Novel Dilamar Malaikat Maut ..
seen from Netherlands
seen from Vietnam
seen from Netherlands

seen from Canada
seen from Japan

seen from Canada
seen from Macao SAR China

seen from Macao SAR China
seen from United States

seen from United States

seen from Singapore

seen from Singapore

seen from Singapore
seen from Bangladesh

seen from Malaysia
seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
Novel Dilamar Malaikat Maut ..
berfotosintesis dengan perusahaan. waktu-waktu yang terus di cumbui keterpaksaan. kebahagiaan yang selalu di tukar dengan nominal naluri jadi tak masuk akal.
sarapan pagi demi menmenuhi gizi perusahaan, lelah sudah menjadi makan malam kegelisaan. sedikit ingin mengenal tuhan tapi di paksa mementingkan keadaan.
Budi
Awan itu tidak berjalan sendirian, ada angin yang menggandengnya perlahan. Meski angin punya tujuannya sendiri. Meski angin punya gerombolan sendiri. Selalu saja tak keberatan senantiasa menawarkan dekapan pada awan. Mengajak barisan awan dalam rombongannya. Indah sekali interaksi mereka. Sama-sama lembut, saat yang satu memberi dan yang lain menerima.
Siang ini, awan lagi kecang-kencangnya beredar dalam derap angin. Terlihat seperti berlari kecil. Menyusul kawanan awan lain yang sudah lebih dulu beranjak. Sambil perlahan-lahan warna gelap menyelimuti langit. Entah, kelihatannya akan turun hujan.
Di lapisan bawah, angin seperti bersemangat sekali kala ini. Menerobos rerumbunan dedaunan waru sampai beberapa dari daun itu berguguran. Tak ketiggalan, tangkai dan dahan kecil juga ikut disenggol, terlihat dari tempat Budi seakan tangkai dan dahan itu menari jaipong khas orang Jawa Barat.
Iya Budi, Seorang tukang tambal ban yang harusnya dia sudah mulai mengemasi alat-alat tambalnya, karena tempatnya bekerja hanya di tepi jalan. Tanpa ada atap yang melindungi dari hujan. Dia sedang serius sekali mengelus-elus ban becak milik temannya yang tiba-tiba kempes, sambil sesekali menengok perubahan cuaca siang ini.
Belum selesai mengelus ban becak tadi, datang wanita berperawakan sedang membawakan payung untuknya. Sambil menyodorkan payung wanita itu berucap “ ini payungnya, jaga-jaga kalau ntar hujan. Segera pulang ya mas. Ada salah satu anggota ‘Mata Hati’ yang perlu dianter ke klinik.” Terdengar pelan, tapi cukup mengagetkan. “ Barusan dia ngeluh, ada yang ngga beres di matanya.” Ucapan terakhir kepada suaminya. Lantas pergi begitu saja.
Pak Budi menimpalinya dengan senyum ringan. lalu membalas singkat “ yupss”, terdengar renyah. “ Oiya, Tolong belikan bubuk kopi di Bu Par” kalimat itu mengikuti langkah istrinya bertolak.
Selain membuka jasa tambal ban, kala magrib sampai malam beliau jualan nasi goreng di samping pos satpam depan gang. Ditambah lagi, beliau juga memdapat amanah dari warga untuk mengamankan gang tersebut. Semacam petugas keamanan. Jadi, disamping dagang sekalian jaga gang sampai menjelang pagi. Mungkin, bubuk kopi yang dipesan kepada istrinya tadi buat bekal Pak Budi begadang di pos.
Begitu padat aktivitas harian Pak Budi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga agar kompornya tetap mengepul. Pak Budi dikenal masyarakat sebagai sosok pekerja keras. Meski begitu, Beliau juga aktif di paguyupan “Mata Hati” yang fokus di ranah sosial dengan mengurus para difabel. Tambahan aktivitas tersebut membuat Pak Budi harus selalu siap sedia mengurus anggota paguyupan yang sewaktu-waktu perlu bantuan. Sampai-sampai untuk masalah kebutuhan sehari-hari jika mereka lagi kekurangan, Pak Budi akan dengan senang hati membantu.
Baik sekali Pak Budi ini. Tidak pernah malu untuk menawarkan pertolongan kepada siapa saja. Lewat apa yang beliau bisa berikan, walaupun sederhana, mungkin akan memberi makna yang luar biasa kepada yang menerima. Kebaikan perangai Pak Budi selaras dengan namanya. Singkat, tapi cukup untuk menggambarkan corak sifat. Berbudi.
Sementara itu, seperti kata pepatah, dibalik suami hebat ada istri yang setia. Istri Pak Budi adalah sosok yang selalu menguatkan langkah beliau, memupuk asa ketika semangat layu, dan membagi alternatif ketika sedang buntu. Di balik kesibukan beliau, selalu saja istrinya menaruh perhatian dengan cara-cara sederhana semisal membawakan keperluan suaminya, menyiapkan bekal, dan menjaga rumah tangga tetap tentram.
Seperti awan dan angin yang selalu bergandeng tangan menyelimuti bumi. Pak Budi dan istri selalu bergandeng tangan menyelami kehidupan. Tidak dalam rangka membandingkan siapa yang lebih super. Tetapi saling memupuk, memberikan dukugan untuk siapa yang lagi membutuhkan. Sama-sama mau mendengarkan. Sama-sama mau memberi kepercayaan. Satu komitmen mengkolabirasikan mimpi, meski kehidupan ekonomi pas-pasan saja.
Begitulah kehidupan Pak Budi yang bersahaja dengan selalu berbagi dengan sesama.
-zoom
DILAMAR MALAIKAT MAUT - Bab 9 - Wanita Murtad (on Wattpad) https://my.w.tt/EIIg1jMKB2 Langit terlihat kusam diantara teriknya mentari menyengat jiwa dan meruntuhkan tebing es yang tersimpan diantara hati yang semu, gelap akan cahaya.. Ingin rasanya aku berteriak dan menangis sekuatnya Untuk meruntuhkan hasrat semu yg begitu mencekam Aku semakin tak mengerti akan semua ini Haruskah aku berlari diantara titian kecil tanpa arah itu...? Ataukah aku harus bertahan meskipun ku tahu Nyawa ini akan menjadi taruhannya..? Semua semakin tak terfikir olehku Kulihat di ujung jalan itu, Mereka yg tersenyum diantara pesakitan mulai menyapa ku dan bercengkrama halus, seakan mereka tahu apa yg kupikirkan Mata sayu dan penuh harap itu semakin bertanya-tanya, dari tatapan mataku hasrat yg semula ku anggap benar, kini semakin membuatku tak mengerti akan semua ini,, Ya Tuhan, ingin rasanya aku menghilang pergi secepat kilatan petir dan tak dikenal siapapun, mungkinkah ini jalan hidupku...?? *"Maaf seandainya hari ini, Aku telah di lamar oleh MALAIKAT MAUT dan besok aku akan menikah dengan KEMATIAN. Mungkin lusa, aku akan bercerai dengan dunia yang aku kejar....! Mahar ku adalah SEKARAT. Persalinan ku adalah KAIN KAFAN. Pelaminan ku di wangikan dengan GAHARU CENDANA. Aku akan di arak dengan LAUUUUNGAN ADZAN. BerAKADkan TALAKIN. BerWALIkan LIANG LAHAT. BerSAKSIkan BATU NISAN. Pada malam pertamaku akan di serikan dengan persoalan MUNKAR DAN NAKIR."*