Sejak kecil beliau belajar dengan ayahnya, juga guru-gurunya yang diantaranya ialah Abu Abdullah, Abu Bakar Alkhawarizmi, buku Al Farabi.
Pada usia 22 tahun, ayahnya meninggal dunia bertepatan dengan hancurnya Dinasti Samaniyah pada tahun 1004 M. Lalu beliau melakukan perjalanan ke arah Turkmenistan.
Disana beliau sempat diangkat menjadi pejabat pemerintahan dan beberapa waktu kemudian kembali melanjutkan perjalanan hingga daerah Khurasan, lalu Ghoran hingga dekat Laut Kaspia. Hingga disana beliau berjumpa dengan seorang kawan, yang memberikan kepadanya nama kuniyah sekaligus membangun Lembaga Pendidikan.
Ibnu Sina kemudian menetap di daerah itu. Seraya mengajar beliau juga belajar. Mempelajari tentang Astronomi, Logika, Filsafat, dan disana pula beliau mulai menulis Kitab Kedokteran Qanuun fii Attiib yang menjadi rujukan bagi ilmu kedokteran dunia.
Jiwa petualangnya cukup tinggi, sehingga beliau tidak cukup puas untuk menetap di satu tempat dalam jangka waktu yang lama. Lalu beliau melanjutkan pengembaraan hingga sampai di kota Ray, Teheran, Iran.
Beliau disambut disana tersebab kemampuan intelektualitasnya yang tinggi telah terdengar masyhur di masyarakat. Disamping mengajar, beliau kembali melanjutkan aktifitas produktifnya dengan menulis manuskrip yang sampai saat ini dijadikan referensi dan diterjemahkan.
Beliau sangat menyoroti tentang Pendidikan keterampilan untuk mempersiapkan anak mencari penghidupan. Hal pertama yang ditekankan ialah pengajaran Quran disampaikan kepada anak hingga sampai pada masa kematangan akal dan jasmaniah. Anak di usia 7 tahun sudah disebut Akil, karena sudah bisa menilai baik atau buruk.
Bukan berarti ketika anak masih usia bayi hingga kematangan akal lost dari pengajaran Quran, namun bisa didorong dengan diperkenalkan dan diperdengarkan. Karena jika penanaman nilai terhadap Al Quran tidak dimulai sejak dini, pada usia tujuh tahun sang anak belum tentu tertarik untuk belajar Al Quran.
Pengklasifikasian jenjang usia didik ialah metode dalam pemikiran Pendidikan Ibnu Sina.
0-3 tahun dalam masa pengasuhan, terlebih kepada sosok ibu. Mata pelajarannya ialah Olah Raga, penanaman adab dan budi pekerti, kebersihan, seni suara, berkesenian.
Secara naluriah manusia menyukai sesuatu yang indah. Baik indah dilihat maupun didengar, sehingga hidup manusia tidak monoton dan ketika melafazhkan Al Quran, mengeluarkannya dengan suara yang indah.
3-5 tahun kurikulumnya ialah Motorik fisik
6-14 tahun kurikulumnya ialah membaca dan menghafal, terlebih Al Quran.
>14 tahun mata pelajaran cukup banyak dan dipilih berdasarkan minat dan bakat