Beberapa hari yang lalu si adek cerintanya ngirimin broadcast poster lowongan kerja via whatsapp. Yang aku tau anak ini memang niat banget untuk bisa kerja dan mandiri. Sekarang apapun yang mereka mau lakuin aku jadi tau, itu karena keuntungan selama aku stay at home. jadi lebih paham kondisi perkembangan masing-masing dari mereka. Kebetulan aku punya dua adik, yang satu baru masuk SMP yang satu kebetulan berbeda 2 tahun dari usiaku sekarang.
Iseng-iseng sabtu siang aku coba untuk menerapkan simulasi tes wawancara kerja, kebetulan tinggal kami berdua dirumah. Simulasi itu awalnya hanya untuk bercanda, tapi berakhir jadi niat keisengan menggali tentang makna tujuan buatnya. Dari sana sebenarnya aku cuma iseng ingin tau apakah di usianya saat ini sudah memiliki tujuan hidup atau belum.
Ku ambil meja kecil tempat biasanya si bungsu belajar, kutaruh meja itu ditengah antara kami berdua. Awalnya aku bersikap seperti biasa dengan menanyakan beberapa hal padanya.
Mba : Udah punya CV belum wik ? (nadanya masih ringan)
Adek : Kemarin aku udah buat lamaran (jawaban ringan dan ga sesuai pertanyaan -_-)
Mba : bukan, maksud mba yang kayak ini lo wik (sambil nunjukkin contoh CV)
Adek : mm belom mba.. (jawabnya masi cuek)
Mba : Yaudah sekarang tulis Pengalaman sekolah, kerja, sama visi misimu, mba tunggu ya...
Adek : mmmmm .. (kadang loadingnya suka lama)
Mba : Ayo buatlah … mba kasi waktu 15 menit
Dibuatlah resume minimalis tentang dirinya sendiri selama 15 menit. Kemudian waktu itu selesai, ia memberikan hasil resumenya dengan menyodorkan tulisan di depan layar. Tak ada tulisan visi misi, personal skill, dan deksripsi tentang diri yang ia tuliskan. Prasangka yang benar, anak ini belum paham tentang makna hidupnya sendiri. Aku lanjutkan simulasi tersebut, dengan gaya akting lebih serius seperti pemilik perusahaan sebenarnya.
Mba : Kamu tau arti tujuan hidup itu apa? (gayaku jadi sok-sokan, padahal juga baru belajar kemaren)
Adek : mmm.... (bengong mikir sambil setengah mau ketawa)
Kali ini muka ku yang serius tapi dia masi ketawa, tapi aku ga tergoda si dengan ketawanya dia. Aku buat simulasi ini bener2 jadi buat belajar.
Mba : Saya serius looh, karena saya tidak mau menerima sembarang pegawai ditempat ini. (ini ga sambil teriak, Cuma lebih teges nadanya kayak owner beneran)
Tiba-tiba mukanya juga langsung berubah, menanggapi responku yang tiba-tiba tak terima toleransi untuk bercanda saat itu.
Mba : Silahkan anda cari definisi dari “tujuan” dari manapun. Saya kasi waktu anda 5 menit untuk kembali lagi.
Sontak aku pun langsung berpura menatap laptop dan mengabaikan tatapannya sebagai tanda mempersilahkan mencari yang barusan diperintahkan. Ternyata selama 5 menit itu, dia benar-benar mencari definisinya ditambah dengan waktu tambahan karena aku tau 5 menit itu ga cukup. Aku ubah jadi 15 menit. Jujur aja, saat itu ada rasa bersalah sebagai seorang kaka yang ingin sekali adiknya seharusnya juga paham apa yang sudah aku pelajari dalam hidupku selama ini. Tapi sayang proses kita berbeda, aku memaklumi tanpa harus menghakimi. Mungkin kelihatannya seperti hidupnya sudah paling benar tapi percayalah Ini hanya perilaku naluri seorang kaka yang menginginkan hal terbaik untuk adiknya, selebihnya urusan Tuhan mengaturnya.
Perkara memahamkan definisi tujuanpun bukan prihal mudah, berbagai analogi kupergunakan. Mulai dari tujuan permainan pesepak bola, pemain basket, hingga yang terakhir adalah analogi alasan 2 tawanan yang memilih mati dan hidup setelah bebas tertawan. Barulah darisana kami sama-sama menyepakati artinya tujuan.
Untuk pertama kalinya aku melihat raut muka yang tak biasanya. Aku sengaja menatap matanya saat berbicara, menandakan keseriusan. Dalam hati, aku kasihan melihatnya tak tega. Seperti ada rasa bersalah dari raut wajanya. (ntah apa yang ia fikirkan menatapku seperti itu).
Dari cerita pendek ini bukan berarti aku memandang ia lemah dan rendah terlebih dia adalah adikku. Maksudku hanya untuk mengingatkan, yang aku kira hal ini perlu disampaikan untuk ia pelajari sebelum ia benar-benar keluar. Cuma saja aku belum menemukan cara dan waktu yang tepat, sudah lama aku ingin memastikan prihal ini padanya, karena aku tau ia adalah laki-laki yang kelak adalah seorang pemimpin masa depan. Wajaaar jika aku khawatir tentangnya. (sekali lagi ini hanya naluri seorang kaka)
Buatku sendiri ini bukan antara aku yang sempat menginjak sekolah tinggi atau dia yang belum sempat merasakan yang sama sepertiku. Dalam menetapkan tujuan serendah apapun kasta hidupmu untukku itu tidak akan berpengaruh. Sebagai kaka, dari sana aku hanya menyampaikan sebuah pesan bahwa semua orang bahkan pendosa harus memiliki tujuan dan alasan atas tindakannya. Kehidupan yang bebas bukan berarti tidak bertanggung jawab. Dengan adanya Tujuan kita sadar bahwa hidup kita jadi beralasan dengan membuat pilihan-pilihan yang bertanggung jawab termasuk pilihan untuk bekerja atau apapun dikemudian hari.
Akhirnya, wawancara itu aku akhiri dengan membuat lagi kesepakatan untuk mengumpulkan tugas membuat tujuan kehidupan. (aku tidak berekspetasi tinggi atas hasilnya, hanya iseng-iseng ingin melihat pemahamannya)
Dalam keseharian aku lebih memilih berusaha dalam mencontohkan, meskipun gaya hidupku juga tak sempurna. mengurangi kebawelan meskipun seringnya bawel tak tertahan untuk hal tertentu. tapi ada saatnya menjadi anak pertama membuatku juga harus mengkoreksi diri lebih dulu sebelum memahamkan mereka. tekhusus untuk beberpa hal mendasar seperti agama. Bersama membuat semua terlibat menjadi pembelajar tanpa harus menghakimi atau berperan paling benar.
Ini bukan tentang masalah bentuk dari tujuan, tapi ini tentang mengorek kepekaanya bahwa bertujuan itu penting. Karena tujuan adalah alasan dari tanggung jawab atas hidup yang kita miliki