Modern Operator AU doodles but some of them are severely out of context
seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from China

seen from United States
seen from Romania

seen from Netherlands
seen from Poland

seen from United States

seen from United States
seen from Canada
seen from Netherlands

seen from Yemen

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from South Korea
seen from United States
Modern Operator AU doodles but some of them are severely out of context
sketsa bunga mawar indah keren kuncup layu lukisan merah mudah putih sederhana simple
Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? ~Dee . . @cekrek.asyik #cekrekasyik #ca_oscmerah Kuncup kembang sepatu Ikutan challenge dari @tokokayyisah Mbak @_lieshadie Mbak @mechtadeera sudah ikutan #merah yang ini kah? . . #instaflower #kembang #bungacantik #bungasepatu #kuncup
Disebut anggrek merpati karena yaa... mirip gini kok. 😆 Ungaran, 17 Nopember 2015 #labelduatujuh #orchid #orchidiversitas #Dendrobium #Dendrobiumcrumenatum #kuncup #anggrekmerpati #pigeonorchid #nature #whiteorchid #goodmorning #simpleHappiness
Pagiku cerahku, matahari bersinar Ku gendong tas merahku, di pundak
Selamat pagi semua Ku nantikan dirimu Di depan kelasku menantikan kami.
Guruku tersayang, guru tercinta Tanpamu apa jadinya aku Tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal Guruku, terima kasihku
Nyatanya diriku kadang buatmu marah Namun segala maaf kau berikan
***
Ketika mendengar lirik lagu ini, spontan teringat pada masa-masa Sekolah Dasar (SD), teringat guru-guru Sekolah Dasar. Walau mungkin kemudian teringat masa SMP dan masa SMA. Masa SD adalah masa-masa di mana kita belajar banyak hal dari nol. Lewat hati lembut mereka Allah anugerahkan ilmu-ilmu yang mendasari semua sampai sekarang. Masa SD adalah masa-masa kenakalan kita yang beragam. Lewat hati lembut mereka Allah pahamkan kita mana yang baik mana yang tidak. Lewat kesabaran mereka kita mengerti banyak hal, memahami banyak hal. Kita yang tersering sangat nakal, dan mereka yang selalu memaafkan. Kita yang tersering sulit diatur, dan mereka yang selalu sabar.
"Gurulah pemegang saham keberhasilan yang tak mengambil bagi hasil; meniup nafas cinta hingga si kuncup mekar jadi bunga." (Salim A. Fillah)
Bisa dibilang guru SD adalah sosok yang sangat paham dengan kita, disamping orang tua kita. Yang banyak orang bilang mereka orang tua kedua kita. Selama enam tahun membersamai kita. Dari kita yang sangat kecil hingga beberapa saat menjelang baligh. Membersamai kenakalan kita. Membersamai kejahilan kita. Membersamai keunikan kita. Mengamati segala perkembangan kita. Memahami segala watak kita. Hingga dengan segala yang mereka pahami tentang kita, mereka tahu apa yang harus mereka lakukan pada kita. Hingga waktunya kita semua tersenyum sumringah dengan manisnya nilai di tahun keenam, mereka tak pernah meminta apa-apa. Mereka yang terus berharap kita bisa melanjutkan perjuangan di tempat lain, di sekolah lain, di tempat baru, di sekolah baru. Hingga beberapa tahun berlalu, dan kita tak pernah luput dari ingatannya.
Teringat guru SD dan TK. Yang hingga saat ini pun masih hafal di mana kita melanjutkan studi. Yang sampai sekarang pun masih sering menanyakan kabar kita pada orang tua yang baru saja mendaftarkan anaknya. Mereka yang masih mengingat kita. Bagaimana hati tak meleleh?
Yaa Rabb, berkahi tiap ilmu yang mereka tularkan, jaga mereka selalu dalam lindunganMu :') Yaa Rabb, ijinkan kuncup-kuncup yang mereka tiupkan nafas cinta padanya mekar jadi bunga. Dan Engkaulah yang berhak membalasnya dengan sebaik-baik balasan. Yaa Rabb, ijinkan kami meneladani mereka, meneruskan mereka. Jika belum bisa pada kuncup yang sama, paling tidak pada kuncup anak-anak kami kelak. Biidznillah!
Kuncup Bunga
Muslimah bagaikan kuncup bunga, siap merekah, berkilau indah...
___
Aku hidup di era abad 21, dimana muslimah berjilbab tak lagi asing dalam pandangan. Bak di taman bunga nan indah. Bunga matahari yang cerah-ceria, Dandelion dengan teduh-tenangnya, Sakura yang sejuk serta menentramkan, dan masih banyak karakter muslimah lainnya. Menambah keindahan dunia yang terik dan gersangnya seolah hendak memudarkan kesegaran dan kilaunya bunga-bunga.
Betapa tak bahagia, bak gayung bersambut, perjuangan para pendahulu kita untuk membumikan perintah mengenakan hijab, kini telah terecap manis. Tak terbayangkan bagaimana getir dan kerasnya perjuangan mereka. Dicaci, dicerca, hingga mungkin dicap ekstrim bahkan sesat, sudah dirasakan semuanya. Tapi kini, segala perjuangan heroik itu, menjadi kenangan yang begitu manis bagi mereka, tersenyum ketika mengingatnya kembali. Bagaimana tidak, kenangan buruk di masa lalu itu, kini menjadi pahala yang terus mengalir untuk mengisi kantung-kantung amal kebaikan mereka. Semoga Allah senantiasa memberkahi kehidupan mereka. Aamiin.
Tapi aku sedih melihat realita saat ini. Sering ku mendengar ucapan-ucapan dari mulut ke mulut. Banyak sebutan-sebutan tak pantas untuk muslimah saat ini. Jilboobs, Kerdus (kerudung dusta) dan lain sebagainya. Seolah mengatakan bahwa muslimah berjilbab saat ini, hanya seperti buih di lautan. Banyak, tapi sedikit yang mengerti. Banyak, tapi tak paham jati diri. Sungguh, tercabik-cabik rasa di hati. Bagaimana mungkin orang diluar sana bisa mengatakan hal seperti itu?
Akhirnya kucoba tengok lagi ke belakang. Ternyata ada benarnya, bahwa muslimah berjilbab masa lalu, hanya sedikit tapi mereka mampu merepresentasikan wajah islam di bumi Allah. Mereka sedikit, tapi memiliki kekuatan dan pemahaman untuk mengubah peradaban dunia saat itu. sekali lagi, mereka sedikit, tapi melalui jumlah yang sedikit itu mereka mampu berhimpun untuk satu visi: membumikan kalimat Allah di muka bumi.
Tetapi, aku tak sepenuhnya percaya dengan apa yang orang-orang diluar sana katakan, bahwa muslimah saat ini tak memiliki kekuatan. Aku ingin selalu berprasangka baik atas takdir Allah. Aku mencoba mengatakan pada dunia, bahwa mereka bukanlah tidak memiliki kekuatan. Bukan! Mereka hanyalah sedang berproses. Ya, berproses menjadi pribadi yang lebih baik.
Mereka bukan bunga yang kuncup, yang tak bisa merekah nan indah. Mereka adalah kuncup bunga. Yang suatu saat akan merekah indah nan mempesona. Mereka ialah muslimah yang sedang merengkuh hidayah Allah melalui ikhtiar hijabnya. Bukankah setiap hidup memiliki proses dan tahapnya masing-masing? Maka, biarlah kuncup bunga menikmati tahap hidupnya. Biarlah ia merasakan manis dan nikmatnya proses dalam kehidupan mereka. Biarkan, biarkan.
Bukankah kita pun pernah merasakan nikmatnya berproses? Dan betapa proses penuh tempaan itulah yang pada akhirnya membuat kita merekah nan kuat diterpa angin yang begitu kencang. Biarlah mereka merasakan nikmatnya berhijab dengan kenyamanan masing-masing. Dan tak ada hak untuk kita menghina, mencaci, dan menyalahi mereka dengan hijabnya yang belum sempurna. Tapi salahkan diri kita, yang belum bisa membantunya untuk menyambut hidayah dan perintah berhijab syar’i.
Wahai kau bunga yang telah merekah indah. Mereka saudari kita, mereka bagian dari umat, yang seharusnya kita jaga. Meluruskan yang masih berkelok. Memperbaiki yang masih beranggapan salah. Memahamkan, bukan mencaci. Membimbing, bukan meninggalkan. Menyayangi, bukan lantas mengikuti anggapan-anggapan buruk diluar sana.
Wahai kau bunga yang telah merekah indah, jagalah kuncup bunga itu, bimbinglah kuncup bunga itu, ajarkanlah makna kesabaran. Sampai Allah turunkan hujan yang sejuk-segarnya mampu merekahkan keindahan kuncup bunga. Yang tiap tetes airnya, memberikan kekuatan pada sang kuncup bunga. Hingga pada akhirnya sang kuncup bunga berubah menjadi bunga indah nan mempesona, yang tak goyah oleh terpaan angin. Yang siap membumikan perintah langit pada penduduk bumi.
___
Ahad, 13 Rabbiul Awal 1436H Minggu, 4 Januari 2015 #MenorehJejak