Malam ini di kotaku sedang turun hujan, tapi entah mengapa derasnya justru di dadaku sebab rindu yang menghujam.

seen from Germany

seen from United States
seen from Canada
seen from Hong Kong SAR China
seen from Italy
seen from Norway
seen from China
seen from United States

seen from Brazil

seen from United States
seen from Taiwan

seen from United States
seen from Australia
seen from United States
seen from China
seen from Armenia

seen from Malaysia
seen from China

seen from Malaysia

seen from Malaysia
Malam ini di kotaku sedang turun hujan, tapi entah mengapa derasnya justru di dadaku sebab rindu yang menghujam.
Kakek Senja
Senja kini sedikit syahdu, setelah ada gerimis yang coba menghapus rindu. Sebab kini sudah reda, sang surya kembali coba bersinar dengan sisa waktunya.
Di ujung jalan sana, masih ada lelaki tua yang mengayu sepedanya di waktu seperti ini, di zaman ini. Terlihat lelahnya coba untuk ditutupi, berhias senyum dengan keriput pada pipi yang tak mungkin juga ditutupi.
Belakangan aku tau profesi lelaki tua itu, ternyata beliau menawarkan jasa sol sepatu yang akunya mampu memperbaiki sepatu menjadi layaknya baru.
Sudah sekian kali aku melihat lelaki tua ini, meski kini pulangnya sedikit lebih larut membersamai redupnya surya di salah satu sisi bumi. Kayuhnya menerobos kerumunan jamaah yang hendak melaksanakan sholat mahrib. Meski terlihat mengayuh dengan terburu, beliau tidak pernah lupa tersenyum dengan senyum setulus itu.
Masih belum mengerti apa yang membuat beliau mengayuh dengan seterburu itu, mungkin sebab karena tak mau kekasih hatinya terlalu lama resah di rumah karena terus menunggu.
27 Februari 2020 | (c) adikurniawan
Sebenarnya Semua orang tak mengapa ingin menjadi apa sesuai asanya.. asalkan dia tak lupa dengan dirinya pun Pencipta-Nya
-Annisafl
“Kuhujam dengan bubuk mesiu 'ketidakpedulian'. Maka habislah kau menjadi serbuk abu 'harapan'.”
— cerminusang
Kamu tau hal paling romantis dari hujan? Dia selalu mau kembali meski tau rasanya jatuh berkali-kali
Endlessend
Bagaimanapun aku tak pernah bisa membencimu walaupun aku tahu jutaan rasa sakit telah kau hujamkan ke hatiku. Dan aku hanya bisa diam tanpa pernah bisa bertanya apa salahku padamu.
Dian Maria Andriani