Apakah Perasaan Ini Akan Bertahan Selamanya?
Hari ini aku tidak bisa melihat bintang. Satu-satunya keindahan yang aku kagumi di dunia, kini aku melepaskannya untuk selamanya.
Semesta. Satu mantra yang aku ulangi berkali-kali ketika aku muak terhadap dunia.
"Aku harap kau datang dengan kabar baik esok hari."
"Jika bukan besok, aku harap kau akan datang dengan kabar baik lusa nanti."
Namun semesta, bagaimana ini? Bahkan setelah berhari-hari, minggu, bulan, dan tahun kini sudah bergantiㅡkabar baik yang selalu aku nanti-nanti masih saja betah bersembunyi.
Aku seharusnya tahu diri. Melepaskan apa yang harus dilepaskan hingga kedua tanganku kosong tak menggenggam sehelai pun harapan.
Seperti aku sedang berdiri di ruang hampa. Aku tak bisa menemukan setitik pun alasan untuk bertahan.
Ketika aku menoleh kebelakang, kira-kira telah berapa jauh aku berlari? Sudah berapa banyak yang aku hindari? Sampai-sampai aku lelah sendiri seperti ini. Aku tidak ingin pergi sebab masih banyak mimpi yang aku cari.
Semesta. Akhir-akhir ini aku sedang membenci diriku sendiri. Aku benci karena aku marah terhadap hal-hal kecil. Aku benci suara gemericik hujan. Aku benci suara tepuk tangan bahkan tawa dari kejauhanㅡsemuanya terdengar begitu nyaring, memekakan telinga.
Dunia bukan lagi tempat yang menarik bagiku. Bahkan kicau burung paling merdu pun kini terdengar membosankan. Kemana perginya hal-hal indah itu? Kemana perginya nurani lamaku?
Apakah perasaan ini akan bertahan selamanya?
Semesta. Aku benci perasaan ini.