ما قدر الله من أمر سأرضاه
Ada ketenangan tertentu yang muncul ketika seseorang mengucapkan kalimat
ما قدر الله من أمر سأرضاه
Bukan pasrah asal-asalan tetapi penerimaan yang lahir dari kesadaran bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya berada di genggaman kita. Ada wilayah yang dapat diikhtiarkan dan ada wilayah yang hanya bisa disambut dengan hati yang lapang.
Refleksi dari kalimat ini mengingatkan bahwa manusia sering terjebak dalam ilusi kendali. Kita menyusun rencana, menghitung peluang, dan menata langkah, seolah semuanya akan berjalan sesuai desain pribadi. Ketika realitas berbelok, kegelisahan muncul karena benturan antara kehendak kita dan kehendak yang lebih besar. Dalam momen seperti itu, kalimat ini terasa seperti pintu udara yang membuat napas kembali normal. Ia mengajarkan bahwa ridha bukan kekalahan. Ridha adalah bentuk kedewasaan spiritual, semacam pengetahuan batin bahwa hikmah tidak selalu hadir di awal.
Sikap ini juga tidak menuntut seseorang mematikan perasaan. Boleh kecewa, boleh lelah, bahkan boleh menangis. Namun setelah itu, ada dorongan lembut untuk berdiri lagi sambil berkata, “Jika ini bagian dari takdir-Nya, maka ada kebaikan yang belum terbaca.” Pada titik itulah hati mulai berlatih tenang. Tentu tidak mudah, tapi setiap usaha kecil menuju ketenangan adalah langkah menuju kekuatan.
Kalimat ini pada akhirnya mengajak Anda menimbang ulang cara menghadapi peristiwa hidup. Apakah semua harus dipahami sekarang juga, ataukah sebagian cukup diserahkan kepada waktu dan kebijaksanaan Tuhan. Menerima tidak berarti berhenti bergerak. Justru dari penerimaan itulah langkah berikutnya menjadi lebih jernih, karena hati tidak lagi sibuk melawan apa yang sudah terjadi.
Eko Puspito (@ekopuspito)















