Bukan main rasanya, pikiran seolah-olah dipaksa berpikir lebih jauh, merenungi apa yang memang seharusnya direnungkan. Tazkiya seperti dibuat pusing oleh pemikirannya sendiri, dibuat sadar betapa dirinya sangat lemah, dangkal, dan miskin. Sementara dia masih tertawa, "Hahaha", menertawakan dirinya, kehidupan, dan entah apa yang dia tertawakan.
Dalam perjalanannya mengarungi samudera kesadaran maupun ketidaksadaran berpikir, Tazkiya mengaku bahwa dia mencintai lautan, daratan, pegunungan, kehangatan, dan kesejukkan dunia. Pikirannya yang lain mencoba berbisik, pelan tapi menusuk, "tapi kamu tidak bisa menikah dengannya". Sedangkal persepsinya, menikah itu berarti bersama, mencintai dengan sebuah ikatan, menikah dan bersama sampai akhir hayat bisajadi keinginan banyak manusia. Tapi lautan, daratan, pegunungan, dan yang sejenisnya tidak bisa dijadikan pengantin. Mereka akan meninggalkan kemudian menertawakan.
Ditengah pergulatannya, Romli datang membawa Novel "Si Anak Cahaya" karya Tere Liye. Kebetulan buku itu yang dicari-cari dan diinginkan oleh Tazkiya. Baiklah, sejenak Tazkiya mencoba meredam pergulatan dalam pikirannya, berusaha tetap tenang menghadapi kehadiran Romli yang datang membawa sesuatu tak terduga.
"Eh Kiya, ini buku yang kamu inginkan toh?"
"Iya Rom, itu buku yang udah lama aku tungguin terbitnya. Kok kamu udah punya sihh"
"Hahaha iya nih, kamu ketinggalan! Aku loh udah baca, kataaam" Ucap Romli dengan sedikit mengejek.
"Yaudah aku pinjem ya"
"Gak gratis dong"
"Yaudah aku bayar pakek do'a, do'a itu bisa menjadi segalanya kan?"
"Hahaha. Iyadeh aku pinjemin"
"Aa makasihhh!"
Sejenak Tazkiya melupakan apa yang sebelumnya terjadi, dan saat ini diliputi oleh rasa senang karena bisa membaca buku yang selama ini ia tunggu. Baru satu hari bersama buku itu, baru tiga puluh halaman yang sudah terbaca, masih banyak halaman yang belum terjamah. Dibalik jendela kacanya, Tazkiya melihat Romli mendekat ke rumah. "Wah ada apa lagi nih si Romli" batin Tazkiya.
Belum sempat Romli berada tepat didepan pintu rumah, Tazkiya sudah lebih dulu menyambut kedatangan Romli. "Baru kemarin ketemu masak udah kangen aja! Hahaha" Tazkiya mengejek.
"Pedemu itu tolong dikecilin ya Kiya! Haha" Romli balas mengejek.
"Ada apa Rom? Aku lihat dari dalem kok kamu jalan kayak cemas gitu, mau nembak? Hahaha"
"Dasar ratunya pede, bakal dipenjara aku kalau sampek nembak orang"
"Apa hubungannya nembak orang, penjara, dan pede?"
"Soal ini aku jawab besok ya, kalau ingat, haha"
"Hahaha, iya deh. Ada apa Rom?"
Romli terdiam sebentar. Suasana hening sesaat.
"Rom!" Tazkiya mengageti, memang Tazkiya, masih suka seperti anak kecil, padahal usianya sudah hampir kepala dua.
"Eh iya, gini Kiya. Kamu kenal Dewi kan?"
"Adekmu kan?"
"Iya. Dewi. Dia tau aku punya buku "Si Anak Cahaya", dan dia ngotot banget harus baca buku itu sekarang. Gimana ya Kiya?"
"Yah, kan baru kemarin novelnya aku pinjem" Ucap Tazkiya kecewa, seperti ingin mempertahankan buku yang belum tuntas ia baca.
"Iya sih, tapi si Dewi juga ngotot banget harus baca buku itu Ki"
"Kok gitu sih Rom..."
"Gapapa kan kalau aku pinjem dulu bentar?"
"Ya gapapa sih, tapi aku belum selesai loh, aku selesain baca dulu dong Rom"
"Gimana ya Ki, hmmm"
Tazkiya diam. Romli juga diam. Keduanya terdiam. Lalu datanglah Tama, kakak Tazkiya. Melihat dua orang saling berdiam diri. Tama angkat bicara.
"Duh ini pada ngapain ya diem-diem bae"
"Romli tuh Kak! Kesel Kiya, buku baru dipinjemin kemarin, sekarang udah mau diambil" Tazkiya langsung menyahut dengan nada ketus,
"Oalah iya to Rom? Emange ada apa kok buru-buru diambil? Lagi butuh ya?" Tama dengan tenang menanggapi, memang dalam banyak waktu Tama mampu menjadi sosok kakak yang bijak. Sementara Tazkiya kembali menunduk.
"Gini Cak, Dewi, adekku itu lagi ada tugas membaca dan meresume novel. Dirumah ada beberapa novel sih, tapi Dewi gak mau karena semuanya udah dia baca, dan yang belum dibaca ya novel yang aku pinjemin ke Kiya. Dewi ngotot gak mau ngeresume novel yang udah pernah dibaca, karena dia mau baca lagi novel yang lain, sesuai tugasnya, membaca dan meresume"
"Oalah gitu to, yaudah Kiya balikin aja sih, lagian itu buku novel punya Romli. Bukan punyamu kan? Kan cuman dipinjemin, gak dikasih, hayo"
Tazkiya sejak tadi merenung, kembali lagi pergulatan pikiran itu terjadi. Buku itu memang yang diinginkan Tazkiya, tapi Tazkiya lupa bahwa Ia bisa membaca buku itu karena dipinjami oleh Romli. Sewaktu-waktu Romli bebas mengambil buku itu. Dalam batinnya, sangat kurang ajar jika dia menolak mengembalikan buku itu.
"Iya deh iya, aku balikin, bentar tak ambil" jawab Tazkiya datar, masih mencoba berdamai dengan emosinya.
Tazkiya kembali dan memberikan buku "Si Anak Cahaya" yang disukainya itu kepada pemilik sejatinya. Romli.
"Maaf ya Rom, gini aja susah banget aku ngembaliin, padahal cuma perkara buku"
"Hehehe, gapapa kali Kiya. Maaf ya, aku bawa dulu. Nanti kalau Dewi udah selesai baca, kamu boleh pinjem lagi kok"
"Iya, makasih Rom, salam buat Dewi ya" balas Tazkiya
Tazkiya memutar badannya menghadap Tama, dengan pandangan merasa sedih pada diri sendiri, dan malu karena tidak tahu diri. Tama memandangi adiknya yang masih mencoba menerima, penerimaan memang perlu proses. Dengan senyum teduhnya, Tama mendekati Tazkiya, memegang pundaknya dan berkata "Kamu lupa ya dek, kesenanganmu saat bisa membaca buku itu membuatmu lupa kalau buku itu bukan milikmu meskipun dalam genggamanmu, tentu saja buku itu akan kembali pada pemiliknya, dan terserah pemiliknya mau meminjamkan buku itu pada siapa saja, yang dipinjami harus menerima", akhirnya Tazkiya menangis, entah apa yang ditangisi, sepertinya menangisi dirinya sendiri. Bukan karena dia gagal membaca buku sampai tuntas, tapi karena pergejolakan dalam pikiran yang sebelumnya ada semakin tidak karuan, semakin memojokkan. Semakin membuat Tazkiya tersadar bahwa dirinya sangat kecil, rapuh, dan lemah.
Tama merangkul adeknya, mencoba memberi kekuatan dan berpesan, "jangan sampai menikah dengan dunia ya dek".