Suatu ketika saat pandemi masihlah jadi topik di berbagai kalangan. Ketakutan yang diam-diam menggerogoti pikiran masing-masing orang secara tak sadar sebab harus adaptasi dengan semua hal yang di luar kebiasaan. Aku termasuk di dalamnya. Setelah hampir lima bulan menahan diri untuk baik-baik saja padahal ternyata ada yang telah menyusun pemberontakan secara gerilya dan tahu-tahu muncul ke permukaan tanpa di sadari. Efeknya ialah munculnya sosok lain diriku yang super cengeng dari biasanya. Aku tak mampu menguraikan apa-apa dalam diriku. Benar-benar asing. Aku kehilangan kontrol diriku. Hingga satu waktu atas dorongan tidak sadar aku di pertemukan seorang 'penerjemah pikiran'. Orang asing yang entah tanpa perkenalan memgantarkanku ke gerbang pintu yang selama ini mengontrolku; diriku yang lain. Setelah penerjemahan panjang beberapa waktu aku jadi menyadari banyak hal. Belajar memaknai setiap kata-kalimat. Aku akhirnya sampai pemahaman perihal arti mencintai diri sendiri. Aku telat menyadari, di saat teman-temanku dari komunitas sekitar tiga tahun yang lalu mulai menapaki fase life crisis dan aku hanya sebatas pengamat. Rasanya aku ditampar realita, oh jadi begini ya makna sesungguhnya tentang arti diri sendiri. Aku harus belajar bertanggung-jawab atas semua dalam diriku termasuk kesedihan dan kebahagiaan yang bisa kuciptakan. Untuk membantuku pemulihan dari luka inner child yang jadi penghalangku selama ini melangkah, pelan-pelan aku belajar tentang filsafat. Memperbaiki pikiran katanya. Di filsafat ternyata ada banyak pemikiran yang membuka keterbatasan pengetahuanku hingga aku sampai di pemahanan aku ternyata tak tahu apa-apa. Seperti salah satu judul buku " merasa pintar, bodoh saja tak punya." Karena untuk sampai pada level pintar kita akan dihadapkan pada siklus merasa pintar-tidak tahu apa-apa- belajar-hingga akhirnya ahli di satu bidang yang kita pilih. Ada juga satu pemahanan baru, orang-orang menyebutnya ikigai, di dalamnya ada perbedaan antara kerja dan panggilan jiwa. Hal-hal yang akan kita jalani seumur hidup dengan bahagia karena seperti menemukan satu peran kita dalam masyarakat. Meski ya saat ini aku masih mencari. Berusaha dan berdoa.