Rangi: what's something you love to do the most?
Atuat: your mother, i suppose
Rangi: that's nice, i think i love- WAIT WHAT?!
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from Iraq
seen from Uruguay
seen from Australia
seen from United States

seen from Hong Kong SAR China
seen from Maldives

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Russia
seen from United States

seen from Czechia
seen from Ukraine
Rangi: what's something you love to do the most?
Atuat: your mother, i suppose
Rangi: that's nice, i think i love- WAIT WHAT?!
Aturan yang Ditertawakan
Pulang pasar mamak cerita, katanya diledekin temennya di pasar karena masih rajin pake masker. Karena pedagang di sana, rata-rata udah gak pake. "Wih rajin euy, istiqomah." Sambil diketawain.
Nyonya besar sante aja. Nimpalinnya, "daripada kena denda atau ngosek WC umum, mending dipake." Sambil ketawa-tawa. Tentu aja maksudnya bukan itu. Tentu maksudnya tetep jaga-jaga, mencegah dari virus covid-19. Tapi males panjang. Karena ngomongin covid-19 di pasar jadi lelucon aja. Mereka bukan gak paham, tapi menolak paham.
Kebiasaan ngetawain peraturan jadi satu lagi penyakit yang sembuhnya susah. Orang taat aturan, diledekin. Orang mau bener, dibilang sok bener. Orang mau tetep sehat, rajin olahraga, ngurangi bakso, seblak, berhenti ngerokok, dibecandain. Katanya hidup di dunia cuma sekali, dinikmati aja.
Memang bener, hidup di dunia cuma sekali. Yg ganggu adalah nyuruh nikmati tapi gak dipahami bahwa nikmat itu macem-macem. Kamu menikmati saat melanggar aturan, orang lain lebih menikmati saat mengikutinya.
Hal-hal macam gini, sadar gak sadar bikin orang males ikut aturan. Skeptis dan merasa 'waras' sendiri. Begitu terus sampai gak tau kapan. Karena hal ini, seringnya disepelekan. Kecil katanya. Padahal, kecil juga kalau terus ditumpuk jadi banyak dan menyebabkan masalah.
Bukan kecil atau besarnya, melainkan seberapa kalinya. Sama seperti kesalahan yg dianggap kecil, atau beneran kecil, lama-lama besar kalau berulang. Jadi ya gitu, terbiasa menyepelekan peraturan, melanggar peraturan yg lain akan lebih mudah.
Ibarat tali, pola pikir kayak gitu bisa diputus. Kalau mau. Kalau mau. Kalau enggak, ya kuat-kuatan aja.
me: I hate math!
also me: *calculates what day it is on the Aturan calendar*
(btw, August 26 is 6/18, the second Chaen of Fallow)
pengecualian
beberapa manusia hidup teguh dalam syarat. dijunjung tanpa boleh dilanggar.
namun, beberapa manusia juga hidup dalam hal-hal yang terlaksana tanpa rencana. meski berat, kadang manusia memberikan pengecualian. tidak menjadikan hal itu menjadi sebuah pelanggaran.
karena sebenarnya, bagi makhluk terbatas, tidak ada yang benar-benar sempurna untuk dijalankan.
tapi sayangnya, beberapa manusia hidup nyaman dalam pengecualian. merasa tenang meski telah melanggar syarat. ya, mengecualikan hal salah yang dilakukannya. kasihan.
Sangat sulit mencintai seseorang bukan karena kamu merasakannya tetapi karena kamu seharusnya. Terutama orang-orang dalam keluarga. Kamu tidak dapat lari dari mereka. Kamu perlu melatih nurani untuk merasakan dan berperilaku dengan cara tertentu, jadi kamu tidak akan ditandai sebagai orang aneh. Tetapi hal hebat tentang cinta adalah cinta itu spontan, tidak disengaja, dan tidak bisa diajarkan. Namun cinta juga adalah semua tentang aturan dan skema sehingga kamu harus memakai senyum palsu itu dan membiarkan nurani kesakitan dalam keheningan.
K
Sceop
“What is your name, father?”
Again, the beggar was surprised. It had been years since anyone had cared enough to ask his name. It had been so long he had to stop and think about it for a moment. “Sceop,” he said at last. “I am called Sceop, and you?” ..... Terris smiled and laid a hand on the old man’s back. “Would you really like to pay?”
“I cannot. I have nothing to give you.”
Terris’ smile widened. “Sceop. We are the Edema Ruh. The thing we value most is something everyone possesses.... You could tell us your story.”
Not knowing what else to do, Sceop began to speak..... Even the Edema Ruh, who know all the stories in the world, could do nothing but listen in wonder.”
- The Wise Man’s Fear, Chapter 37: A Piece of Fire, pgs 313-314
[Tempi] gave me a rare smile. “Yes. You are beginning to see.”
I returned his smile. “Your Aturan is coming very well, Tempi.”
Tempi blinked. Worry. “We are speaking my language, not yours.”
“I’m not speaking....” I started to protest, but as I did I listened to the words I was using. Sceopa teyas. My head reeled for a moment.
- The Wise Man’s Fear, Chapter 109: Barbarians and Madmen, pg 793
[ Rangi, Atuat, and Hei-Ran on their way to the Fire Nation from the NWT ]
Rangi, looking between Atuat and Hei-Ran: So who confessed first?
Hei-Ran: It was me. I made sure it was short and sweet.
Atuat: You yelled "listen here you little shit I have feelings for you and it's about time you acknowledged them" from your sick bed in the healing hut.
[ TW: slight NSFW ]
Atuat, bursting into the livingroom: i need some encouragement to NOT commit tax fraud today
Hei-Ran, without missing a beat: i can't fuck you, if you're in jail
Atuat, already halfway out the door and hyperventilating : t-thank you