“mungkin”
Selalu ada kata “mungkin” dalam setiap pengharapan. Seperti dua sisi mata uang yang setiap sisinya punya kisah yang berbeda.
Pada mulanya aku menganggap “mungkin” adalah sikap pengecut dari keragu-raguan. Tapi belakangan aku percaya bahwa “mungkin” adalah sebuah upaya untuk mau tetap berharap. Berharap bahwa “mungkin” bisa memperbaiki sebuah hubungan yang pernah rusak, berharap bahwa “mungkin” kita bisa memulai sesuatu yang baru, berharap “mungkin” setelah semua yang terjadi bisa menjadi lebih baik.
Tapi barangkali bukan soal itu. Bukan soal kemungkinan-kemungkinan. Ini tentang bagaimana diri mampu jujur dengan perasaan sendiri. Sebab dalam sebuah hubungan ada dua perasaan manusia yang tak bisa dikendalikan. Sebesar apapun rasa sayangmu, jika pasanganmu tidak memiliki perasaan serupa, ia hanya akan jadi penjara. Seperti rasa sakit yang kita syukuri keberadaannya.
Tulisan ini seperti usaha untuk menyusun kalimat perpisahan, semacam pamit tanpa terucap.
"Barangkali tidak akan ada lagi usaha mencintai dari jauh, berharap dari ruang yang abu-abu".
Sebab kadangkala rasa dan logika sulit sekali bertegur sapa.
Mulai berhenti jadi penguntit, berhenti berharap pada yang tidak mungkin. Karena harapan kadang hanya akan menjadi duka. Jika berharap bisa bersama, maka akan ada hati yang tersakiti, akan ada manusia lain yang terluka, ia mungkin menderita, dan aku tidak mau itu. Hanya dapat merelakan, berpikir bahwa “mungkin” akan jadi lebih baik jika tetap sendiri, seperti ini.
Tapi “mungkin” bukan berhenti berharap tapi berhenti menaruh harap...
~ @eminusdoleo












