Bukankah cinta adalah anugerah terindah karya Tuhan? Lantas mengapa harus kau sembunyikan genggaman tanganku, seolah cinta yang kita punya serupa aib yang mampu menghancurkanmu jika mereka tahu?
Rizki Adhilia

seen from United States
seen from Singapore
seen from Brazil
seen from Yemen

seen from Indonesia

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from Spain
seen from Spain

seen from United States

seen from United States
Bukankah cinta adalah anugerah terindah karya Tuhan? Lantas mengapa harus kau sembunyikan genggaman tanganku, seolah cinta yang kita punya serupa aib yang mampu menghancurkanmu jika mereka tahu?
Rizki Adhilia
Sanggupkan
Kau ciptakan perbedaan yang memecah saling terbelah padahal Kau adalah satu.
Ketahuilah, Tuhan. Jemari kami kini saling mengunci. Kami berjalan bersama walau tahu tuju takpernah serupa. Kami bahagia, namun tidak utuh. Kami saling menjaga, namun tidak merengkuh.
Beda ini bagai jemalin benang yang kusut. Cinta kami memang terhubung, namun takpernah sampai. Tidak benar-benar tergenggam.
Selalu ada kata tidak, harus diselingi kata namun, pasti terselip kata tidak pernah. Pada setiap kalimat yang harusnya menjadi indah dengan sempurna jika tanpa mereka.
Kami memang penipu. Akibat cinta yang diliputi drama berkepanjangan, kami jadi pandai memainkan peran. Tersenyum saat bahu bersisian, padahal senyum hanyalah topeng peredam erang tangisan.
Tuhan. Kemana langkah kan membawa kami? Iyakah genggaman manis kan segera terlepas dan melerai? Jika terlerai, mampukah jemari ini membasuh airmata yang mengalir bagai anak sungai?
Sesungguhnya apa yang sedang kami tanam, hanya luka yang akan tertuai. Sesungguhnya senyum yang pernah kami toreh, hanya tangis yang nanti akan kami dengar setelahnya.
Kapan Kau sudahi kami, Tuhan? Sanggupkan jika aku dan dia telah mencapai ujung yang sudah Kau tentukan.
Rizki Adhilia. 11:11 am. Tuesday, June 23. 2015
Selamat pagi, Tuan. Terimakasih sudah dengan sabar menungguku solat tarawih malam tadi. Jangan lupa sarapan dirumah, kudengar untuk sebulan ini kantin tidak akan buka. Kau harus makan, ya. Karna kalau kau sakit, nanti aku rindu senyummu.
Rizki Adhilia
Kunamai Ini .. Tanpa Nama.
Tuhan itu satu . Cuma cara kita sayang sama Tuhan aja yang beda.
Tuhan itu sama. Cuma cara kita memanggil-Nya aja yang nggak serupa.
﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏
Tuan.. Tasbih atau salib. Al-Qur'an atau Alkitab. Pendeta atau penghulu. Janji suci atau akad nikah. Mengaji atau menyanyi. Tengadah tangan atau lipatan jemari. Cinta tidak pernah mengenal beda.
Aku mencintaimu, namun tidak sebesar aku mencintai Allah-ku. Kau menjagaku, namun tidak sedahsyat ketika kau menjaga agama-mu.
Ya, memang begitu. Ini perihal benteng yang dibuat Tuhan. Tangan-tangan lemah kita tidak akan mampu meluluh-lantakkan ia. Jika bukan Tuhan yang bekerja, melerai jemalin kusut perbedaan kita. Tak akan pernah kita temukan tuju. Tak akan mungkin ikatan kita menjadi padu.
Saat ini. Berjalan saja, mengikuti kemana arah membawa kita. Walau bahu tidak benar-benar menyentuh. Walau jemari tidak saling bertaut satu. Kemana kita akan sampai? Siapa yang tahu. Biar rahasia tetap bungkam, jangan dibiarkan berbicara.
Jika memang garismu dan garisku akhirnya bersua pada satu titik. Tanpa ada lagi batas, tanpa ada lagi beda yang menyingkirkan kita dengan buas. Maka benar kita adalah tempat sepasang hati ini berpulang. Namun jika nyatanya kita tidak pernah menemui titik itu, sudah tersedia rumah yang sebenarnya untuk hati ini menetap.
Setidaknya kini, kita pernah saling membahagiakan. Bagai pelangi yang membuat langit tersenyum setelah kepergian hujan.
9:52 pm. Thursday, June 4. 2015.
Rangka Cerita.
Jangan dibaca! Nanti kau bosan. Percayalah sedang tidak bercanda! ✌
———————— ——————— ———————
Sudah lelapkah kau, Tuan? Oh iya, aku lupa! Baru saja kau yang menyuruhku untuk tidur lantaran dirimu pun sama lelahnya denganku dan ingin segera tidur juga.
Kemarin. Senin malam, ketika kita bergegas berangkat menuju kota yang terkenal dengan nikmat terasinya guna menjenguk kerabat kerja, cerita kita memulai kerangkanya. Perjalanan ini tidak sama dengan pradugaku. Langkah cinta rupanya sangat jauh hingga apa yang dilewati pun tak seperti angan yang sudah kutata rapi sebelumnya.
Ditengah perjalanan saat kita mulai lelah berbicara dan mengitari canda. Ruang pengap mobil yang penuh dengan makhluk Tuhan ini menjadi hening. Hanya terdengar derap keras beberapa lagu yang entah seperti apa bunyi dan liriknya. Kita sudah taklagi peduli.
Hari itu, badanku cukup menyulitkan. Mungkin kelelahan, hingga penyejuk yang menyisir seluruh bagian dalam mobil terasa begitu menusuk. Mataku terpejam, namun tubuhku bergetar tak mau diam. Dalam kesenyapan, kau menyodorkan jaketmu lantas menyelimutiku. Pakai jaketku, begitu katamu. Jalan yang kita telusuri masih panjang, diam-diam kita pun terlelap. Aspal tidak selalu mulus, membuat tubuh berlonjakan tak tentu arah. Tanpa kusadari, kepalaku terjatuh dibahumu yang entah sejak kapan badanmu menjadi begitu dekat denganku.
Malam semakin lekat, tuju kian dekat. Sebelum sampai diguess house, tempat kita untuk bermalam, kita menyempatkan diri untuk menuruti pinta sang perut yang sudah menggila menagih jatahnya. Aku tidak makan, karna memang tidak selapar mereka.
Pagi menjelang cepat sekali. Kau mengirimiku PING! empat kali berturut-turut saat adzan subuh berkumandang. Kau berdalih, takut aku tidak bangun untuk melaksanakan solat padahal masjid berada tepat didepan rumah dan toa-nya cukup memekakkan telinga.
Selepas berkemas, kita lekas bergegas sarapan dan mencari buah tangan. Dalam hati aku menyadari, kau selalu berada didekatku ketika kita sarapan, menyusuri labirin batik dan membeli es serut tanpa nama itu. Hari sudah siang. Kalau aku tidak salah mengira, tepatnya pada pukul dua. Kita mencapai tujuan sebenarnya. Tidak begitu lama disana. Lantaran mengejar waktu yang tersisa, kita melepas lelah sebentar dan mengisi bekal cukup diperut dengan suguhan empal gentong sesingkat mungkin. Setelah itu kembali lagi ke kota asal.
Macet memang selalu menyebalkan namun jika terjebak bersamamu, saat itu juga, macet menjadi hal yang aku suka. Kau menyandarkan bahumu dibadanku dan aku merebahkan kepalaku dilengan kekarmu. Sembari sibuk dengan gadget masing-masing dan sesekali bertengkar hanya karna memperdebatkan sebuah teka-teki dimedia sosial. Saat macet sudah terurai, hening kembali menyambangi. Mata terpaksa terpejam karna semalam tak sedikitpun diberi waktu untuk beristirahat. Bahu kita tetap bertautan. Sampai ketika seseorang menyuruh sang pengemudi menepi untuk membeli air minum yang sudah habis.
Kita semua turun, merenggangkan badan letih itu diudara. Sesekali mengenggak air minum. Kau berbagi tempat dudukmu dan mempersilahkannya untukku. Berbincang sebentar, berharap segera lupa dengan lelah yang merayapi tubuh kita. Kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Ketika hendak menaiki mobil, tanganmu menyentuh jemariku malu-malu. Aku diam saja, sudah menduga akan keinginan sang jemari untuk terisi, namun aku tidak menghiraukannya lantaran belum siap dengan deru hati jika itu terjadi. Dan kalian tahu bagaimana rasanya ketika genggaman tak lantas menggenggam? Itu menggemaskan sekali!
Sudah hampir sampai dikerangka terakhir. Saat kau menyandarkan kepalamu dikursi depan sedang lenganmu tertopang dikakiku. Kuselipkan tangan milikku diantaranya. Seolah merengkuh padahal tak sedikitpun tersentuh. Begitu terus sampai mobil terparkir manis dihalaman kantor. Barulah ‘rengkuhan’ kita terlepas juga.
Dan kita sudah mencapai akhir. Malam ini. Kau mengirimiku pesan singkat, mengingatkanku bahwa ada yang tertinggal. Iya! Kau bilang, hatiku tertinggal ditanganmu. Kau juga menyuruhku mati. Supaya aku terus menemanimu dalam keabadian dan kau tidak perlu khawatir jika ada yang mendekatiku, katamu. Aku tertawa kecil. Cinta macam apa yang justru berharap sang Nona mati lebih dulu? Putik bunga bertebaran dirongga dada. Tentu kita menyadari bahwa ada ikatan diantara kita. Ikatan yang kita sendiri tak tahu apa namanya.
Mungkin kerangka cerita ini bisa kita sebut sebagai cinta. Mungkin.
10:31 pm. Tuesday, June 2. 2015
Jika Saja Tak Cinta.
Jika saja tak cinta . . Tidak akan ada hati yang tersayat begitu perih. Ia belum juga pulih. Malah semakin pilu merintih. Karna sesungguhnya cinta ini disebabkan olehmu, mungkin juga jika kau bersedia membasuhnya, ia akan sembuh. Namun, aku cukup tahu diri. Tidak ada pinta darimu atas cinta yang datang dengan sendirinya ini.
Jika saja tak cinta . . Rindu tidak akan pernah datang bertamu. Yang bila tak dapat bersua dengan sosokmu, hati akan mengerang menuntut waktu, memaksa sebuah pertemuan. Padahal aku siapa? Hanya pengagum bisu yang lebih suka menyepi demi melindungi rasa yang rentan tersakiti. Jangankan berbicara. Bertatap muka saja, aku tidak memiliki cukup keberanian. Lalu bagaimana bisa rindu dan candu ingin bertemu?
Jika saja tak cinta . . Tidak pernah tersisip namamu yang kurunut dalam jemalin doa. Mengharap penuh tentang kebahagiaan yang utuh. Menerka takdir, akankah kita dibiarkan Tuhan menembus batas hingga jemari ini menjadi padu?
Jika saja tak cinta . . Isi mimpiku tidak hanya cuma kau. Seperti sudah ditetapkan bahwa kaulah satu-satunya bayang yang boleh menyambangi dunia fantasiku. Kau tinggal disana, tanpa sedikitpun sudi melangkahkan kaki dan mengenyahkan diri.
Jika saja tak cinta . . Mataku mungkin malas menjelajah setiap penjuru. Menyisir celah terkecil demi mendapati tatap dan senyum milikmu. Sejujurnya aku sadar, pertemuan selalu membawa serta kepergian. Suatu masa nanti, kepergianmu akan melumat rasa ini hingga menjadi abu. Hanya kepedihan yang tertinggal.
Jika saja tak cinta . . Kau tidak berarti apa-apa, hati tidak akan pernah patah dan sang asa tak mungkin kehilangan sayapnya.
Cinta Tak Perlu Bersuara.
Nevermind! I’ll be your secret admirer. Cause love doesn’t need a voice, does it? —————————————————————
Mata ini hanya mampu mengamati punggungmu. Hati ini hanya mampu bergeming tanpa suara. Cinta, kubuat bisu. Agar ia tetap terkukung dalam ambigu. Menumpuk angan kian membuku.
Dalam mimpi yang hanya menjanjikan kenyataan semu. Dalam angan yang kini tersesat dalam ruang buntu. Cinta, kubiarkan tetap ada ditempat yang sama. Tempat terasingkan tak berpeta.
Karna aku yakin, aku bukanlah tujuan dimana seharusnya kau kembali. Tujuan yang katanya bahagia dapat kau temui.
Aku hanyalah pengagummu. Seseorang yang diam-diam selalu perhatikan gerak manismu. Seseorang yang juga diam-diam gemar memotret senyum yang entah kepada siapa kau berikan. Seseorang yang mencintaimu tanpa berani berucap.
Entah sampai kapan rasa ini bertahan dalam persembunyian. Mungkin nanti, saat sang Tuan mendengar suara hati yang sejak dulu memanggil namanya. Saat kau mulai menyadari sinar mata yang terus berusaha berbicara. Saat kau terima isyarat sebuah pinta.
Hingga masa menamparmu. Menghadang perjalananmu untuk sekedar memberi tahu. Tentang sekelumit kabar yang berkabut abu-abu. Bahwa aku ada, pernah ada dan selalu ada.
Tapi waktu tidak akan mau menunggu, bukan? Biarlah aku saja yang menanti. Menyikapi setiap detik yang berdetak tanpa sudi berhenti. Dengan berderai airmata dibasuh do'a. Moga waktu mau bersaksi bahwa pernah ada penantian.
Aku diam disini. Sampai rasa itu membias. Seperti ribuan kaki hujan yang menempa wajahku dan mengering disapu sang angin. Saat rasa itu memudar. Seperti bayang sendu kala senja perlahan berpendar.
Setidaknya kini, aku masih mampu bertahan dalam diam. Memperjuangkan hati yang terkatung-katung sendirian. Yang menua lalu usang dikekang masa. Berdebu dan berkarat lantas tak memiliki raga.
Cinta tak perlu bersuara. Lantaran tahu, ‘tika terdengar jeritnya. Luka akan bersua. Dan Tuan, belum tentu menghampiri persimpangan. Guna membasuh bilur pada hati yang meronta ingin kau sembuhkan.
————————————————————— Kemarilah! Dekatkan telingamu! Aku ingin membisikkan sebuah rahasia. Tapi berjanjilah untuk jangan menyampaikan kepada Tuan itu, ya? Dengan sekuat tenaga tercemar luka. Perkenalkan! Aku seorang Pengagum Bisunya.
ps: Tadinya tulisan ini buat setoran ke gowithepict . Tapi karna kelewat deadline, akhirnya cuma jadi pajangan ditumblr sendiri. Huhu..
Beri aku waktu sebentar saja. Aku sedang memulihkan luka yang mengakar dihati. Tentu kau tahu, melepas tidak semudah ketika kau memutuskan untuk pergi.