Birunya langit pagi ini seperti lembar kosong masa depan — luas, tenang, dan penuh kemungkinan. Tak ada yang tahu awan mana yang akan datang, atau arah angin mana yang akan membawa harapan pergi. Tapi di antara ketidakpastian itu, biru langit tetap menenangkan, seolah berbisik, “Lihatlah aku, masa depanmu pun seindah ini bila kau berani percaya.”
Aku berdiri menatap jauh, membiarkan sinar mentari menembus kulit dan menyalakan semangat yang sempat redup. Langit mengajarkan bahwa setiap warna biru dimulai dari cahaya yang berani menembus kelam. Begitu pula masa depan — ia menunggu keberanian untuk menatapnya tanpa ragu.
Karena seperti langit, masa depan tak meminta kita tahu segalanya. Ia hanya meminta satu hal sederhana: tetap menengadah, meski matahari belum tampak sepenuhnya.















