Diawal penantianku, aku bertemu dengan sebuah kertas penuh coretan. Dia menitipkan salam kepada pena yang telah menorehkan tintanya. Kenapa ia tak dendam?, batinku.
Di tengah penantianku aku bertemu dengan sebuah goresan pensil yang sedikit terhapus. Dia menitipkan salam kepada penghapus. Kenapa ia tak dendam?, batinku.
Di akhir penantianku, aku bertemu dengan sebatang lilin yang hampir habis. Di menitipkan salam kepada api yang telah melelehkan. Kenapa ia tak dendam?, batinku (lagi).
Dan diujung penantianku, aku menitipkan salam kepada tuhan untuk dia yang selalu diharapkan namun tak berbalas. Kenapa aku tak dendam?
Mengapa harus dendam dengan apa yang sudah digariskan? Terkadang memang semua yang terjadi akan menjadi baik pada akhirnya, meskipun berawal dengan pahitnya.
Surabaya, 7 November 2016