#3 Surat Cinta untuk Orang Tua
Saya ingin bercerita sedikit mengenai keisengan saya ketika mengobrol dengan orang tua ketika makan malam tadi.
Aku : Mbak di kamar buk, nangis.
Sontaklah ayah dan ibuk kaget dengan raut wajah yang cemas.
Kupandangi wajah mereka berdua lekat-lekat, ayah dengan wajah serius dan khawatirnya sepertinya mempercayaiku. Tapi sepertinya tidak dengan Ibuk, tak memasang wajah yang cukup serius sebagaimana ayah.
Aku : Nggak ngerti. Nangis itu di kamar.
Ibuk pun menanyakan lagi kepadaku, meragukan jawabanku.
Aku : Hehhe, ndak kok. Ndak nangis mbak kok, buk.
Melihat ekspresi Ibuk sepertinya Ibuk sudah mempercayaiku. Namun tak lama, ternyata Ibuk beranjak dari tempat duduknya dan menengok mbak yang berada di kamar. Mereka pun mengobrol dan Ibuk seperti menghibur mbak layaknya mbak sedang bersedih.
Setelah kejadian ini, saya jadi tersadar. MasyaAllah, sebegitu khawatirnya Ayah Ibuk ketika tahu anaknya sedang menangis. Dari lubuk hati, saya berjanji untuk tidak lagi membuat mereka khawatir dan bersedih karenaku. Saya tahu benar bagaimana bingungnya Ayah Ibuk ketika tahu anaknya sedang dalam musibah. Pandangan mereka menjadi kacau, air mata mereka jatuh menyelimuti kesedihan dalam raut wajahnya, dan kata-kata yang mereka utarakan menjadi tak beraturan. Terutama Ibuk, begitulah Ibuk jika mendengar berita duka.
Ternyata, itulah salah satu dari 20 sifat fitrah orang tua yang ditulis oleh Drs. M Thalib yakni sedih ketika melihat anak-anaknya lemah. Sehingga orang tua mempunyai fitrah untuk mendoakan anaknya dengan memohon kepada Allah agar anaknya diberikan kebaikan di dunia dan di akhirat. Dalam buku yang ditulis beliau, lemah disini bisa berarti lemah secara mental dan fisik. Orang tua siapa yang tidak sedih jikalau anaknya sakit, terpuruk, dan segala macam cobaan yang ditimpa oleh anaknya. Sehingga orang tua berharap anaknya mampu menghadapi rintangan hidup dengan penuh kemandirian.
Dari kejadian inilah, akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat tulisan tentang surat cinta kepada orang tua.
_______________________________
Surga begitu dekat denganku, jika aku berbakti kepadamu. Semua amal ibadah yang telah kulakukan akan sia-sia jikalau kalian tak meridhaiku. Apakah ada sesuatu hal yang Ayah dan Ibuk belum ridhai dari diri aku, yah buk?
Tolong sebutkan, aku tak ingin menyesal seperti kisah seorang pemuda yang bernama Alqamah. Sewaktu ajal telah dekat kepadanya, dia tak mampu mentalqilkan ucapan Lailahaillallah. Padahal dia melaksanakan sholat, berpuasa, dan bersedekah. Akan tetapi dia tidak taat kepada ibunya dan dia lebih mengutamakan istrinya dibanding ibunya. Oleh karenanya lidahnya kelu mengucapkan kalimat syahadat dikarenakan ketidakridhoan ibunya.
Aku tak ingin menjadi anak yang lemah dan tak mandiri. Aku tak ingin lagi membuat kalian khawatir dan sedih karenaku. Aku ingin meringankan beban yang ada di pundak kalian dan membuat kalian bangga karena mempunyai anak sepertiku.
Aku ingin menghapus air mata kalian, memberikan senyuman pada wajah kalian, dan menghadiahkan surga untukmu Ayah dan Ibuk. Aku tahu aku masih jauh dari kata berbakti kepadamu, tapi aku akan selalu berusaha untuk tidak membuat kalian sedih, gelisah, dan marah karenaku.
Maafkanlah aku jika selama ini masih banyak kekurangan yang ada di diri ini, Yah Buk. Dan aku mohon ridhoilah aku untuk bisa sukses di dunia ini dan di akhirat kelak. Aku takut akan azab Allah yang mana jikalau aku durhaka kepada kalian maka akan kudapati kesulitan di dunia dan di akhirat.
Aku sangat mencintai kalian, mungkin cintaku ini tak sebesar cinta tulus yang kalian miliki. Tetapi ku ingin mencintai kalian sebagaimana kalian telah mecintai dan menyayangiku sewaktu aku masih kecil. Dan dalam setiap sholatku selalu kurapalkan doa ini, "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil" (Al Isra':24). ________________________________
Writing project bertagar #7harisuratcinta bersama sahabat @xyouthgen @popatochips @dhiyaulmahya @lluviaphile @gadisturatea dan @syuraik.
(1) Memahami 20 sifat fitrah orang tua - Drs. M Thalib
(2) Al Kabair (Dosa-dosa besar) - Imam Adz Dzahabi