang membentuk manusia itu sendiri.
Keputusan yang Kuambil Saat Ini Terasa Semakin Tepat
Apa yang telah kupilih sepenuhnya adalah keputusanku sendiri. Segala konsekuensi dan hasilnya pun menjadi tanggung jawab yang harus kuterima dengan kesadaran penuh.
Pandangan orang lain tentang diriku dan pilihanku sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Namun, justru dari situlah aku terdorong untuk merenung lebih dalam.
Kini, aku mampu menanggapinya dengan lebih tenang, tanpa merasa perlu berkonfrontasi. Dulu, ketenangan seperti ini adalah hal yang sangat kuinginkan. Barangkali, ketenangan memang hadir setelah seseorang cukup lama berdamai dengan dirinya sendiri.
Di titik ini, aku mulai memahami bahwa waktu akan membuka jawaban demi jawaban dengan caranya sendiri, perlahan-lahan. Mungkin, kedewasaan adalah kemampuan untuk menunggu proses itu dengan sabar, tanpa kehilangan arah dan tanpa terjebak dalam keinginan untuk terus membuktikan diri kepada setiap orang.
@ekopuspito | Garut, 07 Mei 2026 M/ 19 Dzulqa'dah 1447 H
Kalimat itu biasanya muncul ketika hati mulai merasa digiring ke sesuatu yang tidak sepenuhnya kita pahami. Ada keresahan halus, campuran antara takut salah melangkah dan ingin sekali melihat ujung jalan. Namun hidup memang sering bekerja dengan cara mengaburkan peta, lalu meminta kita berjalan pelan sambil menjaga niat tetap jernih.
Pertanyaan “ini arahnya ke mana?” bukan tanda lemahnya iman. Itu justru tanda bahwa Anda sedang sadar. Sadar bahwa Anda tidak Maha Tahu. Sadar bahwa Anda bisa salah membaca tanda. Sadar bahwa keputusan hidup tidak sesederhana garis lurus.
Dalam momen seperti itu, yang paling penting bukan mengetahui arah akhirnya, tetapi menjaga tiga hal: niat yang bersih, langkah yang jujur, dan doa yang tidak putus. Arah akan muncul di waktu yang tepat. Allah tidak menuntut Anda mengetahui semuanya, hanya menuntut Anda tetap berada di jalur yang benar.
Kadang perjalanan terasa membingungkan karena Allah sedang menggeserkan kita dari tempat lama menuju tempat baru tanpa membuat kita kaget. Kadang kebingungan adalah cara-Nya membuat kita lebih banyak memohon. Kadang arah yang samar justru menyelamatkan kita dari kesombongan merasa paling tahu.
Mungkin bukan tentang tujuannya dulu. Mungkin tentang melatih hati agar tenang ketika peta masih belum lengkap. Dan biasanya, ketika hati mulai tenang, arah pun tiba-tiba menjadi terang tanpa perlu dicari keras-keras.
Ada ketenangan tertentu yang muncul ketika seseorang mengucapkan kalimat
ما قدر الله من أمر سأرضاه
Bukan pasrah asal-asalan tetapi penerimaan yang lahir dari kesadaran bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya berada di genggaman kita. Ada wilayah yang dapat diikhtiarkan dan ada wilayah yang hanya bisa disambut dengan hati yang lapang.
Refleksi dari kalimat ini mengingatkan bahwa manusia sering terjebak dalam ilusi kendali. Kita menyusun rencana, menghitung peluang, dan menata langkah, seolah semuanya akan berjalan sesuai desain pribadi. Ketika realitas berbelok, kegelisahan muncul karena benturan antara kehendak kita dan kehendak yang lebih besar. Dalam momen seperti itu, kalimat ini terasa seperti pintu udara yang membuat napas kembali normal. Ia mengajarkan bahwa ridha bukan kekalahan. Ridha adalah bentuk kedewasaan spiritual, semacam pengetahuan batin bahwa hikmah tidak selalu hadir di awal.
Sikap ini juga tidak menuntut seseorang mematikan perasaan. Boleh kecewa, boleh lelah, bahkan boleh menangis. Namun setelah itu, ada dorongan lembut untuk berdiri lagi sambil berkata, “Jika ini bagian dari takdir-Nya, maka ada kebaikan yang belum terbaca.” Pada titik itulah hati mulai berlatih tenang. Tentu tidak mudah, tapi setiap usaha kecil menuju ketenangan adalah langkah menuju kekuatan.
Kalimat ini pada akhirnya mengajak Anda menimbang ulang cara menghadapi peristiwa hidup. Apakah semua harus dipahami sekarang juga, ataukah sebagian cukup diserahkan kepada waktu dan kebijaksanaan Tuhan. Menerima tidak berarti berhenti bergerak. Justru dari penerimaan itulah langkah berikutnya menjadi lebih jernih, karena hati tidak lagi sibuk melawan apa yang sudah terjadi.
OPINI: Refleksi Pendidikan Guru Penggerak dan Kehidupan Setelahnya
Sebagai alumni Pendidikan Guru Penggerak (PGP) angkatan 9 di Kabupaten Garut, saya cukup terkejut ketika menerima Surat Edaran beberapa waktu yang lalu yang menyatakan bahwa Program Sekolah Penggerak secara resmi dihentikan. Padahal, sejak diangkat menjadi kepala sekolah, saya sudah memupuk ambisi untuk mendaftarkan sekolah saya agar menjadi bagian dari program tersebut jika programnya dibuka kembali. Di awal masa transisi pemerintahan, saya sempat optimis bahwa kebijakan pendidikan di era Presiden Prabowo tidak akan mengalami perubahan besar, mengingat adanya beberapa kesinambungan visi dengan pemerintahan sebelumnya. Apalagi, penunjukan menteri pendidikan dari kalangan akademisi sempat menumbuhkan harapan bahwa arah reformasi pendidikan yang telah dirintis akan tetap berlanjut. Namun, kenyataan berkata lain—perubahan yang terjadi terasa begitu drastis, bahkan bertolak belakang dengan ekspektasi.
Meski demikian, saya tetap memandang bahwa setiap kebijakan baru pasti hadir dengan pertimbangan dan tujuan tersendiri. Hal yang menarik selama mengikuti program PGP adalah beragamnya motivasi dari para peserta. Ada yang ingin mencari tantangan baru, ada pula yang sekadar ingin mengisi waktu luang, atau bahkan tertarik dengan peluang pengembangan diri yang ditawarkan. Di balik semua alasan itu, satu benang merah yang saya temukan adalah keinginan untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik—baik sebagai individu, guru, maupun pemimpin. Keragaman motivasi ini menjadi kekuatan tersendiri yang menciptakan dinamika pembelajaran yang kaya dan bermakna.
Program PGP memperkenalkan pembelajaran dengan kerangka MERDEKA (Mulai dari diri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, Aksi nyata) yang sangat kontekstual dan aplikatif. Salah satu momen paling berkesan dalam program ini adalah ketika saya memulai modul pertama: “Mulai dari Diri”. Saya diajak untuk merenungi alasan saya ada di sini, apa mimpi saya, dan bagaimana saya ingin bertumbuh. Bagi saya, ini bukan sekadar refleksi biasa. Ini adalah perjalanan ke dalam diri sendiri, sebuah percakapan batin yang selama ini mungkin tertunda. Momen ini menjadi ruang refleksi yang kuat, sebuah titik awal untuk memahami motivasi terdalam sebelum benar-benar melangkah. Diskusi-diskusi yang terjadi dalam sesi tersebut membentuk semacam ikatan emosional dan intelektual antara peserta dan fasilitator. Inilah yang membuat pembelajaran menjadi lebih dari sekadar transfer pengetahuan; ia menjadi pengalaman yang mengubah cara pandang dan sikap. Saya melihat langsung bagaimana pendekatan ini mampu menumbuhkan makna, bukan hanya pengetahuan.
Bagi saya, pengalaman ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang paling bermakna adalah yang berakar pada realitas. Ketika peserta bisa melihat hubungan langsung antara modul yang dipelajari dan tantangan yang mereka hadapi, mereka tidak hanya belajar, tetapi juga tumbuh. Itulah mengapa sesi-sesi reflektif seperti ini sangat penting, karena memberikan ruang untuk peserta mengenali diri, memahami motivasi, dan menautkannya dengan tujuan jangka panjang mereka.
Setiap kelebihan, tentu ada kekurangan.
Tidak ada kebijakan yang sempurna, bukan? Seperti halnya PGP. Salah satu kritik yang cukup sering saya dengar adalah soal kebijakan pengangkatan kepala sekolah yang mewajibkan peserta berasal dari alumni PGP. Bagi sebagian kalangan, ini dianggap sebagai ketidakadilan, terlebih bagi mereka yang telah lama melalui proses seleksi kepala sekolah yang sah sebelum program ini ada. Saya bisa memahami keresahan itu. Bahkan secara pribadi, saya pun setuju bahwa pemimpin, apalagi kepala sekolah, tidak bisa dibentuk hanya dalam waktu singkat. Dibutuhkan perjalanan panjang, pembelajaran nyata, dan proses pembinaan berkelanjutan untuk mencetak pemimpin yang matang, visioner, dan berdampak.
Tapi di sisi lain, saya juga tidak menutup mata terhadap kontribusi positif PGP dalam membangun kompetensi kepemimpinan yang reflektif dan adaptif. Program ini menawarkan ruang belajar yang luas, sekaligus menanamkan semangat transformasi pendidikan dari dalam. Dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan kolaboratif, para peserta dibekali keterampilan untuk menjadi penggerak di lingkungan masing-masing, baik dalam pembelajaran maupun dalam pengelolaan sekolah secara menyeluruh. Hanya saja, hal ini masih perlu adaptasi untuk merespon sebagian orang yang tidak memiliki pandangan yang sama tentang PGP.
Walau kini kebijakan berganti, saya percaya bahwa pengalaman dalam program PGP akan tetap relevan dan berdaya guna. Apa yang saya pelajari, refleksikan, dan praktikkan dalam program ini telah menjadi bagian dari proses tumbuh saya sebagai pendidik.
Untuk itu, meski arah kebijakan berubah, semangat untuk terus mengembangkan diri dan memberikan kontribusi terbaik dalam dunia pendidikan harus tetap menyala. Karena sejatinya, pendidikan tidak pernah statis. Ia adalah proses panjang yang dibentuk oleh dedikasi, keberanian untuk berubah, kemauan untuk terus belajar, dan dapat menjadi salah satu upaya untuk menciptakan pendidikan yang lebih inovatif dan relevan. Bagi kita yang terlibat di dunia pendidikan, memahami pro dan kontra dari kebijakan semacam ini adalah langkah penting untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Kini, meskipun jalan yang saya tuju tak lagi searah dengan rencana awal saya, saya tahu bahwa mimpi untuk membawa perubahan di dunia pendidikan belum selesai. Justru di sinilah tantangannya, melangkah meski peta telah berubah, berjuang meski arah tak lagi sama. Karena sejatinya, pendidik adalah mereka yang tak pernah berhenti belajar dan menyalakan harapan.
Terakhir, tulisan ini murni lahir dari pengalaman pribadi dan sudut pandang yang terbentuk dari proses panjang dalam dunia pendidikan. Tidak ada maksud sedikitpun untuk menyinggung pihak manapun. Justru, melalui tulisan ini, saya ingin berbagi semangat dan mengajak kita semua untuk terus berupaya memperbaiki dan memajukan pendidikan dari tempat kita masing-masing.
Mewujudkan pendidikan yang baik dan berkualitas bukanlah perkara instan. Ia menuntut komitmen, ketekunan, dan kerja sama dari berbagai pihak. Terlebih lagi, jika arah pendidikan yang kita cita-citakan adalah pendidikan yang melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga kuat secara spiritual—paham agama, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Salam hangat,
Eko Puspito
*) Kepala Sekolah SDTQ Al-Furqan Garut | Mahasiswa S2 IAI PERSIS Garut Prodi MPAI
Suatu siang di pesawahan pinggiran kota penuh dengan burung yang terbang kesana-kemari yang hendak mencuri butir padi yang sudah menguning. Aku duduk di saung yang beratapkan daun rumbia di pinggir sawah. Sementara dia sedang asyik menikmati hembesusan angin yang sesekali menyingkap kerudung yang di pegang erat olehnya. Bergaya sederhana dengan kerudung warna hijau kesukaannya dan gamis panjang menutupi mata kaki yang berwarna lebih gelap dari kerudungnya. Aku hanya tersenyum saja melihat dia yang sedari tadi duduk di sampingku.
"Mas, mau makan sekarang? Aku bawain, ya." tanyanya.
"Boleh, sekalian buatin teh manis, ya." jawabku diiringi senyuman.
"Oke.." jawabnya sambil berdiri dan menghilang dari pandanganku.
Aku hanya bisa berucap syukur karena telah meminangnya. Awal pertemuan yang tidak pernah direncanakan membuat kami menjadi semakin dekat. Setelah menunggu, dia datang dengan membawa teh manis. Aku bangkit, mengambil gelas teh manis sambil memegang tangannya, lalu aku tersenyum. Dia menunduk, wajahnya memerah tersipu malu.
Singkat cerita, kami makan berdua di saung dengan pemandangan sawah serta gunung dengan cuaca yang cerah. Kami sangat menikmati suasana saat itu. Masakan sederhana yang dibuat olehnya seolah menjadi makanan yang di buat oleh seorang koki terkenal yang sudah mahir memasak. Dia tersenyum melihatku melahap makanan yang dia buat.
"Pelan-pelan makannya, mas. Masih banyak kok." ucapnya sambil menuangkan air minum untukku.
Aku tersenyum. Menganggukkan kepala tanda mengiyakan saran darinya. Selesai makan, kami berdua duduk bersama. Aku bersandar pada tiang yang menjadi penyangga saung, dia pun sama. Kami duduk berhadapan dengan jarak 2 meter sesuai panjang saung. Aku mengalihkan pandanganku ke sekeliling, menarik napas panjang lalu menggerakan bibirku berucap syukur.
"Indah banget ya mas, aku selalu ingin menikmati keindahan seperti ini." ujarnya.
"Iya, jarang-jarang cuaca sebagus ini di musim hujan," jawabku.
Istriku tersenyum. Kami tenggelam dalam obrolan hingga larut dalam kebahagiaan. Setelah puas berbincang, dia mendekat kearahku lalu bersandar di pundakku.
"Aku selalu memikirkan keluarga kita nanti, mas. Kita akan terus seperti ini 'kan?" tanyanya sambil memainkan jari-jari di ujung kerudungnya.
"Selama kita mempunyai keyakinan yang Allah berikan, insyaAllah, kita akan selalu seperti ini." jawabku menenangkan.
Dia terdiam dan terus memainkan kerudungnya seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu. Aku mencoba meyakinkan kembali istriku, bahwa hal seperti ini memang sering terjadi dalam rumah tangga, tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama kita bisa melaluinya.
"Kita akan selalu memohon agar kita bisa selalu melewati hal semacam ini dengan tetap bersabar. Selama ada aku, kamu enggak usah khawatir."
Dia tersenyum sambil menoleh ke arahku. Aku mengusap kepalanya sambil membisikkan sesuatu padanya; "Kau terindah, jangan resah.."
Disela-sela mengerjakan proposal skripsi, 09 Maret 2016