Hai, coba lihat langit malam ini. Bagi kalian yang sedang ada di luar, di dalam rumah, dalam pelukan kekasih, pelukan tangis kenangan, pelukan tangis sepi atau pelukan diri sendiri yang memilukan. Tengadahkan pandangan kalian ke atas, lihat bintang yang tersebar luas meski tak banyak, lihat bulan yang sisa setengah meski ia selalu tabah, bahwa yang dianggapnya hanya matahari, tetap dia abadi. Untuk kalian yang tertinggal, tak apa. Aku juga begitu, kemari, ayo duduk bersama, mau seduh kopi atau teh? Bukan masalah, ceritakan segalanya yang menyakitkan, umpat seseorang yang selalu mengatakan “tenang saja, pada halnya tangis dan tawa tipis bedanya.” Bulshit kan. Nyatanya, kita, oh maksudmu aku dan kamu, tidak benar-benar bisa menerima nasehat itu kan? Kita hanya perlu satu, pelukan.
Kalian sudah lihat langit malam ini? Cantik bukan?
Seseorang di sampingku protes, “langit gelap, bercahaya bintang dan bulan. Jadi ini hiburanmu? Kek anak kecil,”
“diam, pergi jika tak suka.” Belaku
“kali ini apa? Penyihir? Sapu terbang? Kali ini apa yang ada di otakmu, hah?” dia sangat menjengkelkan.
“bukan, hanya alam yang cantik.”
“aku pintar kan?” nilaiku pada diri sendiri. Dia menunjukkan ekspresi protes, mengusap rusuh rambutku. “Resek deh,”
Dia terkekeuh, mengambil handphone di saku hoodienya, mengarahkannya ke atas. Siap memotret langit, “yes, cakep.” Ucapnya setelah itu. Aku mendekat, mengintip hasil potretannya. “Eh, apasih nih anak kecil,” dia menjauhkan handphonenya padaku.
Aku manyun, “ish, pelit. Lihat gak, aku tuh mau lihat.”
“gak usah,” dia menutup handphonennya, ditelakkannya sedikit jauh dari tempat duduk kita, menyentuh kepalaku lembut, mengarahkannya ke atas, “lihat,” diam beberapa detik, “camera yang paling indah adalah mata.” Aku seketika tersenyum, dia melepaskan tangannya, dan berakhir mengacak rambutku. Dasar resek.
“aku punya permintaan.” Ucapnya,
“jangan bosan buat nulis ya, aku selalu suka dengan tulisanmu.” Jelasnya, tersenyum setengah bibir.
Aku tertawa, “ada maunya nih pasti... kena setan dimana, tiba-tiba muji. Biasanya cuman menghujat.”
“latte sore, judul di bukumu. Cinta pada dasarnya panjang umur, meski kau berusaha untuk menghapusnya bahkan melupakannya, tapi cinta pada dasarnya tetap akan ada halam hatimu. Begitu kata Sam,” dia menatapku, tatapannya tidak seperti biasanya, ada binar di matanya.
Aku menahan tawa, menutup mulutku dengan telapak kananku, berakhir memukul lengan kirinya keras, panas. “Setan dari mana, namanya siapa? Tinggal di pohon mana, asem ya, apa mangga yang ada di ujung jalan sana.” Aku tertawa geli, bangkit dari tempat dudukku.
Dia melengos, menatapku yang sudah selangkah jauh darinya, “kamu yang nulis sendiri, kalau cinta itu panjang umur. Kenapa kamu sendiri gak percaya.”
Aku berhenti, masih memunggunginya, “bodoh.” Ucapku, membalikkan badan, menghadapnya,
Dia mengangkat kakinya ke atas kursi, menekuknya. “Penulis? Tulisanmu seharusnya jadi healing untuk dirimu sendiri,”
“itu hanya tulisan, kamu tau? Hanya tulisan, gak lebih. Berhenti mengatakan aku harus sembuh dan bla bla bla. Kamu bukan aku, gak pernah tau sakitnya.” kata-kataku sumbang, kacamataku basah, aku menangis.
“kamu salah, tulisanmu bernyawa. Diluar sana, tulisanmu mengubah mereka yang sakit, mereka yang tak percaya cinta, mereka yang patah, aku yang gila, bahkan yang tidak kamu ketahui.” Ucapannya sedikit keras, memekik hati.
Aku tersenyum kecut, “bodoh, itu hanya tulisan. Seperti halnya kamu yang gak percaya penyihir dan sapu terbang, akupun begitu, itu hanya tulisan. Tidak merubah apapun, tidak sama sekali.” Aku melepas kacamataku yang mengembun, “berhenti memintaku sembuh, mau aku tetap menulis atau tidak, tidak berpengaruh sama sekali dengan hidupmu.”
“aku hidup karena kamu menulis.” Sentaknya berdiri. Aku kaget, bukan dengan suaranya, tapi apa yang diucapkannya.
“bodoh, berhenti berharap apapun, berhenti mengucapkan segala hal yang kosong.” Ucapku yang tak kalah kerasnya, jantungku berdetak tak karuan.
Dia mengambil nafas berat, “apapun itu, aku cuma berdoa pada Tuhan yang aku percayai saat ini, untuk segera mengakhiri segalanya yang menyakitkan bagimu.” Aku tersenyum tipis, menatapnya dan segera pergi dari percakapan yang tak ada guna, meski hatiku menyebut nama Tuhanku, memintanya untuk segera mengakhiri takdir yang memuakkan ini, menyadari bahwa Tuhan yang aku sebut berbeda dengan Tuhanmu. Langit malam ini, cantik.