Mahasiswa Daring
Photo by Green Chameleon on Unsplash
Menjadi mahasiswa di tengah pandemi itu berat, berat sekali. Sebenarnya yang berat bukan cuma mahasiswa, semua orang kesulitan.
Menjadi mahasiswa kedokteran di tahun pertama punya tantangan tersendiri. Adaptasinya mesti cepat. Cepat adaptasi pelajaran, metode, bahkan tetap fokus kuliah saat pandemi.
Aku yang sejak SMA terbiasa hidup di asrama dan tahun pertama kuliah yang mewajibkan tinggal di asrama membuatku lupa rasanya belajar di rumah. Satu semester merasakan belajar di asrama itu menyenangkan sekali. Melesat jauh dan lebih fokus. Lingkungan pembelajar mungkin pemicunya.
Aktivitas kuliah teratur, berangkat ketika matahari sepenggalan sampai matahari hampir terbenam, hari Senin—Jum’at, dan tatap muka dengan dosen rasanya menjadi aktivitas sempurna untuk mengukur usaha kuliah dan hasil yang kudapatkan.
Di rumah, butuh pemicu lebih untuk fokus belajar. Kebiasaan di rumah hanya ketika libur berefek pada keseharianku saat ini. Santai, tanpa beban dan melakukan semua sesuka hati sepertinya tak bisa kuterapkan.
“Tetap di rumah tapi tidak libur”, kata yang begitu mudah diucapkan orang-orang tapi sulit kuterapkan. Utamanya, Aku yang tidak terbiasa berada di rumah.
Satu bulan pertama tinggal di rumah, Aku tertekan. Aku yang tipe pembelajar visual tidak bisa belajar tanpa tatap muka dengan dosen. Tanpa tatap muka saja tidak bisa fokus, ditambah persoalan menerima pembelajaran. Aku orang yang paling setuju dengan pernyataan kalau ilmu yang didapatkan tanpa tatap langsung pada ahlinya berbeda dibandingkan saat bertatap langsung, karena persoalan adabnya.
Bulan kedua di rumah, Aku mulai mengatur kembali motivasi awal. Aku yang punya motivasi tinggi saat kuliah offline dan pupus saat kuliah online mulai terbangun kembali. Aku bisa fokus kuliah dan Alhamdulillah rasanya mendapat keberkahan ilmu walaupun harus mati-matian cari variasi pembelajaran.
Bulan ketiga, semangatku turun lagi. Bosan di rumah, dapat kabar kalau ibu positif corona yang mengkhawatirkan, sampai kuliah online yang semakin membosankan.
Tidak mudah tinggal 7/24 jam di rumah,
tidak mudah kuliah di rumah,
dan tidak mudah merasa baik-baik saja ketika ‘dunia sedang tidak baik-baik saja.’
















