Hikmah Jum'at 1 Ramadhan 1441 H, 24 April 2020 M
Sang khatib mengatakan: "Kekecewaan melahirkan penyesalan".
Apa yang ada di benak kalian jika mendengar kalimat itu? Apa kalian pernah kecewa? Apa kalian pernah menyesal juga? Dalam menjalani kehidupan ini rasanya pasti kita pernah mengalami yang namanya kecewa dan menyesal.
Apa sih artinya kecewa? Kalau menurut KBBI ke·ce·wa /kecéwa/ a 1 kecil hati; tidak puas (karena tidak terkabul keinginannya, harapannya, dan sebagainya). Ya begitu, kita akan merasa kecewa jika kita tidak puas akan suatu hal. Begitu juga ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, cita-cita kan, atau yang kita harapkan. Pernah mengalami kan? Sering? Kenapa kita merasa kecewa? Katanya orang-orang, kita kecewa karena kita berharap kepada makhluk, berharap yang berlebih. Kita seharusnya hanya berharap kepada Sang Khaliq. Yang maha Memberi.
Lantas apa artinya menyesal? Kayaknya mirip ya... Yuk kita cek KBBI. menyesal/me·nye·sal/ v merasa tidak senang atau tidak bahagia (susah, kecewa, dan sebagainya) karena (telah melakukan) sesuatu yang kurang baik (dosa, kesalahan, dan sebagainya). Yups, ternyata dalam kata menyesal terdapat kata kecewa.
Dalam khotbah Jum'at tadi, disebutkan bahwa kecewa di dunia itu biasa saja, masih bisa kita perbaiki lagi apa yang kita inginkan, apa yang kita harapkan hanya ditujukan kepada Allah. Akan tetapi jika kita menyesal di akhirat, maka tidak berguna lagi penyesalan, tidak berguna lagi kesadaran. Semuanya telah berakhir. Tidak akan bisa kembali ke dunia untuk memperbaiki. Banyak sekali ayat dalam Al-Qur'an mengkisahkan bahwa orang-orang yang di dunianya tak bisa mengikuti ajakan para Nabi dan Rasul, mereka ingin kembali ke dunia untuk beramal saleh. Bahkan mereka merengek kepada Allah, 'ya Allah, kembalikan kami ke dunia, sebentar saja, agar kami bisa beramal saleh. Mereka menyadari itu karena mereka telah mengetahui dan merasakan pedihnya siksa yang menimpa mereka. Sungguh adzab Allah sangatlah pedih. (QS. Al-Munafiqun 9-11)
Dan sang khatib tadi juga menyontohkan orang yang tidak diterima taubatnya jika taubatnya ketika nafasnya tinggal di tenggorokan. Siapa contoh yang tepat untuk tokoh seperti ini? Tidak lain tidak bukan, ialah manusia terlaknat Fir'aun. Disebutkan dalam QS Yunus: 90-91. Fir'aun bertaubat ketika napasnya telah di tenggorokan. Maka tidak berguna lagi taubatnya. Sudah tidak ada manfaatnya lagi penyesalannya. Maka, dari sini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua yang masih diberi kesempatan untuk hidup dan selalu memperbaiki setiap amal kita setiap harinya. Semoga kita diberika keistiqomahan dalam menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Ini sebagai pengingat bagi saya sendiri dan teman-teman semua. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa pada pembahasan selanjutnya...