Jemputlah dia dengan sebaik-baik ketaqwaan. Sebagaimana dia menunggumu dengan sebaik-baik penjagaan
Mushonnifun Faiz Sugihartanto, 2020
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Russia

seen from Maldives
seen from Uruguay
seen from T1
seen from China
seen from Yemen

seen from Germany

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Australia
seen from T1

seen from China
Jemputlah dia dengan sebaik-baik ketaqwaan. Sebagaimana dia menunggumu dengan sebaik-baik penjagaan
Mushonnifun Faiz Sugihartanto, 2020
Perempuan Berjuta Mimpi
Kalau nanti kamu memilihnya untuk menjadi teman hidupmu, maka kamu harus siap untuk menyelaraskan mimpi-mimpimu dengan mimpi-mimpinya.
Kamu sudah tentu punya alasan memilihnya, sebab barangkali alasan terkuat adalah kelak anak-anakmu akan dibesarkan dua orang yang sama-sama memiliki mimpi yang kuat, agar mereka kelak menjadi pribadi yang kuat.
Kamu harus tahu, bahwa dia barangkali tidak seperti kebanyakan perempuan. Dia yang tetap tak kenal menyerah dengan mimpi-mimpinya sekalipun tanggungjawabnya kini telah bertambah. Dia yang akan tetap memperjuangkan walau rasa-rasanya kemungkinannya 1 berbanding sejuta.
Nanti, kamu harus siap menjadi pundak pertama bagi dia. Saat ada air matanya yang tertumpah manakala ia gagal. Kamu harus menjadi yang pertama mengucapkan selamat untuknya saat ia berhasil. Kamu harus menggenggam erat tangannya saat ia mulai menapaki mimpinya.
Kamu pun harus siap berkorban sebagaimana ia berkorban atas mimpimu. Ia memang tangguh, tapi tetaplah ia seorang perempuan, yang tercipta dari tulang rusukmu yang bengkok. Ia tetap saja membutuhkanmu untuk bersandar, tidak boleh kau lepas sendirian.
Mungkin kelak kamu akan jauh lebih lelah, tapi lihat senyumnya saat nanti kamu membersamainya. Senyum tulusnya untukmu, sebab dalam ketercapaian mimpi-mimpinya, kamu lah yang nanti akan senantiasa diingat olehnya. Dalam setiap mimpi-mimpinya, ada doa untuk anak-anak yang kamu besarkan bersama agar kelak ia menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Dalam setiap jalan terjal mimpinya, ada doanya untukmu yang senantiasa sabar dalam membimbingnya.
Perempuan dengan berjuta mimpi, terdengar penuh ambisi, padahal mimpi itu hakikatnya kelak untuk membuktikan baktinya kepada seseorang yang dia cintai.
Surabaya, 17 11 2020 00.17
Pilihan
Salah satu fase perjalanan hidup yang akan kita hadapi adalah saat kita dihadapkan dengan pilihan. Yang pada akhirnya, hakikat hidup ini, adalah memilih. Memilih yang terbaik menurut kita, bisa jadi memilih yang terbaik menurut orang tua, namun yang pasti, semoga dalam pilihan apapun yang kita putuskan, adalah pilihan yang terbaik di mataNya.
Ada yang hidupnya bahkan tak memiliki pilihan lain, lantas ia bersyukur, maka Allah cukupkan rezekinya. Ada pula yang hidupnya dihadapkan banyak pilihan hingga ia bigung, maka di situlah Allah mengujinya. Barangkali hikmah dari itu semua, terlepas kelak ketika kita tak punya pilihan, atau justru dihadapkan dengan beberapa pilihan, selalu sertakan asma Allah dalam setiap langkah kita, selalu istikharahkan denganNya agar hati senantiasa tenang, dan selalu sebut setiap langkah yang akan kita tuju dalam doa-doa yang dilangitkan.
Mereka yang tak memiliki pilihan, barangkali pada awalnya menjalaninya dengan keterpaksaaan. Lantas kian hari kian menikmati, hingga akhirnya menjadi terbiasa, yang buahnya adalah kesabaran dan keikhlasan. Dari situlah rezekiNya seringkali hadir tanpa menyapa, tiba-tiba, di waktu yang benar-benar ia minta.
Mereka yang memilki banyak pilihan, justru seringkali dihadapkan dengan pilihan-pilihan sulit. Butuh waktu yang lama bagi ia mempertimbangkan, menimbang segala dampak baik dan buruknya, lantas dihadapkan dengan pengorbanan yang harus dilakukan saat pada akhirnya pilihan ditentukan. Pada akhirnya, ini bicara tentang kesiapan dan penerimaan, sampai sejauh mana ia bisa berkompromi terhadap apa yang diputuskan sendiri. Dan tentang rasa syukur yang sudah seharusnya ditasbihkan, sebab tak semua orang memiliki kesempatan untuk memilih.
Kalau suatu hari nanti kita tak punya pilihan, maka ingatlah kisah Ibrahim dan Ismail. Yang tak punya pilihan selain menyembelih yang terkasih. Ingatlah kisah Nuh, yang pada akhirnya harus meninggalkan istri dan anak-anaknya tak turut serta dalam bahtera yang berlayar. Ingatlah kisah Nabi Hud, yang juga meninggalkan istrinya di tengah hujan batu untuk Kaum Tsamud.
Kalau suatu hari nanti kita memiliki pilihan, maka ingatlah bagaimana Habil dan Qabil diberikan pilihan untuk mempersembahkan Qurban kepada Sang Maha Rahman. Ingatlah kisah saat Sulaiman diberikan pilihan, antara ilmu, harta, atau kekuasaan.
Sesulit apapun pilihanmu, setidak-adanya pilihanmu, tak sebanding dengan ujian-ujianNya pada orang-orang terdahulu. Jadi? Tetap tenang. Kamu hanya butuh hati yang jernih untuk berpikir, istikharah kepadaNya untuk mententramkan, dan dukungan dari orang-orang tersayang untuk menguatkan.
Malang, 29 September 2020 09.49
Jika memang benar kelak kita akan dipersatukan, maka maukah Engkau membisikkan kepadaku, Tuhan?
Tentang hal-hal yang nanti akan kulalui. Tak usah semuanya. Hanya beri tahu saja ujian-ujian yang Engkau rencanakan kepada kami. Agar aku mampu mempersiapkan dari hari ini. Aku tahu bahwa sungguh ini mustahil, sebab sama saja aku meminta untuk membuka tabir.
Hanya saja aku takut. Ada banyak kisah teman-temanku yang gagal dalam pernikahan. Yang Kau uji dengan ketidakharmonisan, bahkan hingga berujung perpisahan.
Aku pun khawatir, sebab saat akad terucap, saat itu juga dalam pikiranku, aku telah mencuri mimpi-mimpinya. Aku tahu ia punya impian begitu tinggi, namun ia tentu harus memilih untuk mengabdi.
Jadi, maukah Engkau membisikkan kepadaku Tuhan? Sedikit saja, ya, cukup sedikit. Tak usah banyak-banyak.
Yang Terbaik, Yang Seringkali Tak Diharapkan
Untuk kesekian kalinya hari ini kembali mendapat kekecewaan setelah mendapat jawaban. Ada rasa penyesalan yang mendalam, mengapa dahulu tak begini, mengapa dahulu barangkali kurang mengupayakan, dan berbagai mengapa yang lain yang tiba-tiba muncul begitu saja dalam pikiran.
Betapa sering kita barangkali merasa banyak kejadian dalam hidup ini tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kecewa, mengutuk diri sendiri, marah, hingga menangis untuk menguras air mata, rasanya sebagai manusia normal tentu saja kita pernah melewati fase ini.
Tapi tak jarang setelah itu, justru kita malah bersyukur. Setelah semua terlewati, setelah semua terjadi, banyak ternyata hikmah yang dapat di ambil. Walau sudah tentu barangkali itu lahir setelah kita meneteskan beratus tetes air mata, menguatkan diri yang penuh kekecewaan dan kesedihan, dan fase-fase sulit lainnya.
Kita barangkali sering terjebak dalam fase kekecewaan. Ada yang memilih untuk bangkit, segera melupakan, ada yang sedang berusaha untuk mencari pelarian, walau nyatanya ia tak bisa benar-benar lari. Ada pula yang acuh tak acuh, layaknya hidup yang harusnya mengalir saja, hingga akhirnya hal yang sama justru terulang kembali tanpa ia melakukan refleksi dan evaluasi atas apa yang ia lakukan.
Harusnya kita sadar, kita sebagai manusia memiliki keterbatasan. Sudah tentu yang tahu batasannya bukanlah kita, namun Allah semata. Sering barangkali kita merasa rendah diri, merasa sudah menyerah, padahal kita memiliki kemampuan untuk mencapai limit yang dianugerahkanNya.
Kita juga sadar, bahwa meluaskan hati semoga bisa menjadi obat akan segala kekecewaan. Berprasangka baik kepadaNya juga sudah tentu menjadi hal yang diharuskan. Tenang, yang terbaik memang tak selalu manis, namun justru terkadang atau bahkan sering pahit.
Kita tidak tahu sampai itu benar-benar terjadi dan terlewati. Tetap semangat, tetap berprasangka baik. Lakukan apa yang sekarang bisa dilakukan.
Eden Hörsal, 6 Februari 2020 Mencoba menerima realita akan ketidakmungkinan mengikuti seremoni di akhir Mei nanti.
2019: Tahun Kesabaran
Jika mencoba merangkum tahun 2019, maka cukup satu kata menjadi pelajaran terbesar di tahun ini: Kesabaran
Kesabaran dalam menuntut ilmu di negeri orang, kesabaran dalam menerima segala hasil walau tak sesuai yang diharapkan. Mencoba kembali mengingat di awal tahun, saat ujian itu hadir dengan hasil ujian yang tak diharapkan, yang membuat harus re-exam untuk kali pertama di sini. Kembali diingatkan tentang sabar, bahwa semua pada hakikatnya berproses menjadi lebih baik.
Hingga di bulan-bulan selanjutnya saat mengambil mata kuliah yang membuat nyaris tiap hari pulang di atas jam 9 malam, membuat rasa sabar kembali diuji. Menjalani proses yang benar-benar sakit pada waktu itu, bukan hanya fisik yang lelah, namun mental pun seakan butuh benar-benar istirahat.
Saat memutuskan mengikuti ajakan teman untuk mengikuti kompetisi, maka kembali kesabaran benar-benar diuji, di tengah 2 mata kuliah yang diambil yang sangat padat, kembali walau tak pulang malam karena perkuliahan, namun kali ini karena deadline perlombaan.
Belum cukup sampai di situ, rencana tidak pulang pun harus berubah mendadak dikarenakan berpuluh aplikasi summer job dikirimkan, namun tak ada kabar baik yang diterima. Terlebih kala firasat ini benar tentang kondisi kesehatan keluarga yang ternyata tidak sedang dalam kondisi baik, maka pulang wajib menjadi pilihan, daripada membuat air mata menetes di perantauan.
Kesabaran pun kembali diuji di Arafah, Mina, Muzdhalifah, Makkah dan Madinah. Dari hal-hal kecil masalah visa, vaksin meninigitis, hingga bus yang mogok di tengah-tengah gurun, saat perjalanan menuju Madinah. Termasuk beberapa hari menjelang keberangkatan, yang bahkan pada waktu itu tabungan benar-benar menipis, karena ujian demi ujian yang datang, seakan Dia ingin tahu seberapa teguh azzam ini untuk memenuhi panggilanNya.
Seakan masih belum cukup, maka kesabaran pun kembali diuji kala sekitar 41 aplikasi untuk mengerjakan tugas akhir tak kunjung ada jawaban, bahkan sudah lebih banyak yang tertolak hingga hari ini. Membuat diri ini sempat jatuh se-jatuh-nya. Perasaan merasa paling bodoh (karena se-kelas dapat di perusahaan semua), down, bahkan sempat beberapa hari itu lebih banyak menyendiri, beberapa kali memutuskan tidak masuk kelas dan absen dari grupwork, hanya karena malu saat mendengar teman-teman bertanya se-simpel itu: “Faiz, bagaimana thesismu?”.
Pada akhrinya memutuskan untuk thesis saja di universitas, tidak buruk-buruk amat juga kalau dipikir, dan barangkali semoga memperbesar peluang untuk melanjutkan PhD di sini. Sudah tentu jika di kampus akan lebih diuji lagi kesabaran menghadapi supervisor yang terkenal perfeksionis ini.
Hingga baru kemarin, kesabaran kembali diuji, saat rencana liburan yang sudah direncanakan gagal, hanya beberapa menit saja pintu keberangkatan di bandara sudah tertutup. Membuat diri ini benar-benar berefleksi barangkali masih banyak amanah yang belum tertunaikan, masih ada prioritas yang harus dikerjakan.
2020 tanpa terasa akan segera hadir. Sebentar lagi. Saat roda kehidupan kembali lagi seperti 2016-2017 yang lalu. Saat semua pintu rezeki kembali harus diketuk. Saat kesabaran akan jauh benar-benar diuji. Saat harus bersiap menerima segala keputusan.
Semoga Allah memberi kekuatan. You’re stronger than you think! *self talk*
Lund, 26 12 2019
Komunikasi
Disadari atau tidak, banyak sekali permasalahan yang akar permasalahannya adalah komunikasi. Dari masalah-masalah kecil seperti di dunia kampus dulu, kerja kelompok, thesis, hingga masalah-masalah besar yang belakangan ini terjadi di negeri 62.
Dari kisah teman saya yang menghilang saat skripsi hingga dosennya mencari-cari, atau saat di awal dulu ketika ospek tiba-tiba ada maba yang berhalangan hadir tanpa keterangan yang jelas, atau bahkan saat kepanitiaan, dan acara-acara lainnya. Semuanya seringkali ‘hanya’ perkara komunikasi.
Masalah-masalah rumah tangga seperti kesalahpahaman antara suami dan istri, ayah dan anak, bunda dan anak, juga seringkali karena komunikasi. Sebab itulah barangkali sampai ada program studi komunikasi karena nyatanya bicara tidak semudah yang dikira. Sekalipun kita (alhamdulillah) dikaruniakan olehnya mulut yang bisa berfungsi dengan baik, namun nyatanya kita justru sering tak mampu mengungkapkannya.
Saya pun termasuk menyadari bahwa hal ini tidak mudah. Terutama dari seni memahami itu sendiri. Pernah suatu saat tidak mengontak orang tua saat weekend seperti biasanya, lantas tiba-tiba ditanya ada apa. Atau bahkan terlalu sering mengontak juga tak luput dari pertanyaan ada apa.
Dari situ saya memahami bahwa pada setiap komunikasi akan selalu menimbulkan persepsi. Barangkali inilah yang membuat manusia seringkali tidak siap. Contoh simpelnya adalah ketika kita diam dikira marah, banyak omong dikira bacot, telat menanggapi dikira tidak peka, dan lain sebagainya.
Akhirnya wajar jika pada akhirnya ketidaksiapan itulah yang mungkin membuat orang memilih menghilang. Takut begini, takut begitu, takut mendapat respond buruk. Ketakutan-ketakutan itulah yang bahkan sering menimbulkan masalah yang jauh lebih rumit.
Maka dari situlah saya mengambil pelajaran kembali, bahwa betapa penting ajaran untuk selalu berprasangka baik. Betapa penting ajaran untuk senantiasa bermuhasabah, merefleksi diri. Karena bisa jadi apa yang kita dapatkan dari komunikasi itu sendiri, adalah refleksi bagaimana kita berkomunikasi di masa lampau.
Bisa jadi saat kamu mencoba berkomunikasi, namun tak ada tanggapan, atau justru mendapat tanggapan yang berlebihan, itu adalah ujian, agar kita senantiasa berprasangka baik. Kembali saya belajar bahwa tidak semua orang mampu mengkomunikasikan apa yang dalam angannya dengan baik. Ada yang sangat terbuka, ada pula yang tertutup. Lagi-lagi seni memahami menjadi semakin rumit di sini, dan dari situlah kita harus senantiasa belajar tanpa henti dan tanpa kenal lelah. Karena nyatanya, bicara tak semudah membalik telapak tangan.
Lund, 18 Oktober 2019 Almost one month.
Jika kata memang tak lagi mampu menggapai rasa, maka biarlah doa yang menyampaikannya. Walau itu berarti ketidakpastian akan semakin nyata, dan biarlah Dia yang nanti menggapaikannya.
Mushonnifun Faiz Sugihartanto, 2019