Waktu berlalu terlalu cepat saat tawa menyelingi. waktu berlalu terlalu lambat saat duka menghiasi…
Begitulah kira-kira ungkapan muncul setiap pergi liburan. “Bagaimana caranya agar waktu ini lambat, agar kita bisa merasakan keindahan pantai ini? Keluh Bryant ketika kami sedang jalan-jalan malam mengelilingi Gili Terawangan, sebuah pulau terpisah yang sangat indah terletak di samping pegunungan Lombok Utara, kebanyakan touris manca negara mengatakan Gili Terawangan bukan pulau Lombok. Gili Terawangan berdampingan dengan Gili Air dan Gili Meno namun aku tak sempat berkunjung ke sana.
“Malam sudah larut kita harus segera ke homestay, atau kita ke bar dulu, ayo nikmati indahnya malam ini. Ini sangat jarang kita lakukan, lusa kita sudah mulai aktif belajar di kampus. Ayolah kawan-kawan!” kata Sam dengan raut wajah gembira , rambut merah yang acak-acakan, rokok yang dihisapnya membuatnya kelihatan seperti premanisme namun dia sangat baik. Begitulah caranya menghibur kami, dia selalu mengikuti keinginan kami.
“Ayolah kalau begitu tadi saya keluar juga, kita lihat-lihat pemandangan luar hotel, itu sangat indah dan unik, ada lampu lampion Chinese, lampu patung Buddha juga. Pemandangan lampunya sangat indah, kita seolah-olah berada di motel-motel Bogor. Sangat indah, ayo mumpung ada kesempatan”. Kataku meyakinkan teman-teman karena memang mereka belum pernah berliburan di Gili ini.
“Ayo” kata Sam merespon dengan senyuman menarik tangan Robert yang memperhatikan kata-kataku. Robert ditarik Sam sehingga dia langsung berdiri dan kami lanjut berjalan menuju bar.
Terdengar alunan suara lagu Justin Timberlake “Murder” 5 meter dari bar, Sam memakai kaos hitam dan jeans pendek membawa sebotol bir. Aku memakai polo shirt putih bertuliskan California dan cropped trousers berwarna hitam membawa sebotol wine yang ku beli di sebuah wine-bar yang tidak jauh dari homestay kami . Wine itu ku beli saat jalan-jalan bersama Katty. Robert mengenakan sebuah fleece dan jeans pendek berwarna biru kehitaman.
Di depan pintu bar, tidak ada terlihat bar-keeper yang biasa kami lihat di bar-bar yang ada di Los Angeles. Bar itu sangat terbuka, dan bisa dilihat dari luar . Di sana terlihat beberapa orang duduk menikmati bir sambil mendengarkan musik, sumber musiknya kira-kira 4 meter dari kursi tempat duduk. 1 meter dari tempat duduk, banyak orang menggerakkan badannya menikmati musik sambil mengangkat tangan mereka . Sangat ramai! Di bar itu juga terlihat coffee bar, beberapa jongos memakai kaos hitam sama menyediakan minuman untuk para pengunjung.
Pemandangan yang sangat ramai dan unik , pengunjung semakin berdatangan, lampu neon sangat terang meyinari wajah-wajah pengunjung sehingga terlihat jelas, lampu berwarn-warni , lampu berkedip-kedip ditambah lampu-lampu lampion yang ditaruh di depan bar menghiasi pandanganku.
“Ayo kita masuk, enjoy tonight!” kata Sam sambil menggerakkan badannya ke kiri ke kanan mengikuti alunan musik. “Ayo!” kata Robert yang terlihat tidak sabar untuk segera masuk ke bar.
Sebuah kabaret yang sangat ramai! Penyanyi lokal membawakan lagu “Marry You” Bruno Mars dengan aransemen klasikal dan hip-hop yang menggerakkan anggota badan membuat kami tidak sadar, sudah larut malam. Aku memanggil Robert menanyakan waktu.
“Jam berapa ini?” kataku menanya Robert yang masih menikmati musik dan ternyata sudah mabuk. Dia hanya menggunakan telunjuknya menunjukkan aku jam keemasan itu di tembok kabaret… “ Astaga jam 03.00 pagi” kataku terkejut.