Mengeja Takdir Daun Gugur
Desemberku mungkin kelabu yang tampak seperti merah jambu. Aku mungkin adalah daun gugur, yang tidak pernah menyalahkan angin selama setahun terakhir. Karena mungkin kupikir, gugur tubuhku akan bermanfaat untuk keberlangsungan hidup sang pohon. Bukankah tandanya tidak ada yang sia-sia?
Namun rupanya daun yang gugur bisa merasa kesepian di atas tanah yang kering dan dingin. Berbalut perasaan rumit serta frasa ketidakberuntungan yang berputar di kepala. Ia bisa memandang pohon sepuasnya namun tidak lagi mampu menjadi bagian darinya.
Ternyata menjadi daun yang gugur meskipun tampak mulia namun tidak selalu menyenangkan rasanya. Karena bersamaan dengan kemuliaan itu, ia lekat erat dengan kekalahan dan keterasingan.
Sekuat apapun ia, sepi itu terasa sangat nyata. Hingga ia berharap lekas menyatu dengan tanah. Agar tak merasa sepi sendirian.
Pernah terlintas dalam benak si daun, bahwa mungkin saja daun yang gugur adalah bukti bahwa daun itu tak cukup kuat dan layak. Karena pada akhirnya semulia apapun daun, orang hanya akan mengingat dan melihat daun yang masih bertahan di dahan ranting pohon.
Sedang daun yang berserakan akan semakin terinjak hari demi hari. Terasingkan dan tersingkirkan perlahan.
Teruntuk kalian yang membaca ini semoga tak perlu menjadi daun gugur. Jadilah daun yang kuat dan hijau hingga bisa tumbuh dan tumbang bersama pohon. 🍁🍂
---
Yogyakarta, 25 Desember 2023
















