Ada pria yang tidak pernah benar-benar mati.
Ia hanya belajar mati berkali-kali.
Mati pada pagi yang masih menyimpan namamu di sudut cangkir kopinya. Mati pada sore yang tiba-tiba mengingatkannya pada tawa yang pernah membuat dunia terasa ringan. Mati pada malam yang terlalu sunyi hingga kenangan berjalan tanpa alas kaki di dalam kepalanya.
Setiap kali ia mencoba membunuh cintanya, yang tumbang justru dirinya sendiri.
Ia mengubur rindu itu jauh di bawah tanah kesibukan. Menimbunnya dengan pekerjaan, perjalanan, dan pertemuan-pertemuan yang tak bermakna. Namun cinta memiliki cara aneh untuk bertahan hidup. Ia tumbuh seperti akar yang diam-diam menembus batu.
Maka pria itu mati lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Hingga suatu hari, ia tidak lagi menghitung berapa kali hatinya runtuh.
Ia bangkit dengan wajah yang sama, tetapi membawa jiwa yang berbeda. Seperti seseorang yang pulang ke rumah lamanya dan tak lagi mengenali letak pintu. Ia menghapus jejakmu satu per satu. Bukan karena membenci, melainkan karena terlalu lelah mengingat.
Ia menghapus suara.
Menghapus aroma.
Menghapus kemungkinan.
Menghapus masa depan yang pernah ia bangun diam-diam bersamamu.
Yang tersisa hanyalah fakta bahwa kau pernah nyata.
Dan justru itulah bagian yang paling sulit dibunuh.
Sebab kenangan yang nyata tidak tinggal di kepala. Ia bersembunyi di tempat-tempat kecil: pada lagu yang tak sengaja terdengar, pada jalan yang pernah dilewati berdua, pada langit yang kebetulan memiliki warna yang sama seperti hari ketika semuanya dimulai.
Pria itu akhirnya mengerti.
Melupakan bukanlah kemenangan.
Melupakan hanyalah bentuk lain dari bertahan hidup.
Maka ia berjalan terus, membawa bekas luka yang telah berubah menjadi peta. Tak lagi mencari jalan pulang kepadamu, tak lagi berharap waktu berbelas kasih.
Karena setelah mati berkali-kali demi membunuh cintanya, ia sadar bahwa yang benar-benar harus dikuburkan bukan dirimu.
Melainkan versi dirinya yang masih menunggumu kembali.
Dan ketika versi itu akhirnya mati, untuk pertama kalinya, ia bangkit bukan sebagai seseorang yang kehilangan cinta.
Melainkan seseorang yang berhasil selamat darinya.
@gramabiru | Mati berkali-kali dengannya
















