To heavens go
seen from United States
seen from Singapore
seen from Malaysia
seen from United States

seen from India

seen from United States

seen from Colombia

seen from Bangladesh

seen from Australia

seen from Russia
seen from United States

seen from China

seen from Malaysia
seen from Austria

seen from Italy
seen from Canada

seen from Ukraine
seen from Malaysia

seen from United States

seen from Serbia
To heavens go
Sukses
Menurutku kita berhak mendefinisikan sukses dengan versinya masing-masing. Tidak harus sama dengan orang lain, tidak harus ikut standar orang lain, tidak perlu validasi orang lain. Kenapa? Karena kita berbeda sudut pandang, keadaan, titik berangkat, medan juang, juga puncak kebahagiaan.
Mungkin, bagi si A sukses itu ketika sudah menjadi wirausaha di saat usia muda belia.
Bagi si B sukses itu ketika berhasil menyelesaikan studi hingga doktoral.
Bagi si C sukses itu menjadi petani yang makmur di kampung halaman.
Bagi si D sukses itu menjadi peternak yang handal.
Bagi si E sukses itu bisa menjadi karyawan di perusahaan multinasional.
Bagi si F sukses itu bisa menjadi abdi negara.
dan lain sebagainya.
Jika kita mencapai puncak kebahagiaan, mendapatkan apa yang kita definisikan sebagai sebuah kesuksesan, sepertinya tidak perlu untuk sesumbar.
Selain tidak baik memupuk benih-benih jumawa, nyatanya nanti kamu malu sendiri karena orang lain tidak benar-benar kagum dengan kesuksesanmu hanya karena definisi sukses menurutnya beda versi denganmu.
Jika kamu sudah mendapatkannya, maka jaga baik-baik. Menjadi versi terbaik di jalan kesuksesan kita masing-masing. Tidak perlu validasi, pengakuan, terlebih gila penghormatan.
Sebenarnya tulisan ini sebagai pengingat diriku sendiri, agar kelak ketika aku sudah mendapatkan definisi kesuksesan versiku, aku tidak lantas lupa diri. Di atas langit masih ada langit.
Selagi kita masih sama-sama menjadi hamba yang sama-sama meminta segala sesuatunya sama Allah, apa yang harus disombongkan?
Malam, 15 Oktober 2020
Si Jahanam dari masa lalu.. Terkenang dengan adegan Sule di sebuah acara lawak, Sule yang jelas-jelas bersalah dengan lihainya berhasil membalikkan kesalahan kepada Aziz sehingga membuat Aziz hilang akal dan malu sendiri.
Apa yang patut dibanggakan dengan menjadi tanggungan negara?...
...tanpa pengabdian tentunya.
Dua tahun lalu, saya dinyatakan menjadi salah satu awardee dari sebuah beasiswa dari Kementrian Keuangan yang sekarang ini menjadi beasiswa paling populer sejagat pelajar Indonesia. Sebut saja beasiswa ini adalah beasiswa LPDP. Beasiswa ini bisa dibilang lebih populer daripada beasiswa-beasiswa dari Kementrian Pendidikan ataupun beasiswa lain. Sayapun kini telah menggunakan dana dari beasiswa ini untuk berkuliah di salah satu perguruan tinggi favorit di Bandung. Beberapa dananya saya habiskan untuk makan, transportasi, beli buku, dan kadang-kadang pelesiran. Maaf.
Euforia kebanggaan saya rasakan di tahun pertama setelah saya dinyatakan lulus beasiswa itu. Bagaimana tidak, saya mendapatkan banyak teman-teman baru, dari berbagai bidang keilmuan, dari berbagai daerah. Mereka ada yang melanjutkan di perguruan-perguruan tinggi terbaik di Indonesia, dan tidak sedikit juga yang melanjutkan ke luar negeri. Seketika saya berada di lingkungan yang always lifting me up. Disamping itu, orang tua saya mungkin menjadi orang yang lebih bangga daripada saya sendiri mendengar kabar saya lolos beasiswa ini. Seperti anak lainnya yang berambisi membuat orang tua selalu bangga akan pencapaian saya, saya merasa berhasil kala itu.
Namun, di sisi-sisi lain, ada rasa yang tadinya murni menjadi ternodai. Ada jumawa yang mengintip di lubuk hati. Mungkin tidak hanya saya yang merasakannya. Mungkin semua awardee. Percikan jumawa itu menjadi cobaan terberat bagi hati-hati kami yang lemah ini.
Padahal, apalah kami. Apalah saya.
Keberuntungan mungkin adalah satu-satunya yang harus diterimakasihi. Kasih Allah yang membawa kami sampai sini.
Padahal, ada keringat-keringat rakyat Indonesia yang kami terima, melalui pajak yang mereka bayarkan. Mereka kini menunggu balasan dari kami. Ada janji yang kami tanggung. Ada harapan yang kami pikul. Dari mereka, ratusan juta penduduk Indonesia.
Padahal, kami hanya orang-orang yang sesungguhnya hanya meminta. Mengemis pada negara. Kemudian mereka berbaik hati mengasuh kami. Berharap kami tumbuh besar dan kembali mensejahterakan saudara-saudara kami. Tapi justru kami malah menghambur-hamburkan yang mereka berikan. Menyia-nyiakan kepercayaan. Atau bakhan ada yang lupa jalan pulang.
Apa yang bisa dibanggakan dengan menjadi seorang pengemis?
Santai-santai kuliah, bahkan mungkin ada yang memandang rendah mereka yang kuliah tanpa beasiswa. Justru mereka yang sanggup mendanai diri sendiri adalah mereka yang independent, mandiri. Lebih hebat dari kami.
Apa yang bisa dibanggakan dengan menjadi seorang anak manja yang pura-pura tidak tahu jalan kembali?
Maafkan kami yang belum bisa membalas budi. Maafkan jumawa ini yang sering muncul dan menampakkan diri. Maafkan kami yang hanya memikirkan diri sendiri dan hanya ingin membanggakan keluarga kami saja, padahal kebanggaan itu hanyalah kebanggaan semu.
Kami yang belum punya prestasi. Belum bisa memberikan pengabdian nyata. Belum bisa memberikan perubahan baik pada Indonesia. Memang jumawa ini yang kadang menutup mata kami. Menjadikan kami seakan lumpuh pada janji yang dulu kami buat sendiri.
When you have no tool, but have yes skills. Aku sih iyes. (((yes skill jareee))) . . #sombong #congkak #jumawa #passportwallet #passportcover #passportwallets #passportcase #dompetpaspor #holiday #travelling #instatravel #instaleather #leathergoods #dompet #leatherpassport #souvenir #leather #weddingsouvenir
Cantik Pintar Baik Sedikit jumawa. Tak akan berubah. Jika tidak suka kau boleh pergi. Tidak ada yang memaksa.
Ketika ketemu mantan secara ga sengaja, jangan lari. Jumawa-lah
Pikirandom