Kipas Angin, Lampu dan Penerimaan.
Aku di sini, tempat yang baru, LAGI. Bertemu kondisi baru dengan segenap keasingan yang membersamainya. Sebuah camp dengan konsep tempat tidur susun 2, yang dihuni 4 orang per kamar.
Sebagai orang yang paling terakhir tiba, hak memilih tidak berlaku lagi, termasuk kamar dan tempat tidur karena yang tersisa adalah auto milik. Tempat tidur teratas, 70cm dari bohlam, 30cm dari kipas angin adalah 2 kondisi yang paling sulit untuk kurangkul damai namun disaat yang sama menjadi 2 hal yang paling di butuhkan 3 orang teman-teman di kamarku.
Lampu yang tetap benderang hingga malam buta, kipas yang selalu berangin didingin gelap, dibonusi lagi dengan kipas yang begitu konsisten arahnya, tak berkenan untuk berputar kemana-kemana. Belum lagi gerakan badan yang harus terkontrol, membersihkan tempat tidur bukan hal leluasa yang bisa dilakukan, bahkan guling-gulingpun harus dengan ketenangan, ada orang-orang di bawah kita yang akan terganggu.
Betapa hari-hari pertama yang lumayan sulit diadaptasi, apalagi lazimnya pertemuan awal orang-orang akan memasang tameng-tameng pembatas zona aman dan nyamannya masing-masing. Orang baru dan orang yang sangat baru itu mempunyai ruang yang berbeda tak peduli soal hak setara.
Aku bahkan dapat insiden penyambutan di hari pertama datang, koperku yang belum sempat di lemarikan isinya harus diseret paksa ke bawah tempat tidur, disertai ekspresi tak menyedapkan. Secara alamiah kita akan terkontaminasi frekuensinya sampai sempat mikir yang negatif-negatif juga.
Pada kipas, akhirnya aku lakban agar arahnya tak tertuju persis di pembaringanku dan mereka mengerti, pada lampu yang memang harus tetap nyala akupun menerima, jika memang sudah terasa sangat terganggu, aku menghalangi cahanya dengan bantal.
Tapi yang ingin kubagikan bahwa kondisi seperti ini biasanya hanya ada di awal-awal dan itu normal, its okey guys. Kadang kita perlu mengasingkan diri, bertemu suasana baru dengan segenap keasingannya agar belajar sudut pandang baru dan mengasah penerimaan, yang perlu kita siapkan adalah kemampuan menahan atau menata pikiran, kata, dan sikap kita dalam merespon. Tahan untuk serta merta memberikan penolakan atau penyerangan. Beriring hari, cari celah lain untuk berdamai dengan kondisi, bukan mengalah kita hanya perlu mencari strategi win-win.
Barangkali di tempat lain, di cerita berikutnya kita justru bertemu kondisi yang lebih rumit, maka baiknya kita mulai melatih penerimaan kita sebelum menuntut penerimaan orang lain.