Komunikasi produktif - Jangan
Assalamu’alaikum semuanya, alhamdulillah aku hari ini ngerapel tugas wkwk. Akhir minggu ini tuh peak season banget buat aku yang lagi ngejar rekapan dan kirim2 buku jualanku. Jadi sekarang lagi agak lowong dan here we are hari ke7 tantangan zona3 di kelas bunda sayang.
Hari ini aku mau cerita tentang pola komunikasi aku sama zidan. Sebelumnya aku punya mindset nih, kalau melarang anak itu ya wajar aja ya. Dalam setiap hal kalau memang itu tidak sesuai ya bilang aja “jangan atau tidak boleh”. Karena anak harus paham mana yang jelas, jelas boleh dilakukan dan jelas tidak boleh dilakukan.
Tapi setelah kata larangan, aku selalu sampaikan WHY nya. Kenapa ya tidak boleh melakukan hal itu, tentu dengan bahasa khas toddler yang harus mudah dimengerti dan tidak bertele2 (padat). Belajar lagi kan nih kita tentang pola2 komunikasi yang efektif.
Misal nih ya, zidan lagi lari2an di batu2an (permukaannya tidak mulus) terus dia jatuh berdarah dan nangis. Gimana kira2 respon nya buibu? hehe.
Aku selalu ingat2 untuk memvalidasi dulu perasaannya dan apa yang dia rasakan. Kayak “Zidan sakit? sakit dek? sini mana yang sakit? ini yang sakit?” lalu aku usap2 dulu bagian yang sakit, dan aku selalu bilang “Ya Allah tolong sembuhan zidan, aamiin” sambil ditiup ke lukanya. Nah biasanya abis itu dia mulai agak tenang. Terus aku bilang lagi “gapapa, hati2 yaa jalannya zidan jangan lari2an di batu ini ga datar kamu bisa jatuh”
Nah tapi kadang juga langsung bilang “duh makanya zidan gaboleh/jangan lari2 kalau di batu2an, ngga datar nih bisa jatuh” sambil nada kesal 😅
Terus kalau diingat2 kok ya hampir semuanya larangan jangan atau gaboleh meski setelahnya ada alasan kenapa nya wkwk.
Sampailah pada suatu waktu scroll nemu postingannya @quranreview di IG bahas tentang selembut sayang, bisa baca disini
Waaaah langsung ngejleb buanget
Mana disitu contohnya ibuk retnohening sama anaknya, kirana pula. Disitu dibahas juga ayat yang serupa, untuk mengganti kata jangan dengan pertanyaan.
daripada kita bilang “jangan coret2 di lantai dong, kotor kan” kita ganti aja jadi “kenapa kok coret2nya di lantai bukan di kertas?”
waaaaahh inisih emang harus belajar banget untuk mengubah diksinya :”) masya Allah karena sebegitu impactful nya ya pemilihan kata2 tuh, apalagi di anak yang otaknya lebih besar menyerap emosi lawan bicaranya.
SEMANGAT semoga Allah mampukan kita :”)
Maghfira Fauzia - IP Bekasi - 4220121406