Mungkin, jutaan terimakasih perlu aku haturkan. Untuk tiga tahun yang penuh makna. Lajur hidup yang amat luar biasa, cahaya yang selalu kuikuti tanpa gulita.
Ribuan detik, kuhabiskan untuk memaknai segenap kata yang kau rangkai. Mengambil sarinya dan menjadikannya cahaya atas lajur perjalanan. Aku tanpa itu semua adalah perempuan labil yang penuh kelemahan.
Kadang aku bertanya, mengapa bisa selama itu? Aku menetap tanpa menatap.
Lalu, aku memutuskan berhenti. Bukan karena aku telah lelah ataupun tak mampu. Cahayamu pun masih amat gemerlap. Lajurmu makin hebat, pikirmu makin kuat dan kamu semakin mengesankan.
Tapi berhenti adalah sebuah putusan terbaik. Karena jika aku tetap berjalan pada lajur itu, aku hanya akan menjadi bayangan, yang mencoba untuk menyamai langkahmu pelan. Ragaku tak pernah akan nyata.
Menatapmu memang menyenangkan. Namun kita berada dalam dua sisi yang berlainan. Aku yang masih lekat dengan pekat, dan kamu yang amat gemerlap. Sekuat aku menyamai lajurmu, sekuat aku berusaha mengubah diriku menjadi oranglain.
Aku tak akan pernah cukup layak untukmu. Sekuat aku mencoba, semakin aku menyadari jurang itu. Aku yang banyak belajar darimu, tapi aku yang tak mampu memberikan pelajaran apapun untukmu.
Terimakasih, telah menjagaku tiga tahun ini. Membuatku menjadi perempuan yang lebih kuat dari perempuan sebayaku. Mengubah banyak pola pikirku dengan begitu hebat.
Celakanya, selepas kamu kulepaskan. Aku kembali sedikit rapuh. Memang berat ya? Sepertinya hanya denganmu saja aku merasa cukup tanpa perlu mencari lagi.
Sehat-sehat, kamu selalu menjadi cahaya yang paling gemerlap di kehidupanku yang cukup gelap ini.
Yogyakarta, 20 September 2019