Seandainya setiap orang mengerti bagaimana kisah dan perjalanan seseorang; daya dan upaya seseorang untuk berubah, niscaya ia tidak akan menghakimi masa lalunya.
Pena Imaji
seen from Russia

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Russia
seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from United States
Seandainya setiap orang mengerti bagaimana kisah dan perjalanan seseorang; daya dan upaya seseorang untuk berubah, niscaya ia tidak akan menghakimi masa lalunya.
Pena Imaji
“Dan lagi-lagi Allah menunjukkan jalan bagiku melalui sahabat baikku”.
Kemarin sahabatku menginap di kos, kami bercerita banyak hal. Awalnya saya penasaran tentang amalan apa saja yang ayahnya ajarkan kepadanya. Dia bilang ayahnya istiqomah sholat tahajud, sholat dhuha, sholat berjamaah di awal waktu dan bahkan puasa daud. Dia cerita bahwa ayahnya mulai berpuasa daud sejak ibunya meninggal. Saat itulah dia mulai bercerita tentang kebaikan ibunya yang telah dicontohkan kepadanya.
Yang paling berkesan dan tak pernah ia lupakan adalah ketika ibunya membagikan uang 50ribu rupiah ke tukang becak yang sedang mangkal. Tukang becak yang sedang mangkal itu pun bukan satu atau dua orang, tapi lebih dari itu. Ibunya berkata, “Ini dek, kasihkan satu-satu ke tukang becaknya”. Sahabatku pun terkejut dengan banyaknya uang yang digenggamnya, “Hah nggak kebanyakan, mah?”. “Kalau ngasih itu nggak boleh mikir-mikir, tiap rezeki yang Allah kasih sebenarnya ada hak-hak orang lain yang harus diberikan”.
Sejak saat itu, sahabatku ini paham bahwa uang itu tak ada nilainya sama sekali. Dia percaya, bahwa harta yang kita berikan sebenarnya itu tidak berkurang dan malah bertambah. Dia juga bercerita bahwa dia pernah menemui lelaki tua, tetapi ketika dia memeriksa tasnya tak ada uang kecil sama sekali hanya uang 50ribuan dan 100ribuan padahal dia ingat benar di tasnya terdapat pecahan uang kecil. Tapi dia tak mendapatinya sehingga dia tak memberikan kepada lelaki tua tersebut.
Akan tetapi, selang beberapa menit ternyata uang kecil pecahan 5ribuan 10ribuan dsb ada di dalam tasnya. Namun, lelaki tua itu telah menghilang dan sahabatku ini mencoba mencarinya. Tetapi nihil, tak ditemuinya lelaki tua tersebut. Sahabatku ini sedih dan menyesal atas keragu-raguannya memberikan uang dengan nominal yang besar kepada lelaki tua itu. Dia pun bercerita ke ayahnya dan ayahnya menyuruh untuk sholat terlebih dahulu di masjid yang tidak jauh dari kantor ayahnya.
Ternyata, di masjid tersebut dia menemukan lelaki tua itu. Dia pun tanpa ragu lagi memberikan seluruh uang yang ada di dalam tasnya kepada lelaki tua itu. Dia juga membelikan nasi bungkus untuknya. Dia menyadari bahwa dia saat itu sedang diuji oleh Allah, apakah dia mau memberikan uang yang nominalnya besar kepada lelaki tua itu apa tidak. Dia pun saat ini masih berusaha istiqomah untuk bersedekah, bagaimanapun keadaannya dia sekarang dia tetap bertekat untuk bersedekah. Sehingga, dia menjadi pribadi yang suka memberi dan tak pernah berpikir dua kali ketika melihat orang yang kekurangan atau ketika dia ingin memberikan sesuatu hal kepada orang lain.
Banyak hal yang saya pelajari darinya, mulai dari dia mencoba menginap di panti asuhan selama dua hari dan dari sana dia memperoleh banyak cerita dari anak-anak panti. Bahkan ada seorang anak yang masih SD dititipkan ke panti asuhan karena orang tuanya tidak ingin anaknya mengetahui pekerjaan Ibunya yakni sebagai kupu-kupu malam dan agar anaknya tidak terpengaruh oleh lingkungan yang buruk. Tiap minggu ibunya menjenguk anak tersebut dan memberikan uang kepadanya. Sungguh ironis!
Selain itu, saya mendapat cerita lewat mimpi yang pernah Allah ilhamkan kepadanya. Dalam mimpi tersebut dia melihat empat sosok bepostur tinggi besar, hitam, dan menakutkan. Muncul juga sesosok yang mempunyai cahaya terang dan dia tersenyum kepada sahabatku ini. Dia berkata, “Jangan takut, tetap beristiqomahlah bagaimana pun keadaanmu nanti”. Dia terkejut dan terbangun dalam mimpinya dan dia menyadari bahwa ujian demi ujian akan selalu datang menghampiri, meskipun begitu kita harus tetap istiqomah menjalankan semua kewajiban dan kebaikan-kebaikan di dunia ini.
Sungguh sangat beruntung memiliki sahabat sepertinya dan hati ini tertegur untuk bisa beristiqomah dalam bersedekah. Jujur, saya masih kurang dalam bersedekah karena saya seringkali masih berfikir dua kali untuk memberikannya kepada orang lain. Meskipun selalu ada rasa iba dan empati dari dalam hati, namun kadangkala masih ada keraguan-raguan yang menyelinap. Sebenarnya saya suka memberi dan ketika dapat melakukannya membuat perasaan ini menjadi lega, tetapi memberikan sesuatu hal dengan nominal yang besar saya masih ragu untuk melakukannya. Saya masih berusaha bersedekah setiap hari, paling tidak seminggu sekali.
Dan sebenarnya di lingkungan kita masih banyak yang membutuhkan uluran tangan kita. Kita bisa memberikannya ke pengemis dan harusnya tanpa memandang usia mereka, sehat bugarnya tubuh mereka. Mungkin mereka terpaksa melakukan pekerjaan tersebut karna tidak ada cara lain yang bisa mereka lakukan. Tanggung jawab kita hanyalah memberi, perihal baik buruknya pekerjaan yang dia lakukan bukanlah tanggung jawab kita tapi tanggung jawab antara dia dan Allah. Kita juga bisa memberikannya ke orang yang terkena musibah, orang yang tertindas, orang yang kekurangan, pemulung, tukang becak, kakek nenek yang berjualan, ibu yang berjualan sambil menggendong anaknya ataupun kepada teman kita agar mereka senang.
Yuk bermuhasabah dan jangan lagi ragu bersedekah karena Allah telah berjanji dalam surat Saba ayat 39,
“Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rizki pada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya, dan Allah menyempitkan rizki pada orang yang dikehendaki-Nya. Dan apapun yang kamu infakkan atas rizki yang diberikan Allah, maka Allah menggantinya kembali dan Allah-lah sebaik-baik pemberi rezeki.”
Bahkan dalam hadist Bukhori dan Muslim juga disebutkan tentang malaikat yang memberi doa kepada orang yang gemar bersedekah dan orang yang pelit.
Setiap datang waktu pagi, ada dua malaikat yang turun dan keduanya berdoa. Malaikat pertama memohon kepada Allah, “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang memberi nafkah”. Sementara malaikat satunya berdoa, “Ya Allah, berikan kehancuran bagi orang yang pelit”.
Dulunya saya berfikir, bahwa dengan sholat dhuha dua raka’at dua raka’at sama halnya kita sudah bersedekah. Namun ternyata pemikiran saya tersebut keliru. Sama halnya janji Allah ketika kita shalat di Masjidil Haram itu seperti kita berpuasa bertahun-tahun lamanya. Tetapi itu bukan berarti, kita boleh meninggalkan puasa. Semoga dengan adanya hidayah ini, semoga Allah senantiasa memberikan kita pemahaman-pemahaman yang benar mengenai islam dengan sebaik-baiknya. Aamiin.
Jalan Hijrah
#Metamorforself Jalan Hirah;
Masya Allah, Sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru hijriah yah. Momen sakral yang selalu mengingatkan saya atas sekelumit kisah indah yang tercatat dalam tinta sejarah emas tentang perjuangan “hijrah” Rasulullah dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah untuk menyelamatkan keimanan mereka dari para kaum kafir Quraysi.
Proses perjalanan hijrah Rasulullah dan para sahabat selalu memantik percikan-percikan hidayah yang membuat pipi saya harus tertampar-tampar setiap kali menelusuri jejak shiro mereka tentang betapa mengangumkannya konsep keimanan dan keyakinan yang mereka miliki, dan lagi-lagi saya harus tertunduk malu untuk yang kesekian kali karena menyadari antara diri saya saat ini sungguh tak ada apa-apanya dibanding perjuangan hijrah mereka yang terpisah 1400 abad tahun yang lalu itu. Bahkan kalau kalian mendengarkan kisah mereka dibacakan, saya pastikan kalian akan bergumam “kok ada yah manusia dengan tenaga super kebaikan seperti ini.”
Kisah mereka sangat mudah kalian temui di toko buku atau sekedar googling di hp dan lebih bagusnya lagi ikutan kajian. Jadi saya mungkin tidak akan fokus membagikannya disini supaya kalian menyisihkan waktu untuk berdua saja dengan kisah itu melekat-lekati setiap tetes hikmah dan pembelajaran didalamnya. Karena di tulisan kali ini yang akan saya bagikan hanyalah kisah perjuangan saya sendiri -yang sedari awal tadi sudah saya katakan tak ada apa-apanya dibanding kisah perjalanan hijrah mereka. Stop baca tulisan saya ini sebelum kalian membaca kisah perjuangan hijrah luar biasa dari Rasulullah dan para sahabatnya.
***
When the first sight meet “Hidayah”
“Wahai manusia! Berhijralah kalian dan berpegang teguhlah pada Islam”
(H.R Thabrani)
Kata Hijrah yang diambil dari bahasa arab hajarah-yahjuru-hajran-hujrana ini memiliki makna yang sangat luas tentang menjauhi-meninggalkan-pindah-berpisah- dan menuju sesuatu atau istilah kerennya sih “MOVE ON”.
Bisa dibilang kisah move on saya ini terhitung langka, saya move on awalnya hanya gara-gara saya tidak bisa lulus di universitas favorit yang saya impi-impikan sejak lama. Lalu impian saya yang lain ikut runtuh satu per satu, dunia terasa terbalik dan saya merasa sedang tidak berpijak di bumi saat itu. Allah mencabut satu per satu nikmatNya sehingga mau tak mau saya harus berkawan dengan ujian. Jad I meet for the first sight with Hidayah itu bukan karena saya insyaf abis ikut kajian dan nimbrungin halaqo-halaqoh, punya teman akhwat yang selalu nasehatin atau seperti kisah Umar Radyallahu anha yang langsung tersentuh ketika mendengarkan bacaan Al-Quran. Saya tidak, bahkan hidayah itu pertama kali datang ketika saya benar-benar down dan putus asa, yah ketika kondisi hati saya bergemuruh karena ekspektasi yang saya bangun selama ini ternyata sangat jauh dari kenyataan.
Jadi begini ceritanya. Dulu saya kepingin banget kuliah di jurusan kedokteran. Alhamdulillah saya terpilih untuk ikut jalur undangan yang memang pesertanya terbatas hanya ditujukan untuk siswa-siswa yang nilainya tinggi, kalau ngak salah kata pak guru gitu dulu. Entah bagaimana caranya saya bisa apply jalur itu. Jurusan yang saya pilih waktu itu tidak tanggung-tanggung, jurusan kedokteran umum UNPAD di semarang. Selain itu saya juga gabung di kursusan yang targetnya khusus menembak universitas favorit. Nama programnya “Go to Big Five”. Program ini adalah beasiswa langsung dari yayasan HJ Kalla. Alhamdulillah lolos dan dapat beasiswa kursusannya. Setiap hari saya berjibaku dengan soal-soal tes prediksi, ikut Try out dan seminar tentang tips dan trik mencapai skor tertinggi. Saya sangat pede akan lulus. Tibalah masa pengumuman. Saat itu saat-saat paling menyakitkan. Saya tidak lulus jalur undangan juga jalur SNMPTN yang merupakan jalur masuk bersama untuk perguruan tinggi negeri. Kedokteran umum UNHAS di pilihan pertama dan jurusan kedoteran umum UNSRAT manado di pilihan kedua gagal saya dapatkan. Kecewa, sedih, semuanya berkumpul jadi satu. Dari kegagalan itu saya mencoba bangkit untuk mencoba segala kemungkinan yang ada. Saya hampir mendaftar di semua universitas yang masih terbuka. Dan lagi-lagi saya gagal. Saya menangis setiap kali mengecek jadwal pengumuman. Nenek saya yang tahu kalau semenjak bangku SD hingga SMA saya selalu mendapatkan prestasi dan masuk peringkat 5 besar juga ikutan heran. Bahkan nilai UN saya berada di urutan nilai tertinggi kedua. Rencana sudah saya susun jauh-jauh hari, usaha sudah saya gunung lembahkan namun Qadarullah ternyata takdir berkata lain.
Saya tertekan sampai depresi, saya tidak tahan dengan sms teman-teman yang sudah pada lulus, apalagi jika sampai bertanya kabar, “gimana kamu Nti, lulus dimana? Nyess. Sakitnya tuh di hati pakai banget. Saya sampai ngak mau keluar kamar dan makan berhari-hari, saya malu ketemu teman-teman atau sekedar balas sms mereka. Bahkan saking tertekannya rambut panjang yang selama ini saya rawat akhirnya saya potong pendek mirip rambut pemain bola tapi tidak juga sampai botak amat. Intinya Saya kehilangan kepercayaan diri. Ditambah lagi kondisi keluarga saya yang saya tidak bisa sebutkan disini.
Ketika Hidayah menyapa
“Katakanlah: Hai hambah-hambahku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah maha mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS: Az-zumar:53)
Dan di hari- hari kesedihan itulah saya merenungkan banyak hal. Dan entah bagaimana caranya hidayah itu begitu lembut menyapa hati saya seperti tanah kering yang sedang dihujani bertubi-tubi air dari langit. Mungkin karena doa orang-orang yang mencintai saya. Allah sungguh Maha baik, di saat kita berada di kondisi terpuruk Allah datang merangkul kita dengan kasih sayangNya. Sejak saat itu satu pemahaman baik yang saya dapatkan bahwa setelah kesulitan pasti akan ada kemudahan.
Tidak ada jalan keluar selain mendekat kepada Allah, seberapapun banyaknya masalah yang kita hadapi. Bukankah Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kesanggupan hambahNya?
Saya mendekat, menagis sejadinya-jadinya dihadapanNya. Saya menyesal, kenapa baru sekarang saat diberikan ujian saya menangis dihadapanNya seperti ini. Saya malu, saya takut sudah melewatkan banyak hal tanpa melibatkanNya.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
Sejak saat itu perubahan paling mencolok adalah ibadah sholat saya yang masih bolong-bolong akhirnya dengan sekuat tenaga bisa saya rutinkan 5 kali sehari.
Berganti waktu, akhirnya Allah menakdirkan saya untuk kuliah di sebuah perguruan tinggi islam. Saya baru tersadarkan sekarang bahwa dari kepingan puzzle ketidaklulusanku waktu itu, Allah ternyata sedang menyusun rencana lain yang jauh lebih baik, menghadiakan saya hidayah yang begitu indah. Saya akhirnya mengenal agama saya lebih baik. Bergabung di halaqoh tarbiyah yang sukses membuat saya merasakan kenikmatan juga kebahagiaan menjadi seorang muslimah.
Perlahan-lahan saya mulai meninggalkan musik, sudah tidak lagi berjabat tangan dengan yang bukan muhrim, mengakhiri hubungan pacaran, menghapus foto-foto di medsos. Perlahan namun pasti, saya bermetamorfosis dari ulat yang penuh masa lalu yang kelam menjadi kupu-kupu pembelajar yang terus berusaha menerbangkan kebaikan.
Perjalanan hijrah saya tidak berhenti sampai disitu. Saya kemudian mantap untuk mengenakan jilbab lebar dengan warna gelap. Menenggelamkan diri di lautan dakwah bersama dengan proyek-proyek unta merahnya. Saya sangat bersyukur dengan nikmat keimanan yang Allah berikan. Saya jadi mengerti mungkin saja ketika kemarin saya lulus di jurusan kedokteran saya pasti tidak akan menjadi seperti sekarang ini dengan jilbab hitam kebanggaan. Mungkin saya akan terus jemawa dan sibuk dengan segala pencapaian dunia. Mungkin saya tak akan pernah mengecap rasa manisnya hidayah. Mungkin saya tak akan pernah sampai pada pemahaman baik ini, bahwa kehidupan dan kebahagian ada pada ketaatan kita pada Allah. Maha sempurnaNya Allah yang menjadikan kecintaan dan kerinduaan tertinggi ada pada kenikmatan ibadah dan penghambaan kepadaNya. Saya sungguh belajar banyak hal tentang takdir bahwa tidak semua apa yang kita ingini harus dituruti. Kita hanya hambah yang harusnya patuh pada aturanNya. Bahwa kita boleh saja berencana namun Allah yang menentukan. Bahkan kita begitu lemah dihadapanNya, Sunggu Allah yang paling tahu mana yang terbaik untuk kita, karena sesuatu itu boleh jadi terlihat baik namun sebenarnya buruk dan begitu pun sebaliknya.
Di perjalanan hijrah ini, saya selalu mengajak diri saya untuk terus berproses menjadi lebih baik, untuk terus mendekat kepadaNya karena perjalanan hijrah tak mengenal batas. Kecuali jika kakimu sudah melangkahkan kaki ke syurga. Yah, perjalanan hijrah ini punya ujung bahagia yang indah. Makanya butuh perjuangan untuk melewatinya. Di tengah perjalanan pun akan sering kita temui jalan yang menanjak, bertebing, berlubang membuat kakimu harus berdarah-darah. Namun itu semua terbayarkan nanti jika kakimu sudah melangkahkan kaki di SyurgaNya insyaAllah.
Teruslah berbuat kebaikan di perjalanan hijrah ini karena iman itu yazid wa yanqus akan selalu berbolak-balik – naik-turun, dan kita tidak akan pernah tahu kapan jatah perjalanan kita habis untuk kemudian berpulang ke kampung akhirat yang sebenarnya. Tanpa perbekalan, kita tak akan pernah sampai.
Jangan lupa untuk selalu menguprade niat, karna niat ini yang akan menentukan langka-langkah kita di perjalanan. Salah niat, salah langkah bahkan akan salah tujuan. Sesungguhnya apa yang kita dapatkan nanti akan sesuai dengan niat kita di awal.
Selamat menikmati perjalanan hijrahmu, bagi yang belum yuk berhijrah! Kita sama-sama berproses di jalan ini. Semoga Allah selalu memudahkan langkah-langkah kita menuju kebaikan kebaikan yang menghebatkan kita nantinya. Salam semangat! Salam hijrah!
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dijalan Allah dengan harta benda, diri mereka lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberi rahmat-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal selama-lamanya, sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”
(QS. At-taubah;20-22)
“Berhijralah, karena Hijrah adalah serangkaian episode hijrah menuju Jannah”
@dianesstari
Bersama rimbunnya rindu untukNya, 5 september 2017
Writing project bersama @xyouthgen. Semoga dengan ini kita bisa saling memancarkan cahaya kebaikan. Biidznillah. Allahumma bini’mati tatimussolihat.
Semalem dapet wejangan luar biasa dari temen (se)lama(nya). Temen yang pas zaman kuliah dulu sering bgt mampir ke kosan, makan bareng, tidur bareng, sampe pernah ditilang dan jatoh dari motor barengan pas balik dari Ciroyom, beli cacing babi buat bahan penelitian skripsi dia zzzzzzz. Suka penasaran, apakah dia satu-satunya manusia di dunia yang makan bakso kecapnya di tuang ke sendok tiap mau nyuap, bukan dicampur ke kuah (?) 😅 *enggak penting bgt sumpah
Btw kurang lebih beginilah wejangan dia via whatsapp semalem :
Gilaaaa baru sadar aja dengan kepribadian dan bekal dunia-akhirat yang masih cetek banget ini duh kok aku berani-beraninya udah minta jodoh sama allah. Sepertinya apa kata temen aku ini bener, bener banget malah. Nunggu tanpa melakukan perubahan apa-apa untuk diri sendiri itu cuma buang-buang waktu. Terlalu fokus pada dia itu bisa membuang banyak kesempatan, entah itu tentang karir, jodoh atau urusan kehidupan dunia dan akhirat yang lain.
#self reminder untuk diriku sendiri :
Diriku, dengerin, aku mau kasih wejangan. Luruskan kembali niatnya ya, teruskan hijrah yang kepending terus itu wkwk sedikit demi sedikit aja nggak apa-apa. Yang penting fokus untuk memperbaiki diri lahir dan batin. Belajar terus jangan males-malesan! Kan katanya pengen jadi “long life learner” . Pantaskan diri dari segala segi pokoknya ya. Nggak usah mikirin apa-apa selain ikhtiar dan minta yang banyak sama allah. Minta di beri kekuatan untuk berubah ke arah yang lebih baik. Selalu libatkan allah dalam setiap langkah. Nggak usah khawatir, laa haula wa laa quwwatta illa billah!!!
Sekarang, yang perlu dilakukan cuma fokus cari kerja dan belajar, barangkali ada rejeki untuk sekolah lagi dalam waktu dekat. Entah itu ngambil Apoteker atau s2. Bulatkan tekadnya aja duluuuu. Allah melihat usaha dan kemauan kita kok! Kalo allah udah berkehendak mah rejeki dateng dari mana aja, nggak akan terduga.
Lupain sejenak tentang dia, bukan harus benci bukan, sesekali kalo rindu boleh kok ngabarin dia. Yang terpenting, harus memberi ruang buat diri masing-masing berkembang. Entah akan kembali atau malah menemukan jodohnya masing-masing, semuanya udah diatur allah. Serahkan aja sama yang maha memiliki hati lagi mengetahui yang terbaik bagi hambanya.
Jika memang jodohnya, pasti akan allah pertemukan. Dalam keadaan sama-sama siap setelah proses memperbaiki diri. Dia pasti mendukung keputusan ini kok, pasti. Dia pasti senang ketika tau kamu mempunyai keinginan berubah, terlebih didalamnya kamu berjuang untuk adil kepadanya. Adil dengan cara memperbaiki diri untuk dia yang juga sedang menuju baik.
Semangat terus ya calon wanita shalehah! Calon Apoteker juga insyallah 😊 *karena perkataan adalah doa
Bandung, 23 September 2017
@xyouthgen
#Metamorfoself Jalan Hijrah: Menuluskan Niat
Bicara tentang jalan hijrah. Aku adalah seorang pejuang hijrah yang ngesot. Butuh waktu lama untuk sampai pada kata "hijrah yang seutuhnya". Ah, sepertinya keliru. Sampai sekarangpun aku masih dalam proses menuju kata "seutuhnya". *** Konon, aku sudah memutuskan untuk menutup aurat sejak kelas 1 SMA. Tapi, masih ngejins, kaos ngepas, kerudung diatas dada. Serba minimalis deh pokoknya. Niat aku jilbaban waktu itu adalah untuk menutupi kekuranganku. Heuu XD Niat itu masih aku pertahankan sampai kuliah. Tapi, sejak semester tiga, saat aku mulai menekuni dunia keaktifisan, dan aku mulai mengenal kata ikhwan-akhwat, niatnya jadi bertambah satu, yakni: caper sama 'sidia'. Oke, ceritanya gini. Waktu aku semester tiga, aku diminta sama temen aku yang seorang ikhwan -katanya- jadi sekretarisnya dia di himpunan mahasiswa jurusan. Well, karena emang dari dulu pengen "deket" sama dia, aku terima aja tawaran dia. Lagian ini kesempatan aku untuk terus berkomunikasi sama dia, pikirku. Lantas, aku mulai berpikir untuk memperbaiki penampilanku sedikit demi sedikit. Aku mulai meninggalkan jeans ketatku dan menggantinya dengan rok. Kerudungku juga udah sedikit lebih menutupi dada walaupun masih menerawang. Sampai lulus kuliah dan setahun berkarierpun penampilan lahiriah aku masih begitu. Bawahan rok dengan baju kaos ngepas, kerudung tipis menerawang yang sedikit menutup dada. Dulu, makna hijrah bagiku hanya sebatas perubahan penampilan. Jadi, fokus aku -hanya- pada penampilan. Untuk kualitas ibadah? Aku sudah cukup puas dengan ibadah wajib yang nggak pernah bolong. Sampai pada akhirnya, aku merasa kegamangan dalam hatiku. Aku nggak jelas. Alim nggak, bejat juga nggak (lagi lagi persepsi ini berdasarkan tampilan luar semata). Aku memutuskan untuk berpenampilan syari. Kerudungan yang seutuhnya. Tapi, aku masih ragu dan belum menemukan waktu yang tepat untuk memulainya. Qadarullah, Allah Maha Baik. Barangkali, saat itu -entah kapan, dimana- niat aku beneran tulus untuk menutup aurat sepenuhnya. Allah berikan aku kesempatan untuk kuliah (lagi) di UPI, Bandung. Momentum hijrah aku ke Bandung, aku niatin -bener bener niat- untuk hijrah. Alhamdulillah, Allah Maha Baik. Ketika kita benar-benar tulus untuk berbuat baik, Allah akan kirimkan orang-orang baik untuk menemani kita. Di Bandung, aku dihujani hidayah. Allah pertemukan aku dengan lingkungan yang baik (kebetulan kampusku deket banget dengan pondok pesantren Daarut Tauhiid). Allah pertemukan aku dengan teman-teman yang baik nan sholehah. Allah dekatkan aku dengan sumber ilmu. Allah dekatkan aku dengan para kekasihnya. Robbi, Allah Maha Baik. Allah Maha Baik. Allah Maha Baik. Aku bertekad, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang udah Allah berikan. Disini, aku tidak lagi -hanya- fokus memperbaiki tampilan luarku, tapi aku fokus memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadahku. Aku tidak ingin dibilang alim dan sholehah oleh orang-orang karena mereka hanya melihat aku lengkap menutup semua auratku dari ujung rambut hingga kaki, padahal dalamnya bobrok. Ibadahnya berantakan. Allahuuu... Bahwa, hijrah itu harus diupayakan. Minimal harus dimulai dengan meniatkannya. Niat yang tulus. Ketika kita benar-benar tulus dengan niat yang kita tekadkan. Allah akan mudahkan semuanya. Allah akan kirimkan kita pada lingkungan yang baik, teman-teman yang baik yang akan menuntut kita. Yakinlah! Allah Maha Baik. Dia selalu berikan yang terbaik :) ---- Tulisan ini dalam rangka mengikuti writing project yang diadakan oleh @xyouthgen tema pertama Jalan Hijrah 5 September 2017
Jalan Hidayah itu banyak
Saya mau sedikit cerita perihal hijrah yg saat ini sedang dilakukan teman saya. Teman saya ini adalah salah satu bukti nyata jika Hidayah Allah selalu berada didekat kita, hanya saja kita yg tidak mempunyai niat baik untuk menjemputnya
Cerita yg saat ini masih teringat jelas dimemori otak saya, tepatnya dipertengahan bulan januari 2017 kemarin. Saya ketemuan dengan salah satu temen cewek yang namanya Riska. Dulu saya dan Riska sekolah di SMA yang sama tapi tak pernah satu kelas. Lalu dipertengahan bulan januari kemarin untuk pertama kalinya saya ngajakin dia ketemuan. Jujur saat itu pas dia meng-iyakan ajakan saya buat ketemuan saya bener-bener bingung. Iya bingung, karna semasa dulu SMA kita tidak pernah yg namanya ketemuan. Boro-boro ketemuan jalan berdua, selama 3 tahun sekolah aja kita tidak pernah terlibat dalam sebuah obrolan, atau sekedar bercandaan aja ga pernah. Mentok Cuma bertegur sapa jika berpapasan. Tapi dilain sisi saya juga seneng karena dia mau saya ajak ketemuan, meskipun ini juga baru pertama kalinya. Mungkin karna dulu saya pernah pacaran sama sahabatnya, sehingga ketika saya ajak dia ketemu dia tak keberatan.
Engga, saya mengajak dia ketemuan bukan mau PDKT sama dia, bukan. Memang sih dia orangnya cantik, putih, bahkan dulu semasa SMA dia cukup populer. Tapi alhamdulilah saya tidak pernah mempunyai perasaan semacam itu terhadapnya. Alasan sebenernya kenapa saya ngajakin ketemuan waktu itu ialah karna saya tertarik dengan perubahannya saat ini. Perubahan seperti apa? Yaitu perubahan penampilannya. Dulu sewaktu SMA dia masih menggunakan kerudung sebatas menutupi rambut saja, tapi masi menggunakan baju dan celana yang ketat. Namun Sekarang dia sudah menggunakan hijab syar’i, berhijab sesuai dengan syariat islam yang baik dan benar. Nah melihat dia yang sekarang sudah bertransformasi menjadi sosok wanita yang lebih baik semacam itu, saya tertarik hal apakah yang mendasari dia berhijrah. Apakah karna dorongan keluarga, atau faktor lingkungan pergaulannya sekarang, atau benar-benar semata-mata karna Allah.
Lalu kita ketemu disalah satu kedai kopi yang ada di Solo. Saat itu pertemuan kita tidak lama, ga sampai genap 1 jam. Soalnya saya takut dan merasa bersalah banget karna mengajak ketemuan dia yg notabene dia yg saat ini sedang berproses hijrah. Maafkan hambamu ini ya Allah. Lalu intinya alasan dia berhirah adalah disebabkan karna laki-laki. Lebih tepatnya sakit hati sama laki-laki. Jadi ceritanya dulu riska punya pacar, riska pacaran udah cukup lama kalo ga salah udah satu tahun lebih. Tapi makin lama dia menjalani hubungan tersebut, makin kesini riska merasa tidak tenang, ada bagian didalam hatinya yg berontak yg membuat dia tak nyaman. Lalu riska menemui teman-temannya yg menurut dia paham agama untuk menyakan perihal pacaran dan agama. Kemudian temen-temennya itu menyarankan agar dia memutuskan si cowoknya itu tadi. Namun riska tak menghiraukan apa yg dikatakan dan disarankan temen-temennya tadi. Dengan dalih dia sudah sangat sayang sama cowoknya tersebut ditambah semua keluarga riska sudah suka dengan cowok itu dan setan masih berkuasa penuh atas hatinya, riska pun tetap mempertahankan hubungan yang sangat jelas dilarang oleh Allah.
Lalu lama-kelamaan riska merasa aneh karna cowoknya tersebut selalu minta putus. Setiap riska tanya alasannya kenapa, dia menjawab pengen bahagia-in orang tuanya dulu. Setelah itu akhirnya mereka putus, mereka mengakhiri hubungan berdosa tersebut. Namun meski sudah putus mereka berdua masih chat-chatan mesra bahkan masih sering jalan berdua. Jadi ya seakan-akan mereka berdua itu hanya menghilangkan status ‘pacarannya’ saja, namun mereka masih melakukan hal-hal yg dilakukan kebanyakan orang pacaran seperti chat-chatan mesra, bahkan jalan berdua. Memang sudah tidak pacaran namun mereka tetap melakukan dosa seperti orang yg pacaran.
Sampai akhirnya ada sebuah kejadian dimana ketika riska pulang kuliah dia melihat cowoknya jalan dengan cewek lain. Sejak itu hati riska ga karuan, tapi riska masih tetap bertahan dengan cowok itu, riska mencoba percaya kalau cewek yg jalan sama dia hanya sebatas teman. Setelah itu riska melihat cowoknya meng-upload foto cewek di akun socmednya ditambah dengan caption romantis nan manis. Sontak riska merasa benar-benar hancur, dia merasa selama ini dia dibohongi. Rasa sayangnya yang begitu besar yg melebihi sayangnya kepada Allah hanya dibalas dengan patah hati. Hidup riska jadi kacau, gelap, kuliah ga karuan, tiap malem selalu menangis. Setelah satu minggu merayakan kesedihan, riska mulai bosan dan akhirnya dia pergi kemasjid Agung, berharap nanti disana dia bisa berdamai dengan hati dan masa lalu buruknya. Namun tetap saja, dimasjid pun riska hanya bisa diam melamun meratapi kesedihannya. Kemudian riska mengambil al-qur’an dan membacanya. Setelah membaca al-qur’an riska sudah merasa agak baikan. Lalu sejak saat itu riska sudah mengambil keputusan untuk berhijrah. Riska ingin membuat cowoknya menyesal karna telah meninggalkannya dengan cara dia berhijrah menjadi wanita yg lebih baik lagi.
Kira-kira cerita singkatnya ya seperti itu. Lalu saat itu, sesampainya dirumah setelah acara ketemuan bareng riska ada satu hal yg bisa saya petik setelah mendengar ceritanya. Yaitu, Jalan Hidayah itu banyak. Iya banyak, Ga melulu harus melalui kajian-kajian keislaman, atau mendengar cerita orang-orang yg sukses berhijrah aja. Terkadang tak sedikit juga ada orang yg mendapat hidayah dari hal remeh dan sepele sekalipun. Misal lewat lagu dari Awakening Records. Ada juga yg berhijab karna pada awalnya tertarik dengan fashion hijab masa kini. Bahkan ada juga yg berubah dan berhijrah setelah nonton Kukejar Cintaku Ke Negeri Cina . Atau seperti temen saya tadi Riska, yg mendapat hidayah dan memutuskan hijrah karna PATAH HATI.
Iya saya tau niatnya untuk berhijrah memang ‘salah’. Seharusnya riska berhijrah, menggunakan hijab dan pakaian syar’i semata-mata karna Allah. Bukan sebagai ajang pembuktian diri kalau dia jauh lebih baik dibanding wanita tersebut. Bukan juga karna mengharapkan agar cowok tersebut menyesal karna telah meninggalkannya. Awal bulan agustus kemarin saya sempet nge-chat dia, kira-kira seperti ini chatnya:
Saya : Haloo Riska, gimana kabarnya?
Riska : Hai juga wan. Kabarku baik kok. Tumben nge-chat ada apa?
Saya : Hehe gapapa sih. Btw, gimana kabar hijrahmu? Udah istiqomah?
Riska : Ya begini lah. Kalo dibilang istiqomah kayaknya belum. Tapi satu yg pasti sekarang sedang dan terus diperjuangkan.
Saya : terus gimana, niatnya? Masi tetap kah seperti dulu?
Riska : iya aku tau kok kalau niatku dulu salah. Tapi Alhamdulilah sekarang niatku sedikit demi sedikit sudah aku rubah. Dulu memang aku berubah kayak gini buat menunjukkan kalau aku jauh lebih baik dibanding wanita yg dia pilih dan membuatnya menyesal. Tapi itu kan dulu, sekarang entah kenapa semakin aku menjalani proses hijrah ini, aku malah menjadi benar-benar lupa soal dia dan malah jadi makin semangat buat mendedikasikan Hijrahku ini untuk Allah.
Dari chat tersebut bisa kita lihat jelas, bahwa niat awal seseorang buat hijrah itu tak perlu dijadikan masalah. yang penting dia mau hijrah aja itu udah alhamdulilah banget lo. Toh nantinya seiring berjalannya waktu semakin dalam ilmu agamanya niat awal yg bukan karna Allah akan secara otomatis berubah menjadi untuk Allah dengan sendirinya. Seperti halnya, Riska tadi
Terkadang kita memang terlalu terpaku kepada niat awal seseorang untuk berhijrah sehingga lupa hal penting dalam berhijrah itu pada prosesnya dan bagaimana cara agar tetap istiqomah. Menurut saya niat itu perkara yg tak bisa ditakar. Saya percaya perkara niat akan berubah secara otomatis dan bakal selaras dengan semakin tingginya pemahaman kita tentang agama dan semakin dalam ilmu agama kita. Jadi tak perlu lah kita menghakimi dan bahkan menjudge niat awal seseorang itu berhijrah. Memangnya kalau niat awalnya berhijrahnya “karna pengen membuktikan kalau kita bisa lebih baik dari dia”, “karna pengen ikut-ikutan teman”, “karna setelah nonton Kukejar Cintaku Ke Negeri Cina”, kenapa ha?. Mungkin dapet hidayahnya ya dari situ. Kita sebagai teman ya hanya sebisa mungkin membantu mereka dan mendampingi mereka (yang sedang berhijrah).agar tidak terjerembab lagi kedalam lembah dosa dan terus istiqomah dalam hijrahnya dia. Begitu.
Sebenarnya masih banyak lagi kemungkinan jalan hidayah lain yang memantik kita berhijrah yg mungkin tidak bisa kita bayangkan saat ini, karna terbatasnya pola pikir kita, karna sempitnya pergaulan kita, karna sedikitnya referensi kita. Jika saja kita semua menyadari hal ini, mungkin kita bisa mengurangi kebiasaan kita dalam menjudge dan menghakimi.
Writing Project bersama @xyouthgen bertagar #metamorfoself dengan tema jalan hijrah. Semoga menginspirasi teman-teman semua, meskipun ini bukan cerita saya. Saya pun juga tak tau apakah yang saya tulis ini sesuai dengan tema Project tulisan kali ini. Kalau pun tulisan ini benar-benar tak sesuai dengan tema ya tak jadi apa. Toh niat awal saya menuliskan ini semata-mata untuk bahan renungan saya sendiri, yang nyatanya belum bisa menemukan “Hijrahnya”.
Kalo ditanya soal skripsi, seluruh anggota tubuh mendadak sensi, apalagi pas dompet belum ada isi, melangkah kurang nutrisi, muka jadi segitiga sama sisi. Maaf, ini cuma ilustrasi di era globalisasi. 😂
Jangan memaksakan segala sesuatu dengan 'ending' yang kita inginkan, . karena Allah lebih tau ,,, . di bagian mana kita ditempatkan untuk mengais pahala atas sebuah kesabaran . . Yang terpenting ending "kisah cinta" kita dengan-NYA berakhir indah . Yakni meraih pahala tertinggi ,,, MENJUMPAI dan MENATAP wajah ALLAH ta'ala . . Jagalah kemuliaan diri dengan TIDAK MERATAPI KEADAAN ! Sekalipun kita tak miliki pilihan lain, kecuali pilihan untuk terus menetapi jalan-jalan KESABARAN . . Hiburan terindah untuk hatimu dan hatiku juga . . “Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya lah mereka melihat” . (QS Al-Qiyaamah:22-23) . . ---------- Novie Ch