Lazuardi
Wanita itu memegang ranselku dan berkata, “Mas, saya pegangan di sini ya? Saya enggak punya pegangan.”
Anggukan.
“Disini saja gimana, Mba?”
Kerlip pada iris.
Pegangan pada ransel lebih erat.
“Tangan saya enggak sampai.”
Pandanganku menuju ke arah pintu penghubung gerbong wanita. Di sana berdiri satpam. Setidaknya aku melihat helm berwarna putih di atas kerumunan kepala. Deduksi yang terbangun dari pengalaman sehari-hari. Tidak ada lagi yang memakai helm kecuali mereka, apalagi yang berwarna putih, bahkan kuli bangunan pun akan melepaskan helm di dalam sini. Malu mungkin.
“Mas, enggak apa-apa kan?”
Senggukan.
Di lindung tudung hijaunya, mata lazuardi itu bermohon dan sendu, mendongak, dan kenan tipis berwarna cokelat di ujung bibirnya bergetar, padahal mulutnya sempurna mengatup.
Salah satu pojokan pintu telah diokupasi oleh seorang pria berjaket hitam dengan corak garis hijau sepanjang lengannya. Seragam Rohis. Deduksi lagi. Terlebih dia sedang memegang buku kecil dengan sebelah tangan sambil melantunkan: Masaluhum kamatsalil lazistauqada naarom falammaaaaa adhoooooats maa haulahuu dzahaballahu bi nuurihim wa tarokahum fi dhzulumaatil laa yubsiruun.
Pemisalan bagi mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, tapi ketika api itu menerangi apa yang di sekitarnya, Allah mengambil cahaya mereka dan meninggalkan mereka dalam kegelapan,….
Laa yubsiruun.
Aku lupa artinya.
Basir. Mungkin itu kata dasarnya. Kalau tidak salah itu berhubungan dengan Asmaul Husna.
Oh, ya.
Melihat.
Tidak dapat melihat. Sehingga mereka tidak dapat melihat. Begitu kira-kira. Kalau tidak salah ini bagian awal Al-Baqarah, tentang tiga golongan: beriman, kafir dan munafik. Ya, dan ini ayat nomor belasan. Penjelasan terkait kemunafikan. Mungkin sengaja disusun di awal Quran. Untuk kemudahan studi. Entahlah.
“Dhli, kenapa susunan Quran seperti itu?”
Tanya seseorang pada suatu majelis, mungkin orang itu aku, mungkin juga salah satu dari teman-temanku, yang juga teman Adhli, yang kami tajuk sebagai Ustaz. Ya, Ustaz, bukan Ustad.
“Itu sudah sesuai tuntunan kanjeng rasul.”
Jawaban ini bukanlah pertama kali dan bukan juga yang ketiga kali. Mungkin kesekian kali. Kami saja yang memang tidak benar-benar peduli. Tapi penasaran juga dengan misteri tersebut.
Dari dalam ransel yang kusampirkan ke depan tubuh, bergetar, berkelip-kelip cahaya hijau tanda panggilan masuk, disertai nada iPhone yang kita sama tahu. Sulit membuka ransel. Wanita tadi masih berpegang erat pada ranselku. Lengan kananku terjulur jauh ke dalam koridor kereta, berpegangan pada palang besi, bersatu dengan lebih dari empat tangan dari tiga orang penumpang, ditambah dagu milik seorang pria keriting, brewokan, berperawakan tinggi gempal, yang memakai sarung. Beberapa kali tanganku diciumi oleh janggut pria itu. Lebih berupa elus-elusan. Mungkin karena terbawa begitu saja oleh buaian kereta, atau dia memang senang pada tanganku. Bodo amat. Tapi dia seperti seseorang yang sering aku lihat di Youtube, vokalis band, dengan lagunya yang mendadak populer di bulan september kemarin.
“Mas, mau saya bantu angkatkan?”
Seorang bapak kumis berperut buncit, mengenakan kemaja batik pantai santai, yang dari tadi mengoles-oles batang kemaluannya pada pantatku, menengok penasaran saat suara merdu wanita itu menawarkan bantuan.
“Oh, sudah punya istri, Sayang?” Bisik bapak biadab dibelakangku ini, dengan memulai gerakan menggenjot-genjotkan selangkangannya, mungkin terbawa nafsu karena sadar aku memiliki pasangan, mengira aku memiliki pasangan. Paralel dengan gairah bapak gemuk tersebut, wanita itu menatap penuh harap untuk membantu. Bersamaan juga dengan benakku yang masih terus lekat dan mengulang kata: Basir-Basir-Basir. Alhamdulillah. Ucap syukurku. Aku diberikan pemandangan sebegini indah di pagi hari yang membosankan. Pemandangan yang luar biasa. Bidadari ini begitu cantik.
Namun, aku juga mulai tidak tahan lagi dengan cobaan yang terus menyiksa bokongku. Dering hapeku juga hanya berdering sedikit tempo. Tepat ketika pria Rohis itu sedang melafalkan: Shummum bukmun ‘ummum fahum laa yarjiuun,
Tuli, Bisu, dan Buta,
… aku langsung membanting badan ke kiri. Tidak peduli dengan penuhnya gerbong sebelas kereta arah Tanah Abang Duri Angke yang aku naiki. Lengan kanan telah aku tarik merapat ke badanku. Desakan dari sebelah kiriku untuk mempertahankan momen inersia kenyamanan mereka, para penumpang lain yang berdiri, memaksaku untuk kembali merapat ke arah bapak berkumis tadi, yang kini telah menimpa badan Wanitaku yang cantik. Menyadari tonjolan daging telanjang yang menempel padanya, wanita itu berteriak histeris. Membangunkan seisi kereta dari khayalan akan hidup dalam kekayaan masing-masing, padahal rata-rata gaji mereka hanya bertahan hingga tanggal enam belas. Bak jagoan, refleks aku mendorong om-om amoral tersebut, menjauhi sang bidadari yang seolah muncul tiba-tiba kepadaku hanya untuk memegang ranselku.
Aku penasaran respons yang akan diberikan bapak mesum itu. Mata-mata penumpang memerhatikan kami, takjub. Aku seperti menyajikan intermeso untuk seisi gerbong. Yang duduk di kursi berusaha bangkit, dengan mata diangkat dengan sombongnya, seolah berkata, “Siapa orang-orang kampungan itu yang berisik di dalam kereta?” Dan bidadariku memelukku sambil terisak ketakutan, lebih tepatnya memeluk ranselku. Ransel sialan yang mengahalangi sentuhan kami.
Mataku mencari lelaki Rohis tadi. Menemukannya menatap sendu kepadaku, lebih tepatnya kepada wanita dalam pelukan ranselku. Aku merasa gagah kali ini. Hingga mataku pun dengan tegas mampu menatap tajam kepada dua bajingan di sana. “Woi, lu gesek-gesekin kontol di kereta, anjing!” Seketika itu juga riuh rendah suara kerumunan bersatu dengan gerak mata yang berputar-putar seolah mencari sesuatu yang hilang, lalu terpusat hanya pada satu titik, titik yang tepat berada di bawah perut buncit yang tertutupi batik pantai santai milik si bapak gemuk.
Badanku gemetar hebat demi mengucapkan umpatan tadi. Aku tidak tahu kalau aku sanggup melakukannya. Dan para penumpang ternyata sanggup juga untuk bergerak. Beberapa orang menahan tangan bajingan gemuk kita ini. Namun, dia meronta-ronta, menggoncang ke kiri-kanan, diikuti ayunan titit mungilnya, sebelum kepalanya dihantam helm proyek warna kuning milik salah seorang kuli. Karena sadar helm miliknya berguna dalam peristiwa kecil di pagi hari ini, pria kurus berbaju kumal tersebut dengan bangga berani mengenakan helmnya. Kini bajingan kita telah menyerah, mengetahui dia kalah untuk peraduan nafsu pagi ini. Suara ibu-ibu menyusul belakangan,
“Bajingan,”
“Mesum, lu,”
“Mampus,”
“Laporin kantor polisi,”
“Kasihan anaknya,”
“Dia homo, tidak mungkin punya anak,”
“Kok homo?”
“Dia kan goyang-goyang Ceweknya,”
“Bukan! Yang cowok!”
“Itu, dia juga tegang.”
Setiba di Stasiun Depok, Bajiingan kita, bapak buncit berkemeja pantai santai, telah digiring oleh dua orang satpam berhelm putih yang entah kapan munculnya, dibantu pria brewok yang tadi terus mencium tanganku. Dasar pengecut!
Aku juga ikut turun, menemani bidadariku yang sepertinya masih trauma, dan masih memeluk ransel sialanku. Refleks lagi mataku mencari pria Rohis. Masih juga dia senderan di pojok pintu. Dia menatapku dengan tajam, tatapan kebencian, tapi yang ini versi islami. Tatapan itu berakhir seiring dengan pintu gerbong yang kembali ditutup, kereta yang kembali berjalan, dan demi tuhan wanitaku masih memeluk … ranselku.
“Mba?”
“Kenapa harus memaki, hah?”
Aku tidak begitu peduli dengan ucapan bidadariku ini. Jiwaku telah terselubungi oleh kebahagiaan berdiri sangat dekat dengan seorang wanita yang sangat cantik. Matanya… Oh, tidak kawan. Mata lazuardi. Dengan mata itu kau sanggup menjadi seorang Iskandar Agung di abad 21. Membayangkan imajinasi ini, tanganku mengayun dengan sendirinya untuk mengusap pipinya. Di saat bersamaan, pria Rohis yang masih berdiri -- dan sudah melupakan kecemburuan versi islaminya karena telah fokus kembali bersama Qurannya – di kereta tadi tiba di ayat kedua puluh lima:
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.
Begitulah Tuhan memberikan bujang berumur tiga puluh dua tahun ini seorang jodoh yang sempurna, seandainya aku memang jodohnya. Aku, manusia pertama di gedung Intiland yang sanggup membeli Iphone X seharga dua puluh delapan juta, kemudian bersanding dengan bidadariku bermata lazuardi. Oh, oh, oh. Sungguh padanan yang indah, pasangan serasi melebihi Putri Kahiyang dan Pangeran Bobbi.
Debak!
Tamparan tangannya menghantam pipiku. “Ngapain pegang-pegang?”
Dia lalu berbalik, berlari dan meninggalkanku berdiri terpaku dengan pipi berbekas merah berbentuk tapak jari. Bekas tamparannya masih terasa. Aroma jeruk yang entah dari mana menyeruak masuk dalam hidungku membuatku terpesona. Lambai ekor jilbabnya, menyala-nyala terpapar sinar mentari. Warna hijau kain yang mengilap tersebut mengingatkanku pada isi ranselku.
Di sini, di peron satu Stasiun Depok, aku akhirnya memahami esensi kehidupan di dunia ini. Menyadari bahwa Iphone X dan mata lazuardi adalah padanan yang cocok, dan mengetahui bahwa aku, yang baru saja dilecehkan oleh dua orang pria ukuran besar di gerbong kereta, dan menerima tamparan seorang wanita yang cantik, tidak punya apa-apa selain tangan, bokong, serta ranselku yang berharga.
Alhamdulillah.
Gatep, 21 November 2017
Lutfi Arifin















