Menjadikan rebahan dalam kesejukan terang walaupun cerah melapisi dinginnya sang mendung. Menunggu dengan sabar sampai mendung itu menyingkir dan akhirnya menampakkan sang cerah. Tentu saja ini bukanlah sang gelap yang ditunggu karena tidak perlu ditunggupun akan berlaku seperti ini.
Mencoba melihat aliran air disepanjang landasan kaki berpijak. Sesekali sepasang kaki diusapi oleh air untuk memberikan rendaman. Dari tengokan yang menengadah dapat dilihat hijau sang daun yang segar karena terbasahkan sehingga gumpalan berbeban dapat tersebar untuk terhilang bersama bumi.
Memberanikan diri sampai anak tangga yang berada di ujung puncak. Ah, apakah itu di atas sana? Oh ya ada sang Pelangi. Kali ini warna warni tersebut mau menampakkan diri diantara lapisan-lapisan penghalang karena ada 2 warna yang selama ini menguasai bumi yaitu hitam dan putih.
Hitam dan putih yang diterima, kemudian dibasahkan untuk menjadi luntur dan bercampur dengan unsur-unsur yang ada. Sang Pelangi pun menunjukkan kesetiaan perjanjiannya untuk hadir dalam membasahi bumi ini.
Seperti inilah kekosongan dalam diri seseorang sampai ia menjadi kering sehingga celah retakan dapat menjadi besar dan tak berujung. Sang Pelangi diperlukan untuk membasahi dan memenuhi kekosongan yang seperti ini. Pelangi yang kelihatannya sama dengan warna-warni, tetapi Pelangi ini bukan sang Pelangi busur yang ditetapkan karena perjanjian, ia adalah yang misterius dalam kumpulan warna warni.