Menjadi Hamba, Bukan Sekadar Orang Baik
Kita sering berusaha menjadi orang baik.
Baik di mata keluarga. Baik di mata teman. Baik di mata orang-orang yang mengenal kita.
Tentu itu bukan hal yang buruk. Tetapi kadang, keinginan untuk terlihat baik bisa membuat kita lupa tujuan yang lebih dalam.
Kita bukan hanya diminta menjadi manusia yang dipandang baik. Kita diciptakan untuk menjadi hamba.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini mengembalikan kita kepada tujuan paling dasar.
Hidup bukan sekadar tentang bagaimana manusia melihat kita. Hidup adalah tentang bagaimana kita berdiri di hadapan Allah dengan amanah yang telah diberikan.
Orang baik bisa masih mencari penilaian manusia. Hamba belajar mencari ridha Allah.
Orang baik ingin dikenal lembut. Hamba takut lisannya melukai, meski tidak ada yang menyaksikan.
Orang baik merasa cukup karena tidak menyakiti orang lain. Hamba tetap memeriksa hatinya: apakah niatnya jujur, apakah shalatnya dijaga, apakah hak Allah tidak ia lalaikan.
Menjadi hamba berarti sadar bahwa semuanya titipan.
Waktu titipan. Ilmu titipan. Pekerjaan titipan. Keluarga titipan. Bahkan kesempatan untuk bertaubat pun titipan.
Dan setiap titipan akan ditanya.
Maka jangan hanya ingin tampak baik. Mintalah kepada Allah agar dijadikan hamba yang benar.
Hamba yang sadar diri. Hamba yang takut zalim. Hamba yang tetap pulang meski berkali-kali jatuh.
Semoga Allah tidak menyerahkan kita kepada pujian manusia, lalu kita lupa memperbaiki diri di hadapan-Nya.












