Sejak kecil, aku selalu kagum pada banyak orang hebat di sekitarku. Aku kagum pada guru yang pandai mengajar di depan kelas. Aku kagum pada atlet badminton yang smashnya begitu kuat. Aku kagum pada ilmuwan yang menemukan hal-hal baru. Aku kagum pada musisi yang bisa menciptakan lagu yang indah. Tapi, rasa kagum itu hampir tidak pernah berubah menjadi rasa iri. Aku senang melihat orang-orang hebat dan menikmati karya mereka. Tapi, aku hanya iri pada seorang pelukis. Atau dulu, pada orang-orang yang pandai menggambar. Setiap kali melihat mereka, selalu ada rasa iri yang muncul.
Saat SMP, aku punya seorang teman yang sangat pandai menggambar. Saat itu, aku juga suka menggambar. Tapi, kemampuanku tidak lebih dari menjiplak gambar yang sudah ada. Sedangkan temanku berada di level yang berbeda. Ia bisa duduk dengan selembar kertas kosong di depannya, lalu mulai menggoreskan pensil hingga muncul garis, lalu bentuk, sampai menjadi gambar yang membuatku hanya bisa melongo saat melihatnya. Yang lebih membuatku heran, ia melakukannya dengan sangat mudah. Seolah-olah gambar itu memang sudah ada di kepalanya, lalu tangannya hanya bertugas memindahkannya ke atas kertas.
Aku pernah mencoba belajar menggambar lebih serius. Mencoba meniru gambar-gambar yang kusukai. Mencoba memahami bagaimana orang bisa membuat gambar yang begitu hidup. Tapi semakin kucoba, semakin aku sadar bahwa kemampuan itu memang tidak kumiliki. Aku bisa menjiplak dan meniru, tapi aku tidak bisa melakukan apa yang dilakukan temanku: menciptakan gambar dari kertas kosong.
Saat masa kuliah, setelah selesai membaca novel Perahu Kertas, aku kembali iri pada seorang pelukis. Namanya Keenan. Yang membuatku iri bukan karena ia berbakat dan bisa menjual lukisannya dengan harga mahal. Tapi, kemampuannya menghidupkan sesuatu yang sebelumnya hanya ada di kepala orang lain.
Kugy bercerita lewat tulisan dongengnya. Keenan lalu melukiskannya.
Kugy membayangkan sebuah dunia. Keenan lalu membuat dunia itu bisa dilihat oleh orang lain.
Bagiku, kemampuan itu terasa seperti sihir.
Yang aneh, perasaan itu tidak hilang meskipun aku akhirnya tumbuh menjadi seorang penulis.
Aku menghabiskan sebagian besar hidupku bersama kata-kata.
Aku juga berteman dengan cerita.
Tapi setiap kali melihat seorang pelukis bekerja, rasa iri itu tetap muncul.
Hingga hari ini, aku masih sering terpukau ketika melihat orang menggambar, terutama pelukis. Mereka hanya duduk dengan selembar kanvas kosong. Lalu beberapa menit kemudian, sesuatu mulai muncul. Garis, bentuk, wajah, dunia. Aku tentu tahu prosesnya tidak sesederhana itu. Pasti ada latihan bertahun-tahun di belakangnya. Tapi tetap saja, setiap melihatnya, rasanya seperti sedang melihat sebuah sihir.
Kalau semisal Tuhan memberiku satu kehidupan lagi untuk dijalani dari awal, aku ingin diberi bakat melukis. Aku ingin menjadi seorang pelukis. Bukan karena aku tidak menyukai pekerjaanku sekarang sebagai penulis. Aku hanya penasaran, bagaimana rasanya melihat sebuah halaman kosong, lalu perlahan mengubahnya menjadi sesuatu yang hidup.
Banyak hal yang bisa dilakukan seorang pelukis, tapi tidak bisa dilakukan seorang penulis. Dan sebaliknya.
Seorang pelukis bisa membuat orang berhenti dan terdiam hanya dengan satu gambar.
Ia bisa menunjukkan kesedihan tanpa satu kalimat pun.
Ia bisa menunjukkan kerinduan tanpa perlu menjelaskan apa-apa.
Tapi, hidupku memang tidak akan pernah menjadi pelukis. Karena itu, setiap kali menulis, aku selalu melakukan hal yang sama. Aku berusaha menggambar. Bukan dengan pensil atau dengan cat, melainkan dengan kata-kata.
Aku menggambar sawah tempat ayahku bekerja.
Aku menggambar seorang anak kecil yang berjalan di pematang.
Aku menggambar kehilangan.
Aku menggambar hal-hal yang sudah lama berlalu.
Bedanya, pelukis menggunakan garis dan warna. Sementara aku menggunakan kalimat.
Meskipun terdengar konyol dan memang tidak mungkin, kalau suatu hari nanti Tuhan benar-benar memberiku kehidupan kedua, aku tetap ingin menjadi pelukis. Supaya aku tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang selama ini paling berhasil membuatku iri.