Sebuah tempat kecil bagian dari Desa Gunungsari, Kota Batu, Jawa Timur. Ruang berbagi rasa tentang masyarakat desa dengan sapi perahnya, susu dan tai sapinya, pembangkit energi biogasnya dan wisata alam serta keramahtamahan masyarakatnya. Lestari Alamku, Lestari Desaku
Dusun Brau, Ada Suka Ria Dan Kehangatan Hati Di Sana.
Hari itu Sabtu tanggal 28 Januari 2017, Dusun Brau nampak ramai, ada serombongan Bapak-Ibu dengan mengenakan kaos bertuliskan “Fapet UB’86 Goes To Brau” di bagian depan, dan tulisan “Yuk Dulurku Bahu Membahu Membantu Warga Brau” di bagian punggung.
Reuni Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Angkatan 86
Rupanya Bapak-Ibu itu sedang mengadakan acara reuni kecil-kecilan sambil meninjau beberapa unit biogas bantuan dari komunitas mereka, dengan tajuk “Jumpa, Sapa dan Karya Nyata”
Berbagai kegiatan mereka lakukan disana, yang intinya tetap dengan semangat berbagi, Mereka berjalan beriringan dalam guyuran rinai hujan gerimis mengunjungi satu persatu warga penerima bantuan biogas yang merupakan hasil dari pengumpulan uang secara sukarela rutin perbulan melalui rekening bersama Alumni Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang Tahun Angkatan 1986.
Di sela-sela acara tetap di sempatkan untuk berbagi, ada beberapa peralatan sholat seperti mukena, sarung dan sajadah di bagikan kepada para orang tua, sedangkan kepada anak-anak Brau di bagikan peralatan sekolah seperti : buku tulis, pensil, penggaris dll.
Semua tersenyum lebar dan berbahagia bisa mengunjungi Dusun Brau nan cantik dan bersahabat, tanpa di duga sebelumnya ternyata sambutan warga Brau juga sangat mengharukan, mereka sempatkan membelanjakan uang pribadi untuk menjamu . Alhasil susu segar, nasi jagung, urap-urap, sayur pedas ikan asin, peyek, kerupuk, buah-buahan dan cemilan tersedia dan menjadi santapan yang tidak terlupakan kelezatannya.
Kenangan indah bersama Warga Brau, tidak mungkin bisa terlupakan begitu saja, ketulusan hati dan keramahtamahan warga Brau terukir indah di hati sanubari yang terdalam, semoga ada satuu masa kita bisa bersua kembali.
Pahlawan Pemberdayaan - Pahlawan Untuk Indonesia 2016 MNC Media
MNC Media pada 2016 kembali menyelenggarakan program awarding ‘Pahlawan untuk Indonesia’. Program ini digelar untuk memberikan penghargaan kepada sosok-sosok yang berdedikasi tinggi, inovatif, dan melaksanakan kegiatan inspiratif yang bermanfaat bagi banyak orang.
Sampai saat ini, tim sudah menjaring 18 kandidat untuk kemudian diputuskan sebagai sosok yang layak mendapat penghargaan dalam event ‘Pahlawan untuk Indonesia’ kelima ini. Nama-nama disesuaikan dengan sembilan kategori untuk penganugerahan pahlawan untuk Indonesia.
Kategori Lingkungan
Pertama, Markus Hayon, pria asal Flores Timur, NTT, menjadi kandidat atas inisiatifnya menanam pohon jati dan mahoni di lahan seluas 52,7 hektare di sepanjang Pantai Samasoge sampai Desa Botung, Adonara, Flores Timur, NTT. Aksinya dimulai pada 2003. Tindakan penghijauan itu dinilai sangat berjasa untuk mengatasai kekeringan di sebagian daerah NTT. Kedua, Ismail Mustaming, pria asal Berau, Kalimantan Timur, itu menjadi pelestari laut dengan cara membangun kesadaran masyarakat menggunakan alat tangkap ikan ramah lingkungan.
Kategori Pendidikan
Rosa Dahlia (26) perempuan yang berani meninggalkan kehidupan nyamannya di Pulau Jawa, sejak tahun 2013 rela mengajar di desa pedalaman Papua bernama Tiom. Ia harus berjuang dalam memberikan akses pengetahuan dengan banyak kendala yang harus ia hadapi. Mulai perbedaan budaya, bahasa, sampai adat itulah Rosa tetap bertahan demi mengubah kondisi anak-anak pedalaman Papua untuk membangun kreativitas dan pengetahuan mereka. Membuat majalah, bahkan mendirikan organisasi di Papua itu akhirnya mulai tampak menunjukkan hasil yang baik. Mereka (anak-anak Papua-red) sudah mulai mengenal dan menguasai teknologi.
Kedua, Syafarudin yang biasa disebut Pak Taktung. Ia rela mengorbankan waktunya untuk mengajari anak-anak Suku Talang Mamak, Anak Dalam, dan Melayu Tua yang biasa hidup di kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Desa Rantau langsat, Indragili Hulu, Riau. Meski hanya lulusan SD, ia berhasil mendirikan empat sekolah.
Kategori Kesehatan
Gisela Borowka, perempuan asal Jerman itu memenuhi panggilan hatinya untuk mengabdi di lintas negara. Perempuan dengan sebutan akrabnya Mama Barat itu, sejak 45 tahun lalu ia memutuskan untuk menghabiskan hidupnya demi menolong warga yang mengidap penyakit kusta di Kawasan Lembata dan Pulau Alor, Flores Timur, Nusa tenggara Timur (NTT).
Kandidat kedua adalah Bidan Rosmiati, ia dinilai berjasa karena berhasil merumuskan dan menjalankan berbagai terobosan untuk membantu proses pertolongan kelahiran di sebuah desa bernama Tunggal Rahayu Jaya, Kecamatan Teluk Belengkong, Kabupaten Indragili Hilir, Riau. Masyarakat, atas Jasa Bidan Ros memiliki kesadaran untuk mengumpulkan dana rutin untuk persalinana para ibu-ibu di desa tersebut.
Kategori Pemberdayaan
Masjoko Silama, salah seorang pemuda yang menjadi kepala desa di Luwuk Banggai, Sulawesi tengah, menjadi aktor pemberdayaan sistem cluster potensi masyarakat di desanya. Berkat sentuhan dan kerja kerasnya pola pikir warga yang semula selalu berkonflik dengan desa tetangga behasil diubah dengan pembinaan dan pemberdayaan ekonomi.
Kedua, Yuli Suhigartati (46) yang melakukan pemberdayaan di dusun Brau, Batu, Jawa Timur. Mantan tenaga kerja wanita (TKW) ini setiap dua minggu sekali menaiki motor dari Blitar tempat ia tinggal untuk melakukan pemberdayaan masyarakat demi menyelamatkan lingkungan. Kotoran sapi ia ubah menjadi biogas. Bahkan ampas kotaran ternak ia ubah menjadi reaktor listrik dan makanan ternak dan pupuk organik.
Ketiga, Abdi Nur (48), pria asal Kuala Tungkal, Jambi, itu merintis sebuah usaha mikro dari bahan batang resam dijalin di antara batang rotan sebagai tulang bubu kemudian dibuat berbagai jenis kerajinan dari resam, seperti topi, tas, tempat tisu, vas bunga, wadah makanan, tikar, dan berbagai jenis peralatan rumah tangga yang bermanfaat.
Sosok inspiratif yang satu ini datang dari Blitar, Jawa Timur. Seorang perempuan lulusan Ilmu Pertenakan menyumbangkan ilmunya untuk membantu warga membuat biogas di Dusun Brau.
Membantu masyarakat setempat mengolah kotoran sapi menjadi biogas dan bio slurry. Biogas digunakan untuk memasak dan penerangan sedang bio slurry, ampas kotoran yang keluar dari reaktor, setelah diproses bisa dijadikan makanan ternak cacing serta pupuk organik.
Dua minggu sekali, ibu tiga anak ini menaiki motor dari rumahnya di Blitar menuju Dusun Brau, Batu, Malang (Jatim). Tebing tinggi dan jalanan curam sama sekali tak jadi penghalang mantan TKW ini untuk memberdayakan masyarakat desa Brau demi menyelamatkan lingkungan. Wanita hebat ini adalah Yuli Sugihartati (48). Latar belakang sebagai sarjana peternakan ia gunakan untuk mendidik warga mengolah kotoran sapi perah menjadi biogas. “Meski tidak dibayar, tapi saya sangat bahagia karena bisa berguna untuk sesama,” kata wanita bertutur kata halus tersebut.
Apa sih yang Anda lakukan di Brau?
Saya membantu masyarakat setempat mengolah kotoran sapi menjadi biogas dan bio slurry. Biogas digunakan untuk memasak dan penerangan sedang bio slurry, ampas kotoran yang keluar dari reaktor, setelah diproses bisa dijadikan makanan ternak cacing serta pupuk organik.
Kenapa Anda memilih Brau?
Ceritanya, akhir 2013 saya diminta LSM Yayasan Alam Bumi Lestari (Yabule) yang bergerak di bidang konservasi alam serta pemberdayaan masyarakat untuk mencari kawasan yang lingkungannya mulai rusak dengan jalan memberdayakan masyarakat untuk melakukan penyelamatan. Dari sekian banyak lokasi akhirnya kami pilih Dusun Brau ini. Lokasinya cukup tinggi, sekitar 1400 mdpl, tepatnya di puncak Kota Batu.
Dulunya Brau adalah kawasan yang sangat indah. Selain udaranya sejuk dan kawasan hutannya cukup lebat, lahan pertanian kentang dan wortel juga cukup luas. Tetapi sekarang tidak lagi. Pasalnya, masyarakat setempat suka memotong tanaman untuk dijadikan sebagai kayu bakar, baik untuk memasak maupun membuat perapian penghangat tubuh.
Program pemerintah dengan memberikan tabung gas kurang efektif mengingat memotong tanaman sudah menjadi kebiasaan sejak lama. Sekarang bisa dilihat sendiri, kawasan sini terlihat gersang dan gundul. Tak hanya kerusakan hutan, tapi juga ada hal lain yang tak kalah merusak.
Apa itu?
Ketika saya memasuki dusun ini, kotoran sapi yang berbau tak sedap berserakan begitu saja di jalan-jalan. Karena kondisi alamnya bertebing, ketika hujan, kotoran itu terbawa air dan meluber ke halaman rumah atau jalan di bawahnya. Kotoran itu berceceran karena para peternak tidak memiliki penampungan, apalagi pengolahan kotoran sapi. Mayoritas warga Brau memang peternak sapi perah dengan populasi sangat tinggi. Bayangkan, warga Brau hanya 60 kepala keluarga tetapi jumlah sapinya sini mencapai 200 ekor lebih. Dan kita tahu kotoran ternak sapi itu sangat merusak lingkungan kalau tidak diolah.
Sebetulnya, apa dampak kotoran sapi terhadap lingkungan?
Ini yang perlu diketahui. Kotoran sapi memiliki dampak merusak lingkungan yang sangat tinggi. Gas metan sebagai perusak ozon yang keluar dari kotoran sapi 60 kali lebih tinggi dari sisa pembakaran yang keluar dari knalpot motor maupun pabrik.
Karena itu, dulu tanah di Brau ini sangat subur. Aneka tanaman sayur-sayuran mulai kentang, wortel, kol dan sebagainya tumbuh dengan baik. Tapi setelah air sungai maupun tanahnya tercemar kotoran sapi, kondisinya sekarang jadi rusak.
Lalu?
Kami melakukan pemetaan. Setelah mendapat izin dari aparat desa setempat, kami kemudian menemukan solusi agar masyarakat tidak menebang pohon sebagai kayu bakar. Caranya kami ajari mereka membuat biogas. Dengan biogas, ada banyak manfaat yang didapat. Masyarakat juga tak perlu mencari kayu ke hutan serta tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli gas elpiji. Itu belum termasuk manfaat bio slurry yang bisa dijadikan pupuk kompos.
Bagaimana mengawalinya?
Karena reaktor itu sendiri harus dibeli, maka pertama kali kami mencari bantuan dari berbagai pihak, termasuk uang patungan dari teman-teman LSM. Setelah terkumpul, Februari 2014 kita membeli satu reaktor dan ditempatkan di rumah warga bernama Pak Marsaid. Begitu biogas itu berhasil, masyarakat pun mulai melirik teknologi ini.
Tapi, sebenarnya untuk sampai tahap menerima memang tidak mudah. Sebab sebelumnya sudah ada masyarakat yang membuat biogas tetapi gagal. Mereka kecewa, sudah menghabiskan uang cukup banyak namun tidak berhasil. Yang penting lagi adalah memberi pemahaman tentang peralihan dari pemakaian kayu ke biogas demi menyelamatkan lingkungan.
Caranya bagaimana?
Ya, dengan melakukan pendekatan. Saya sering ngopi sambil ngobrol dengan bapak-bapak di pinggir jalan desa sampai jam 12 malam. Saat itulah saya melakukan edukasi kepada mereka. Tentu pendekatannya dengan “gaya warung kopi” alias tidak formal. Semua itu saya lakukan pelan-pelan. Alhamdulillah akhirnya bisa diterima. Saat ini di Brau sudah ada 9 reaktor berukuran 6 m3 dan satu lainnya berukuran 12 m3.
Sekarang warga mulai sadar sehingga banyak sekali yang mengajukan dibuatkan reaktor. Warga rela meski harus membayar dengan cara mengangsur. Justru kami yang kewalahan sebab kami juga mencari dana bantuan agar masyarakat tidak terlalu berat. Selama ini masyarakat hanya menanggung setengahnya, sisanya kami carikan dari berbagai lembaga termasuk BUMN Jasa Tirta yang pernah menyumbang tiga reaktor serta patungan dari teman-teman Yabule.
Untuk 1 reaktor berukuran 6 m3 harga sekaligus pemasangannya sekitar Rp10 juta. Reaktor bukan buatan kami.
Seberapa besar biogas yang dihasilkan oleh satu buah reaktor?
Satu reaktor ukuran 6 m3 bisa digunakan dua rumah, masing-masing rumah bisa memakai pagi-siang-sore/malam masing-masing 3 jam.
Bagaimana sebetulnya cara kerja biogas pada reaktor?
Setiap pagi, peternak mengumpulkan kotoran sapi kemudian memasukkannya ke dalam lubang mirip sumur kecil. Kotoran tersebut dicampur dengan air dengan perbandingan 1 banding 1. Di atas sumur tersebut ada semacam pengaduk yang fungsinya mirip seperti mixer untuk mengaduk kotoran sapi supaya benar-benar hancur.
Setelah itu, melalui saluran yang sudah ada, kotoran dimasukkan ke dalam reaktor yang berupa bejana atau tabung yang ditanam dalam tanah. Tabung tersebut hampa udara dan ada mikro organisme yang fungsinya mengubah gas metan menjadi energi. Dari bejana itu ada saluran pipa menuju dapur dan langsung disambungkan ke kompor masing-masing rumah. Sedang ampasnya (bio slurry) yang sudah tidak mengandung gas metan akan keluar dengan sendirinya di saluran yang berbeda. Sejak berdiri sampai sekarang, berarti kami sudah menyelamatkan ribuan kubik kotoran sapi yang berpotensi merusak lingkungan karena mengeluarkan gas metan.
Omong-omong, Anda tidak tinggal di Brau ya?
Ya, saya tinggal di Desa Ngaringan, Gandusari, Blitar (Jatim). Jaraknya sekitar 50 kilometer dari rumah. Minimal dua kali seminggu saya ke Brau naik motor. Kalau tidak ada kegiatan khusus atau sekadar mendampingi warga, biasanya saya berangkat pagi pulang sore. Tetapi, kalau ada acara yang mengharuskan saya menginap, ya terpaksa menginap.
Bagaimana ceritanya Anda sampai terjun dan aktif di Yabule?
Ceritanya, saya adalah tamatan Universitas Brawijaya. Saat menjadi mahasiswa, saya aktif di Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (Impala) Universitas Brawijaya. Setelah tamat, menikah dan punya seorang anak, kami terbentur keadaan ekonomi sehingga saya kemudian terpaksa menjadi TKW ke Taiwan.
Sepulang dari Taiwan, saya hamil dan melahirkan anak kedua. Setelah itu kembali lagi ke Taiwan dan pulang lagi hamil anak ketiga. Lagi-lagi saya harus kembali lagi kerja di luar, tapi kali ini ke Hong Kong. Jadi, total saya menjadi TKW selama 13 tahun dan baru pulang pada tahun 2013 lalu.
Setelah di rumah, teman-teman di Impala meminta agar saya tak kembali ke Hong Kong dan lebih baik bergabung dengan Yabule. Setelah sepakat akhirnya saya menemukan Dusun Brau ini sebagai salah satu lokasi konservasi.
Tugas Anda cukup berat, harus mondar-mandir Blitar-Malang melewati medan yang cukup menantang, apakah ada materi yang didapat dari sini?
Di awal-awal dulu memang ada, tetapi kalau sekarang tidak ada. Saya sekarang benar-benar menjadi relawan. Tetapi jujur saja, meski saya tidak mendapatkan materi, saya sangat bahagia. Saya bisa berbagi pengetahuan dengan masyarakat tentang bagaimana cara menjaga lingkungan. Lagipula, masyarakat Brau begitu baik menerima saya, jadi kami secara batin sangat dekat. Kalau saya tidak datang karena sakit misalnya, bapak-bapak kampung sini berbondong-bondong naik motor menjenguk saya ke rumah saya di Blitar.
Demikian pula kalau tahu bahwa saya tidak pulang atau menginap di Brau, biasanya bapak-bapak langsung kumpul ramai-ramai di rumah Pak Taqwin, sambil ngobrol, ngopi dan membahas banyak hal. Di sanalah saya kemudian menggali apa saja yang menjadi keinginan mereka yang kira-kira bisa diwujudkan. Dan bagi saya momen seperti ini membahagiakan sekali.
Untuk kebutuhan keluarga bagaimana?
Saya punya usaha kecil-kecilan. Di halaman rumah saya yang cukup luas, saya beternak lele. Suami saya, Supardiono Eko Budoyo (56), yang menjalankannya.
Anda cukup lama ya meninggalkan anak-anak ketika menjadi TKW?
Memang. Dan jujur saja, ada masa-masa di mana hati saya benar-benar terasa pedih saat harus meninggalkan anak-anak yang masih butuh pelukan ibu. Tapi bagaimana lagi, semua itu kan karena keadaan. Sekarang ini saya manfaatkan semaksimal mungkin untuk keluarga demi menebus masa-masa di mana saya pernah berpisah dengan mereka.
Sekarang ketiga anak sudah besar-besar ya?
Anak pertama saya, Rilly Putri Wantati (22), dulu sempat menjadi pramugari di sebuah maskapai tetapi sekarang alih profesi menjadi entertainer di Jakarta. Sedang anak kedua dan ketiga, Agung Rahmadya (19) dan Elvira Bekti Kirana (13), masih duduk di bangku SMA dan SMP.
Sampai kapan Anda akan mendampingi masyarakat di sini?
Saya tidak bisa menentukan sampai kapan, tetapi saya sudah telanjur cinta dengan daerah dan masyarakat sini.
Bersama warga dusun Brau dan merangkul para individu yang bersedia bahu-membahu membangun desa agar lestari, masyarakatnya juga alamnya. Lestari Alamku, Lestari Desaku.
LINGKARMALANG – Siapa sangka sebuah dusun kecil di Kota wisata Batu ini bisa menyedot perhatian nasional. Yang lebih ajaib lagi dusun yang bernama Brau di daerah Bumiaji ini bisa meraih beberapa penghargaan tingkat nasional akibat pengelolaan kotoran sapi yang bisa disulap menjadi bahan bakar rumah tangga. Setelah tim Lingkar Malang meninjau langsung ke lapangan ternyata warga Brau ini penuh potensi yang sangat unik dan mempunyai manfaat bagi khalayak umum. Adapun potensinya adalah:
pemasangan rangka dome untuk digester biogas di salah satu rumah warga dusun Brau
Biogas dan Bioslury
Dahulu kala dusun ini terkenal dengan sampah kotoran hewannya yang menumpuk. Berbekal dengan kegigihannya untuk menciptakan kondisi lingkungan yang lebih bersahabat dan sehat, Yuli Sugihartati dengan kelompoknya mencoba memperkenalkan apa yang disebut dengan Biogas.
Biogas sendiri adalah salah satu alternatif untuk mengelola kotoran hewan agar bisa dijadikan bahan bakar melalui proses fermentasi. Dan salah satu hasil dari proses tersebut adalah bioslurry yang bisa digunakan sebagai pupuk.
Butuh waktu yang tidak singkat untuk bisa meyakinkan masyarakat akan guna Biogas dan Bioslury namun berkat ketekunan dan ketelatenan Yuli Sugihartati akhirnya konsep ini bisa diterapkan oleh warga, bahkan kini desa ini menjadi proyek percontohan bagi desa yang lain.
Aneka Olahan Susu
Berhasil dengan gebrakan Biogas dan Bioslury dusun ini terus mengembangkan potensinya. Kali ini desa ini ingin mengolah berbagai bentuk olahan dari sapi perah mereka yang jumlahnya melebihi warga dusunnya yaitu susu sapi. Berbekal dari bantuan pemerintah dan berbagai pelatihan akhirnya dusun ini bisa memproduksi aneka olahan susu seperti stick susu hingga pada kerupuk susu.
Pemandangan pagi dari Puncak Pandawa
Wisata Alam Puncak Pandawa
Kurang lebih satu minggu yang lalu warga dusun ini secara mandiri didukung oleh perhutani meresmikan sebuah obyek wisata baru bernama Puncak Pandawa.
Dinamakan sebagai Puncak Pandawa karena selain destinasi ini menampilkan wisata swafoto dengan latar kota Batu dan Malang dari ketinggian Nawak Lingkar Malang juga bisa berwisata sejarah dengan mengunjungi lima gua yang dulu digunakan para pejuang untuk berlindung dari penjajah.
Inilah yang menyebabkan dusun kecil ini dikenal sampai tingkat nasional. Walau masih manyandang nama dusun sebagai bagian terkecil dari sebuah desa namun harus diakui prestasi dusun ini melebihi apa yang pernah dicapai oleh warga lain yang notabene lebih dekat pada kemajuan teknologi dan perkembangan jaman.
dipublikasikan: LingkarMalang.com pada 22 September | silahkan berbagi tentang dusun Brau disini
Dusun Brau adalah dusun di mana seratus persen dari warganya memeluk agama Islam. Perayaan hari besar agama Islam menjadi hal yang khusus di sana, karena saat saat itulah kesempatan berkumpul dan saling kunjung antar sesama warga di sela kesibukan mencari nafkah.
Pada peringatan Hari Raya Qurban tahun ini, Dusun Brau mendapatkan sumbangan 1 ekor sapi dan 3 ekor kambing dari alumni Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Angkatan Tahun !986, mereka adalah Ibu Sutik Ningsih, Ibu Widia Pradani, Ibu Hanik Nurhayati dan Bapak Agus Pranajaya.
Melestarikan budaya atau kearifan lokal di Dusun Brau, maka prosesi penyembelihan hewan qurban menjadi berbeda bila di bandingkan dengan daerah lain, ada upacara selamatan yang prosesnya melibatkan seluruh warga, bergotong royong di pimpin oleh pemuka agama . Ada hikmah positif lain dari kegiatan ini yaitu mempererat hubungan kekerabatan antar warga.
Kegiatan unik dalam upaya pelestarian budaya ini rupanya menarik bagi beberapa media baik cetak maupun elektronik, terbukti dari tahun ke tahun selalu saja ada media yang meliput, kali ini Net TV ikut hadir dan mengabadikan.
Hari Minggu adalah hari yang ditunggu bagi banyak orang, ada bermacam-macam keinginan berkegiatan yang bisa diwujudkan di hari Minggu, seperti rekreasi, berkebun dirumah bagi yang hobi, mencoba resep-resep masakan baru bagi Ibu-ibu yang sibuk ngantor, atau kesempatan untuk tidur seharian bagi mereka yang sudah full kegiatan saat weekdays
Yang terasa akhir-akhir ini adalah ada nuansa berbeda pada hari Minggu di Dusun Brau, Sudah terasa sejak hari Sabtu malam, iring-iringan motor atau mobil melintasi Dusun Brau dengan tujuan untuk menghabiskan malam di Gunung Banyak.
“Gunung Banyak adalah termasuk deretan pegunungan di wilayah Dusun Brau yang saat ini menjadi idestinasi favorite wisatawan untuk menikmati sunset dan sunrise dari Omah Kayu maupun olah raga paragliding“
Demikian juga bagi warga Brau, hari Minggu adalah hari yang berbeda, mereka bisa mendadak buka pasar tomat di halaman warung, ada juga yang jadi penjaga parkir kawasan wisata, ada lagi yang jual makanan untuk memenuhi hasrat makan para pelancong, pokoknya seru, belum lagi berbagai komunitas yang tertarik untuk datang ke Brau dengan berbagai kegiatan, mulai dari hanya sekedar ngopi sampai ngobrol, guyon, sampai akhirnya terlahir berbagai macam program di Brau.
Awal mulanya dari kebingunan ku saat mengisi materi pembelajaran ke anak-anak brau. Selama ini sistem pembelajaran yang aku kasih cenderung membosankan, hanya membahas mengenai mata pelajaran yang didapat dari sekolah. Perlahan anak-anak yang ikut belajar semakin lama semakin berkurang.
Mulailah mencari materi di antara tumpukan buku Perpustakaan Mini Dusun Brau, sebagai sumber referensi membuat kegiatan belajar yang menyenangkan, tidak membosankan dan Anak-anak Brau tertarik untuk datang.
Akhirnya ketemulah satu buku dengan judul Amazing Experiment yang membahas tentang experiment dengan bahan dan peralatan sehari-hari yang mudah di dapat. Dari semua contoh experiment yang ada di buku terpilihlah materi tentang Es Krim.
Kenapa Es Krim? Karena dari Es Krim bisa belajar proses Eksoterm dan Indoterm yang sebelumnya belum pernah mereka praktekkan. Bagi Anak-anak Brau, Es Krim menjadi makanan mewah dan sangat susah ditemukan di Dusun Brau. Selain itu, Es Krim juga disukai oleh Anak-anak Brau dari berbagai jenjang usia.
Kegiatan membuat Es Krim Ala Anak Brau dimulai dari woro-woro dulu ke Anak-anak Brau kalau mau ada acara membuat Es Krim, disepakatilah hari minggu tanggal 15 November 2015. Banyaknya yang mau ikut dibagilah menjadi 4 kelompok dan setiap kelompok diharuskan membawa peralatan yang dibutuhkan (kecuali Thermometer).
Adapun peralatan yang dibutuhkan untuk membuat Es Krim antara lain :
Botol
Gelas
Baskom / mangkok
Kain Serbet
Sendok
Thermometer (untuk proses pembelajaran pengukuran suhu).
Sebelum memulai experiment bahan yang dibutuhkan harus tersedia semuanya. Karena di Brau penjual yang menyediakan bahan untuk membuat Es Krim tidak lengkap, diharuskan untuk hunting bahan ke Pasar Pujon.
Adapun bahan yang dibutuhkan untuk membuat Es Krim Ala Anak Brau antara lain :
Bubuk Minuman, seperti Energen dan Pop Ice (jika ingin mencoba, bisa menggunakan bubuk minuman jenis lainnya)
Es Batu Balok (murah dan dapat banyak)
Garam
Sesuai dengan jadwal yang disepakati bersama, Anak-anak Brau mulai berkumpul di rumah Bu Sol. Setelah Anak-anak Brau yang konfirmasi datang sudah kumpul semua, mulailah kita berexperiment.
Experimen Es Krim Ala Anak Brau dimulai dari :
Melarutkan bubuk minuman dengan air, setelah itu dimasukkan kedala botol.
Es Batu dipecah menjadi bentuk lebih kecil, dan diukur suhunya menggunakan Termometer sebagai suhu awal.
Botol dimasukkan ke dalam baskom, Es Batu diletakkan mengelilingi botol sampai menutupi larutan di dalam botol dan Es Batu ditaburi garam (diusahakan semua Es Batu yang ada dibaskom tertaburi garam).
Kenapa Es Batu ditaburi garam? Karena garam bisa menurunkan suhu es batu dibawah 0 oC, dengan suhu di bawah 0 oC mampu membekukan cairan yang ada disekitar es batu.
Setelah Es Batu yang ditaburi garam, dicek perubahan suhunya.
Es batu yang ada di baskom ditutupi dengan kain dengan tujuan suhu ruangan tidak mempengaruhi suhu es batu
Botol digoyang-goyangkan / diputer-puter sampai larutan yang ada di dalam botol beku menjadi es krim. Jika es batu di dalam baskom mencair ditambahkan es batu dan garam.
Kenapa harus digoyang/diputer? Karena dengan cara diputer atau digoyang larutan akan tercampur merata dan hasil es krim memiliki struktur yang lembut.
Tahap inilah terjadi Proses Eksoterm dan Indoterm. Larutan yang di dalam botol melepaskan panas / kalor karena adanya es batu yang mengelilingi larutan, sehingga larutan membeku. Sedangkan Es Batu menerima panas / kalor dari larutan yang di dalam botol sehingga Es batu mulai mencair.
Setelah proses pemutaran selama 1 jam, larutan mulai membeku pada bagian dasar botol saja. Agar jadi Es Krim secara sempurna dibutuhkan es batu yang banyak untuk menggantikan es yang sudah mencair. Akhirnya es pun habis dan larutan belum membeku seutuhnya. Sangking excitednya mereka beli es batu di warung dengan uang mereka sendiri.
Prediksi pun meleset, satu jam lebih larutan belum membeku seluruhnya. Es batu di warung pun sudah habis diborong oleh mereka. Raut wajah mereka pun menggambarkan kalu sudah capek. Akhirnya dengan bentukan Es Krim seadanya jadilah “Es Krim Ala Anak Brau”. Sendok mereka pun siap menyantap Es Krim setengah cair setengah beku.
Setelah Es krim habis, tugas selanjutnya untuk Saya dan Anak-anak Brau membersihkan rumah Bu Sol yang becek dan kotor gara-gara cairan es. “Maaf ya Bu Sol selalu membuat kerusuhan di Rumah Bu Sol”.
Walaupun experiment Es Krimnya belum sepenuhnya berhasil, melihat antusias mereka sudah bikin bahagia.
Reaktor biogas berfungsi mengubah kotoran binatang, kotoran manusia dan materi organik lainnya, menjadi biogas atau energi terbarukan yang bisa dimanfaatkan dalam skala rumah tangga, berfungsi sebagai bahan bakar memasak atau penerangan di rumah atau jalan.
Dengan menggunakan teknologi reaktor kubah beton (fixed dome), yang telah diadaptasi dari beberapa negara lain yang sudah menggunakannya, Bangladesh, Kamboja, Laos, Pakistan, Nepal dan Vietnam.
Di Nepal, teknologi ini digunakan oleh lebih dari 200 ribu rumah tangga selama lebih dari 15 tahun, dengan 95% reaktor masih berfungsi.
Sistem ini sudah terbukti aman bagi lingkungan dan menghasilkan energi bersih karena reaktor terbuat dari batu bata dan beton yang kuat dan tertanam dalam tanah.
untuk memperbesar gambar, klik disini flash by Rony Hakim
Stick Susu Brau Yang Gurih Kemriuk, Hasil Olahan Ibu-ibu Dusun Brau
Hasrat Ingin Menambah Penghasilan
Dari mata pencaharian utama yaitu Ternak Sapi Perah, Ibu-ibu di Brau mendapatkan uang dari hasil setoran susu yang di terimakan setiap 10 hari sekali. Tergantung jumlah sapi yang di pelihara, makin banyak jumlah sapi peliharaan, makin banyak nominal uang yang di terima setiap 10 harinya.
Bagi peternak skala kecil ( jumlah sapi antara 2-4 ekor ) terkadang penghasilan dari susu pas saja atau bahkan kurang, apalagi jika musim tahun ajaran baru atau musim hajatan.
Atas dasar naluri Ibu-ibu yang selalu ingin memberikan yang terbaik buat keluarganya, mulailah mereka lirak lirik, usaha sampingan apa ya yang bisa di kerjakan di sela-sela waktu mencari rumput dan mengolah ladang? olahan makanan berbahan dasar susu apa ya yang kira kira di sukai pasar dan tidak mudah basi?
Demikianlah dari diskusi demi diskusi di lalui maka meluncurlah produk unggulan Dusun Brau, rasanya enak, gurih dan menyehatkan, namanya Stick Susu Brau
Perlu Sentuhan Lanjutan
Kalau rasa dan kualitas, sudah jangan di tanya lagi deh, yahuud pokoknya, yang perlu mendapatkan penanganan berikutnya adalah membuat produk ini bisa di jual di pasaran. Bagaimana perijinan dan proses birokrasi yang harus di lalui.
Ada yang bisa bantu? Yuk datang ke Brau, kita obrolin sambil cangkruk ngopi dan makan sick susu, kriuk kriuk kriuk
Sejak dari pertama kali datang ke Brau, semua hal tentangnya menarik bagiku, alamnya, suasana desanya, sapi-sapi perahnya, masyarakatnya, tai sapinya, digester biogasnya, terpencilnya dan entah masih banyak daftar yang belum banyak aku tau.
Tapi yang pasti aku tau, akan bolak-balik datang ke Brau
Ada banyak alasan buat datang dan kembali lagi kesini, buat sekedar ngopi, nyusu sapi dan ngobrol dengan siapa saja yang ada di dusun ini.
Anak-anak Brau belajar fotografi bersama kakak-kakak volunteer dari Kota Malang
Tersebutlah ada beberapa nama anak muda dari kalangan mahasiswa yang kenal lalu jatuh sayang setengah mati kepada anak-anak dusun Brau, ada Eni Tazkiyah, Lilik Arti Wahyuni, Puspita Fajar Kharisma. Mereka bertiga ini yang berupaya memperkenalkan Brau dalam berbagai aspek kepada teman-teman nya di kalangan mahasiswa maupun komunitas yang lain.
Belajar Fotografi
Mungkin bagi sebagian anak yang lain, kegiatan memotret sudah menjadi hal yang biasa, namun tidak demikian bagi anak-anak Brau, Hal ini yang menjadi latar belakang bagi ke-tiga mahasiswa yang cinta anak-anak Brau itu mengundang temannya yang profesional di bidang fotografi, hebatnya lagi sang fotografer bersedia meminjamkan kamera mahalnya untuk di pergunakan sebagai alat praktek. Keren kan? Ya emang keren, setiap liat kegiatan mereka, saya terharu,
Ah Cinta... tidak ada definisinya, tidak ada sekat-sekatnya.