Tatkala Ia Menjadi Sebuah Pengingat
Tak kupungkiri sampai detik ini, suara itu masih bersahut-sahutan silih berganti.
Pertanda bahwa ia mengantarkan yang di dalamnya ke tempat singgah sementara ataukah tempat tinggal yang baru.
Tak mengenal siapakah dia. Apa latar belakangnya. Bahkan bagaimana kehidupannya.
Itu hanya menjadi pemanis dalam kehidupan. Namun bukan penentu apakah ia akan mengulur waktunya.
“Bukankah setiap yang bernyawa pasti akan mati ? Kembali pada asal dimana diciptakan ? Namun bagaimana dan cara apa yang akan kita temui ?”
Pemberitahuan itu seakan menjadi sebuah pengingat untuk diri ini. Apa yang sudah kamu persiapkan ? apa yang akan kamu bawa untuk menghadapNya ?
Rasanya belum ada hal yang berarti untuk berjumpa denganNya.
Seakan kelu bibir ini, saat ditanya sudah digunakan untuk apa sajakah nikmat yang Aku berikan padamu ?
Hidup di dunia ini hanyalah tempat singgah sementara. Namun surga atau nerakalah yang akan menjadi tempat tinggal kita selamanya.
Peringatan demi peringatan sudah diberikan. Namun diri kita masih sering melupakan bahkan menepis peringatan itu. Menganggap itu hanya sebuah angin yang menyejukkan di kala panas melanda. Tatkala peringatan itu sering kali kita anggap bukan sebagai pengingat namun hanya kumpulan broadcast yang meminta untuk mendoakan.
Jangan sampai kita menjadi hamba yang tak pandai untuk bersyukur. Mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Bahkan setelah tulisan ini selesai, kita pun tak tahu apakah kita dapat terus beribadah kepadaNya. Memohon ampun yang sebenar-benarnya.
Persiapkan diri kita sebaik mungkin. Jangan tunggu nanti, tapi mulailah dari sekarang.
Lakukan hal yang membuatNya ridha serta merindukan perjumpaanNya denganmu. Bukan karena dosa dan kesalahan yang dilakukan. Namun, karena Allah ingin berjumpa dengan hambaNya untuk di berikan tempat terbaik di sisiNya dan dibukakan pintu yang mana yang ingin kita masuki untuk bercengkrama denganNya lebih dekat.
Semoga kita termasuk hambaNya yang senantiasa berubah menjadi lebih baik dari hari kehari, dan menjadi pribadi yang selalu berusaha untuk memantaskan diri saat bertemu denganNya dalam keadaan tersenyum. Bukan dengan kepala tertunduk, menyesali semua yang telah terjadi di belakang.
Dari saudarimu yang berusaha untuk menjadi pribadi yang dirindukan SurgaNya.
Tara Lufita Sari (@taraalfita)
12 Juli 2021 / 2 Dzulhijjah 1442 H
#MujahidahWritter #InspiratorMuslimah #Day1











