Ketahuilah bahwa dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Kalau dia baik, maka seluruh jasadnya baik. Namun apabila dia rusak, maka seluruh jasadnya rusak. Ketahuilah itu hati.
HR Bukhari (52) dan Muslim (4178)
seen from China

seen from Australia

seen from Malaysia
seen from China
seen from China

seen from Norway

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Poland

seen from United States
seen from United States
seen from Russia

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Mexico

seen from Ecuador
Ketahuilah bahwa dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Kalau dia baik, maka seluruh jasadnya baik. Namun apabila dia rusak, maka seluruh jasadnya rusak. Ketahuilah itu hati.
HR Bukhari (52) dan Muslim (4178)
"Wahai Allah yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada dien(agama)-Mu" HR. Tirmidzi, Ibnu Majah & Ahmad
Hadits tentang “tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” merupakan hadits yang tidak benar. Hadits ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Abdullah bin Abi Aufa radhiallahu ‘anhu. Hadits ini juga disebutkan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, 1:242. Teks haditsnya,
نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، ودعاؤه مستجاب ، وعمله مضاعف
“Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan, dan amalnya dilipatgandakan.”
Dalam sanad hadits ini terdapat perawi yang bernama Ma’ruf bin Hassan dan Sulaiman bin Amr An-Nakha’i. Setelah membawakan hadits di atas, Al-Baihaqi memberikan komentar, “Ma’ruf bin Hassan itu dhaif, sementara Sulaiman bin Amr lebih dhaif dari dia.”
Dalam Takhrij Ihya’ Ulumuddin, 1:310, Imam Al-Iraqi mengatakan, “Sulaiman An-Nakha’i termasuk salah satu pendusta.” Hadits ini juga dinilai dhaif oleh Imam Al-Munawi dalam kitabnya, Faidhul Qadir Syarh Jami’us Shaghir. Sementara, Al-Albani mengelompokkannya dalam kumpulan hadits dhaif (Silsilah Adh-Dhaifah), no. 4696.
Oleh karena itu, wajib bagi seluruh kaum muslimin, terutama para khatib, untuk memastikan kesahihan hadis, sebelum menisbahkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita kita boleh mengklaim suatu hadits sebagai sabda beliau, sementara beliau tidak pernah menyabdakannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memperingatkan,
إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Sesungguhnya, berdusta atas namaku tidak sebagaimana berdusta atas nama kalian. Siapa saja yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaknya dia siapkan tempatnya di neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)
Allahu a’lam.
"Di antara nilai kebaikan Islam seseorang (apabila) dia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya."
(HR Tirmidzi (2314) & Ibnu Majah (3976))
Dari Abu Hurairah ra., Rasul bersabda: ‘Kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman dan kamu tidak beriman hingga kamu saling mencintai (karena Allah). Apakah kamu mau jika aku tunjukkan pada satu perkara jika kamu kerjakan perkara itu maka kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kamu (HR Muslim)
Sesungguhnya hari yang paling utama adalah hari Jumat, maka perbanyaklah membaca shalawat untukku pada hari itu karena bacaan shalawatmu pasti disampaikan kepadaku (HR Abu Dawud)
Mudahkanlah, jangan mempersulit, dan jadikan suasana yang bahagia, jangan menegangkan (HR Muslim)
Perumpanaan orang yang mempelajari ilmu tetapi tidak menyampaikannya, seperti orang yang menyimpan harta tetapi tidak membayarkan zakatnya (HR Ath-Thabrani)