Jingga dan Senja dalam Elegi
Jingga meratapi kisah cintanya. Setiap ia jatuh cinta, selalu saja seperti ini. Ia mudah untuk menyerah jika kisahnya tak berbalas, tetapi sangat berbeda ketika ia jatuh hati pada Senja. Senja selalu membuatnya bertahan pada rasanya, meskipun, senja tak pernah membalas apa yang ia rasa.
Cinta Jingga pada Senja, seperti filosofi bunga Azalea. Bunga yang melambangkan, Keikhlasan, Kesabaran dan Kesederhanaan. Mencintai Senja, mengajarkan ia tentang bagaimana Keikhlasan yang sebenarnya, tatkala, ketika senja masih terbayang pada nona cantik dalam pelukan kenangan, ia harus ikhlas menerima, bahwa Senja masih mencintai seseorang dari masa lalu nya. Mencintai Senja juga mengajarkannya mengenai kesabaran, tentang sabar yang harus ia jaga dalam menunggu, menunggu Senja jatuh hati kepadanya, atau menunggu akhir dari segala kisah eleginya. Dan juga, mengajarkan dia tentang kesederhanaan, seperti bait puisi yang diciptakan Sapardi Djoko Damono, “ Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu , aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada” bait puisi dari penyair favorit mereka.
Jingga hanya ingin menjadi bunga Azela untuk Senja, menenangkan dan meneduhkan setiap sisi kehidupan Senja. Namun, Elegi melingkupinya, tentang bagaimana ia harus menunggu senja terlepas dari pelukan kenangan masa lalu nya.
Sementara Senja, masih saja dengan Eleginya, mencintai nona cantik yang sudah menemukan pangeran pujaannya, rindunya pada nona cantik membuat ia memeluk kenangan dengan kuatnya. Nona Cantik masih saja menari dalam pikirannya, dan bergelantung dalam hatinya. Ia tak mampu menepis bahwa rasanya hanya ada untuk nona cantik, tetapi, sekarang, ia tahu, bahwa ada si Bunga Anyelir cantik dan Jingga yang hadir dalam kehidupannya. Ketiganya, masih menjadi misteri, Senja berada pada pilihan hati yang tidak ingin ia pilih oleh sebab alasan pedih.
Tentang nona cantik, ia adalah kenangan dalam kisah masa lalunya, perasaannya pada nona cantik masih sangat kuat dan tak mungkin dengan mudah untuk ia lepas. Tentang jingga ? Jingga hanya teman untuk berbaginya, tapi, Jingga selalu ada dalam setiap bilah kehidupan nya, Jingga yang mampu mewarnai sedikit hidupnya, mengobati sedikit luka nya, dan meneduhkan kisah dalam setiap perjalanan nya. Dan Anyelir cantik ? Orang baru yang membuatnya penasaran, dan membuatnya mendekati, setelah itu, ia melangkah perlahan dari kehidupan Anyelir karena rasa penasarannya sudah ia dapat dan ia sudah mengetahui Anyelir dari segi yang ia sebut dengan penasaran.
Dan saat ini, Jingga maupun Senja, masih berada dalam Elegi masing-masing. Jingga dalam Elegi mencintai Senja. Sementara Senja, dalam Elegi mencintai nona cantik.