Fasisme ada di dalam diri kita, wahai tuan dan nona.
[Workshop | 15:30 | 7 April 2016]
Kami terlibat percakapan singkat dengan seorang pendidik dan researcher di bidang sejarah. Pengalamanya di bidang tersebut tidak kurang dari 15 tahun, khususnya mengenai kasus 1965. Saat ini dia adalah seorang bipartid, entah apartid atau mungkin multipartid antara negara indonesia dan australia. Seorang wanita berdarah bali yang mendapati kesulitan dalam berkewarganegaraan. Pasalnya, dia akan menikahi pasanganya yang berbeda kewarganegaraan. “Aku tidak peduli orang berkata apa, demi menjalani kehidupan berkeluarga jika memang aku harus menanggalkan kewarganegaraan kenapa tidak?” Begitu pungkasnya. Aku bersilang tangan.
[Warung Kopi | 19:58 | 5 April 2016]
Segerombolan wanita muda datang ke tempat kami. Dua diantaranya berkulit putih dan berperawakan beda dengan etnis indo-china. Kemudian kami bertanya apakah mereka ingin minum kopi, lalu mereka menjawab “ya”. Kemudian kami menyeduh kopi sesuai pesanan mereka. Ah ternyata, dua orang wanita cantik itu tidak dapat berbahasa indonesia.
Mereka bilang “kami berasal dari australia sana, melbourne tepatnya.” Lalu kami bercakap-cakap, tidak banyak tapi sedikitnya kami tahu apa maksud mereka mendatangi warung kecil di bilangan jendral sudirman yogyakatra itu. “Bisakah kamu mengajari kami tentang bagaimana bebisnis kopi yang baik?”.
[Kurir | 17:21 | 7 April 2016]
Cuaca cerah sekali siang ini. Jarum jam menunjukan pukul dua siang. Aku lupa, seharusnya siang ini aku mengirim sebungkus kopi pesanan dari kabupaten cepu. Tak lama kemudian aku bergegas mengambil barang lalu berangkat ke kantor kurir pengiriman. Syukurlah jadwal terakhir pengiriman masih sempat aku kejar. Setelah itu aku kembali ke workshop tempat aku bekerja. Rupanya perempuan bali itu pun sudah berangkat menuju workshop dari kediamanya. Rasanya akupun harus segera ke workshop, dia bukan perempuan yang terbiasa dengan keterlambatan pikirku.
[Hangspot | 23:42 | 6 april 2016]
“Kita itu berawal dari jalanan! Semua sama dan setara disini, tidak ada bos atau karyawan. Jadi kamu juga mesti merasa memiliki, anggaplah tempat ini miliknu sendiri, ini panggungmu bung!!” Begitu kiranya dia berucap, memang ada benarnya walaupun ia sedang dalam pengaruh oplosan cola-whisky. Begitulah ia, kawan laki-lakiku yang kerap mendadak bijak ketika sedang mabuk.
[Kost | 02:12 | 8 April 2016]
“Kau mungkin tak selalu mampu memaksakan kehendak. Jika memang ia lupa, biarlah begitu jangan dipaksakan. Entah itu janji atau tuntutan, kau sudah berusaha sejauh ini. Mencoba mananamkan secercah cahaya untuk menerangi keinginanya, walau ia lupa. Dia hanya seorang manusia, begitupun dirimu.”
Sajak itu terngiang di dalam kepalaku, seolah terus mencoba menenangkan diri yang gundah. Semua orang tahu tanggal tujuh, ya ini sudah hari kedelapan di bulan april. Langit sudah terlalu gelap, sebentar lagi bulan dijemput cahaya mentari. Biarlah ia melanglangbuana, terbang kesana-kemari demi menghidupi keluarganya. Melayani mereka yang duduk di kursi terbang itu. Kau tahu ia senang sekali menjalani mimpinya keliling dunia, walau terlihat instan. Hahaha, instan betul seperti kata ibu dosen kemarin. Tapi aku mungkin mencintainya. Kau hanya terlalu tunduk pada orbital frontal cortex dalam otakmu. Akui saja. Wahai aku disisi lain.
[Workshop | 16:17 | 7 April 2016]
Wanita muda itu kemudian menanggapi obrolan tentang bisnis yang kami jalani. “Anak muda umur 20-30 zaman sekarang itu adalah generasi instan. Aku berumur 34 saat ini, 10 tahun tenggat umur kita. Apakah kau merasakan hal yang sama? Bahwa generasi kita serba instan?”. Kami tak mampu menjawab, kami sadar itu sebuah tamparan buat kami. “Kami punya pekerjaan yang settle, dengan itulah kami menggali jam terbang karena kami tahu pekerjaan kami tidak bisa didapat hanya dengan membaca dan menonton video” balas kami.
“Lalu, untuk apa sebenarnya kamu belajar berbisnis kopi kepada kami? Kamu bahkan tidak memiliki background apapun di bidang ini?“ jelas kami.
“Apa kiranya yang bisa aku lakukan disana dengan puluhan prestasiku di negri ini? Menjual sejarah kita kepada orang yang belum tentu mau mengetahuinya?” Jawabnya. “Point-nya adalah, jika kalian merasa bangga dan superior dengan titel profesi kalian itu salah. Sekarang, saat ini, saya bingung. Di australia tidak ada pekerjaan yang tidak dihargai. Maka aku berinisiatif untuk mempelajari apapun diluar konsentrasi bidangku.”
“Sekarang semua orang selalu bangga jika anaknya berhelat ke luar negri entah apa tujuanya. Tapi tidak dengan ibu saya” kami mulai mengerutkan dahi tanda tidak mengerti.
“Nak, untuk apa kiranya kamu berpindah ke sebrang sana. Disini kau dihormati, seorang yang punya dedikasi terhadap ilmu. Bahkan kamu mendidik murid-murid kulit putih itu. Sedangkan disana kau tidak pernah tahu harus menjadi apa” ia menghela nafas. “prestige, right?” Aku bertanya. “You said that”
“Kalian tahu penyakit klise yang sekarang diidap generasi muda? Bahkan aku pun merasa aneh melihat kenyataanya begitu, malah generasi tua yang cenderung diam. Mereka anak muda, berubah menjadi agen-agen yang sombong, sedikit saja mereka tahu ilmunya dengan serta merta mereka bisa berkoar-koar. Siapa yang diuntungkan? Tidak ada, mereka merugi!”
Kami hanya sanggup mengangguk
“Kalian tahu, ketika kalian berbicara tentang nasionalisme buta kemudian kalian merasa paling memiliki lalu tercipta superioritas atas dasar hal itu. Hati-hati, kalian berubah menjadi seorang facist! Kau bisa menggunakan apapun untuk menjual produkmu, tapi ingat, idealisme hanyalah alat”
Kami berubah menjadi mahasiswa sesaat, lalu kami bertanya “Apakah fasisme yang kau katakan sama halnya dengan mereka para ekstrimis berkedok agama? Menjual agama untuk kepentingan kelompoknya sendiri? Merekalah yang jadi alasanmu berpindah ke negara lain agar dapat menikahi pasangan wanitamu, bukan begitu?”
Ia hanya mengangguk, raut mukanya tidak berubah. Begitu mengesankan. Hal yang membuat aku berpikir dua kali untuk mengalah pada sisi melankolisku. Ya kawan, rona aura perempuan ini begitu tegar.
“Sekarang kalian mengerti untuk apa aku rela pulang pergi aussie hingga akhir tahun nanti?” Tegasnya mengakhiri percakapan.
[Kost | 04:10 | 8 April 2016]
Selamat jalan dan terima kasih wanita lesbian penjelajah sejarah, selamat berbahagia denganya nanti.
Dan kau, hei kau di timur sana, aku rindu ingin bertemu. Lekas pulang, aku lelah berpura-pura tegar. Apa aku harus meninggalkan semuanya dan berkeliling dunia bersama denganmu? Seperti apa yang mereka lakukan saat ini?
@fadildalamcatatan April 2016