Lagi ngobrol via chat sama seorang teman, tapi saling ga memahami maksud satu sama lain.
Mungkin karena saya ribet lagi sambil kerja, dia juga. Urusan sepele, cuma perkara saya mencoba mengapresiasi hal baik yang dia lakukan buat saya, tapi dia ga ‘nangkep’ cara saya nyampeinnya. Saya jadi agak bete, padahal cuma pengen ngasih tau ke dia betapa yang dia lakukan itu berarti banget buat saya meskipun keliatannya cuma hal kecil tapi berat (literally berat karena bawa barang berat wkk).
Saya coba jelasin berkali-kali, dia juga coba konfirmasi berkali-kali, tapi tetep aja ga menemukan kesepahaman. Sampe akhirnya saya nyerah, udah ga mau ngejelasin🏳️
Lalu dia bales kaya gini:
Kemarin di tengah ke-hectic-an urusan kerjaan, sekilas baca chat-nya ini bikin terenyuh. Mungkin dia asbun, mungkin dia cuma sekadar chat. Tapi apa yang dia bilang ini bikin saya pagi ini jadi berefleksi tentang relasi di dalam hidup:
1. Semua hubungan perlu diperjuangkan.
2. Tidak menyerah dengan satu sama lain adalah aksi ‘saling’, ga bisa hanya satu sisi aja.
Seseorang di masa lalu pernah nyeletuk, “Enak ya kamu, selalu punya temen buat diajak kemana-kemana, selalu ada yang ngajak kamu main.”
Waktu denger itu saya agak sebel🫨
“Enak” ini tuh diperjuangin. Perlu waktu, energi, ketulusan untuk menjalin, menjaga, dan memelihara hubungan sama orang lain.
Is it worth it? When you met and choose the right one (or two, or group), it is.
Salah satu rezeki yang berharga, adalah dibersamai dengan orang-orang yang low maintenance tapi kualitas hubungannya bisa tetep baik dan oke. Seengganya buat saya pribadi, ga nyerah untuk terus bisa punya relasi baik sama orang yang saya pengenin terus ada di hidup saya tuh hal yang ga akan ragu untuk saya lakukan. Apalagi kalo saya ngerasa orang itu punya mutual feeling & effort untuk juga menginginkan saya tetap ada di semesta mereka. Jadi ya konsepnya di hubungan tuh ngasih iya, nerima iya. Saling!
Walaupun begitu, sepaket dengan menjaga, saya juga belajar buat melepaskan ikatan (atau ketergantungan diri) dengan orang-orang yang memilih untuk keluar dari bubble hubungan dengan saya. Awalnya berat, tapi ya pelan-pelan belajar. Gapapa. People come and go, right?Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Oleh karena itu ya emang ga semua orang/pertemanan mesti di-maintain (kita ga punya waktu dan energi sebanyak itu untuk melakukannya). Apalagi kalo kita sadar ada hal yang toxic dari orang/hubungan itu. Tetep prioritas utama adalah ketenangan diri sendiri~
Sherina bahkan meng-upgrade lirik lagunya 23 tahun lalu dari yang sebelumnya “Punya banyak teman betapa senangnya,” menjadi “Bersama berdua betapa senangnya.” Perlahan semakin beranjak usia, lingkaran pertemanan yang kecil membuat kita bisa merasa lebih aman dan nyaman untuk bersosialisasi. Tapi sekecil apapun lingkaran itu, selama orang-orang di dalamnya masih “saling”, ya tetep perlu dipelihara kan hubungannya☺️
Di hidup yang hanya satu kali ini kita jalanin, mari saling memberi warna dan memberikan kebahagiaan buat satu sama lain🌈
Buat orang-orang tersayang di hidup saya: I won’t give up on us, guys (s&k berlaku: asal kalian ga main judi online, berbuat kriminal, atau ngelakuin hal-hal aneh lainnya yang bisa menjerumuskan diri ke neraka dunia dan neraka akhirat😭)
Dari sebuah chat “jangan nyerah sama aku”, yang membawa saya pada refleksi pagi tentang relasi. Semoga kita selalu tau kepada siapa hati kita layak untuk diberi, dan perjuangan kita untuk ga menyerah layak untuk dilakukan.
—
Cilandak, 15/11/2023 | 07.45
Sambil minum teh anget dan biskuit gandum














