Kakek telor
Begitu aku menamainya. Pertama kali aku melihatnya duduk menjajakan telor asin di pintu barat stasiun manggarai.
Usianya tak lagi muda, tapi beliau memilih bekerja ketimbang meminta-minta.
Hari itu, aku menyesal tidak membawa uang tunai sehingga aku tidak bisa membeli dagangannya.
Sepertinya kakek jarang ada pembeli, sebab nampaknya sangat bersyukur ketika di hari lain aku berhasil membeli telor asinnya.
Kakek sampai hafal denganku, artinya pelanggannya tak banyak. Sebab, di jam sibuk pasti sangat banyak orang berlalu lalang di manggarai. Tapi beliau mengenaliku.
Sesekali aku kesiangan, dan turun di stasiun lain. Aku menjumpai sang kakek berjalan kaki. Jadi, selama ini beliau berjalan kaki untuk sampai di stasiun manggarai.
Ya Allah, semoga kakek selalu sehat.
Bagian tersedihnya adalah kantorku terpaksa dipindah dan aku sudah pasti tidak turun lagi di stasiun manggarai.
Rasanya sedih sekali, tapi hanya bisa mendoakan. Semoga pelanggan kakek yang satu ini, digantikan lebih banyak lagi ya kek.
Barangkali ada yang lewat di pintu barat stasiun manggarai, jika ada. Tolong dibeli, sebab beliau berdagang dengan halal dan bukan meminta minta.
















