No title
Akun ini hanya akan menjadi tempat curhat nyampahku wkwk

seen from Türkiye
seen from Japan
seen from Sweden
seen from United States

seen from Azerbaijan
seen from Azerbaijan

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from Japan
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Japan

seen from Australia
seen from United Kingdom
seen from France
No title
Akun ini hanya akan menjadi tempat curhat nyampahku wkwk
Just enjoy the musik
Pagi, 17 Febuari 2017
Dipikir-pikir ternyata hari ini tanggal cantik 17217. Hari jumat. Hari yang ditunggu-tunggu karena besok nya sabtu. Bukan ding, besoknya libur. heuheu. Ada yang bilang kalau hidup didunia ini bukan untuk mencari hasil tapi untuk berjuang. Karena itu hidup di dunia jangan cari sukses tapi berjuang semaksimal mungkin. Dan semoga bisa sukses di akhirat nanti. Jadilah pribadi yang gembira dalam berjuang. Berjuang untuk apa? Untuk meraih ridho Allah Swt. Klise ya? Tapi bukannya dalam hidup ini kita memperjuangkan hal-hal yang klise, seperti cinta misalnya? ☺☺
Karena memang saya yang memilih untuk terusik. Karena nyatanya, sayalah yang mengizinkan perasaan itu mengalir begitu saja.
Lelah sih!
Tapi mau gimana?
Saya juga bingung harus gimana. Mungkin saya bingung mau saya apa.
Atau kebingungan saya cuma sekedar retorika aja.
Bukan karena beneran bingung. Bisa jadi karena mencoba cari garis tengan antara simple think punya kaum pria dan overthink punya kaum wanita.
Pengen ngasih tau ke pria kalau “pikiran saya sejauh ini loh”, tapi nyatanya saya tau bahwa itu semua akan berakhir ke satu jawaban, “ya jangan mikir gitu”.
As simple as i know it will be like that.
Ah emang sih, namanya baper mah gitu da. Suka melodrama sendiri, suka overthink sendiri, suka bikin kesel diri sendiri.
Aku : Embuh
Embuh. Itu sebuah jawaban. Kadang kita nggak bisa menuturkan pendapat, perasaan, pikiran, unek-unek kita. Yaa, pokoknya gitu deh. Embuh. Multitafsir, memang. Tapi yaa gitu, embuh.
Lagi embuh. Itu sebuah kata kerja. Bahwa aku lagi nggak jelas. Kegiatan yang tak tentu tujuannya. Dan bahwa nggak ada kata yang paling bisa mewakilkan apa yang sedang kulakukan saat ini. Yaa, jadi aku lagi embuh aja.
Jadi, embuhin aja lah yaa…
banyak Muslim tapi sedikit yang ter-install Islam didalamnya | banyak yang ngaku Tuhannya Allah tapi menolak diatur Allah KTPnya sih Muslim, tapi kata-katanya "semua agama itu sama" | bila semua agama itu sama, saya nggak perlu repot memeluk Islam katanya sih Muslim tapi giliran dibacain ayat dan hadits | dia protes "nggak usah terlalu fanatik lah! Indonesia bukan cuma Islam!" Muslim itu mesti berani sampaikan apa yang Muhammad saw yakini | bahwa Islam itu tertinggi dan tiada yang lebih tinggi selain Islam "Dia-lah (Allah) yang mengutus Rasul-Nya (Muhammad) dengan membawa petunjuk dan agama (Islam) yang benar" (QS 61:9) "agar Dia (Allah) memenangkannya (Islam) di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci" (QS 61:9) jadi Muslim kok minder | bangga dong punya Islam Islam itu makin banyak dipelajari makin membuat orangnya tawadhu | tapi belajar liberal dikit aja sudah bikin angkuh nggak ketulungan -_- merasa lebih tau dari ayat Allah lalu bilang "itu kan tekstual" | merasa lebih pinter dari Muhammad lalu bilang "itu kan zaman dulu" syahadat itu artinya meniadakan selain Allah lalu mengakui Allah | bahwa selain Allah itu #Nothing dan #NggakPenting jadi selain yang Allah sebutkan di dalam Al-Qur'an dan perintahkan pada manusia | itu #Nothing dan #NggakPentingjadi saya sudah pengalaman jadi tukang sinis pada Islam | alhamdulillah Allah beri jalan kebaikan jalan perubahan saya bersyukur bisa mengenal Islam dan jadi Muslim | bisa berubah dari pembenci Islam jadi -insyaAllah- pembela Islam kita doakan aja yang masih sinis pada Islam justri jatuh cinta pada Islam | layaknya Umar bin Khaththab dan Khalid bin Walid bagi Allah tiada yang mustahil | tugas kita hanya menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik | selesailah tanggung jawab kita sama seperti penolakan kita terhadap #MissWorld sebagai kampanye penolakan terhadap #PerangPemikiran | yang penting dakwah sudah tunai dapun semua hasilnya itu urusan lain | proses dakwah bukan membalik telapak tangan | ummat masih perlu banyak di-edukasi :D Rasul mengharap pada Makkah namun pertolongan datang dari Madinah | yang kita yakini sama, darimanapun itu, pertolongan Allah pasti datang tugas kita
Kalau Kamu Notice
PAGI ini aku terdiam, tergeletak di atas ranjang, tubuhku tak seimbang, pandanganku berkunang-kunang, pikiranku melayang—mencari-cari dengan sendiri tak terkendali, seolah berbuat sesuka hati, mengais-ngais tumpukan memori, menggeratak secara acak isi otak, me-restrore kembali sampah-sampah yang telah masuk ke dalam recycle bin, yang terletak di denah tak menentu bak labirin. Pikiranku beroperasi di luar kendali, seperti ingin memuntahkan suatu adegan, adegan yang pernah terekam, di dalam ingatan.
Benar saja. Tiba-tiba, terlintas bayanganmu yang sedang melirik, padaku, kau seolah menari gaya itik, mengepakkan jari-jarimu yang lentik, menggerakkan kaki-kakimu dengan centil yang menggelitik. Kau sungguh licik, muncul kembali padaku yang tak berkutik. Aku yang sudah berusaha menolak mendadak terhenyak. Semakin otak ini bergerak, bayanganmu makin menyergap dengan galak. Menyelinap bagai penjahat yang siap merompak, menyeruak dalam kosongnya diamku dengan sontak, menyentak tubuhku yang tergeletak.
Sesaat aku tersadar, spontan ku teriak dengan kasar, dalam diam menahan gusar, “Kenapa malah ingatan sialan ini yang muncul di pagi buta seperti ini?”. Bayanganmu mulai buram bersamaan munculnya kesadaran. Tapi kesialan kadang bikin penasaran. Aku berniat untuk menerusakan, mencoba peruntungan. Hancurlah hancur sekalian, sebab sudah separuh jalan. Sampai kemana akan berakhir ini adegan, resikonya sudah ku pertimbangkan.
Ku perjelas bayanganmu dengan imajinasi. Bayanganmu utuh kembali, dengan perlahan berubah menjadi sesosok wanita cantik lebih dari yang terakhir kutemui. Aih! kau pelan-pelan transformasi, nampak seperti bidadari, cantik sekali. Aku geli, tapi aku tahu sekali tak sedang bermimpi, aku sedang membiarkan diriku berhalusinasi, memanggil kembali bayanganmu yang asli, yang akhirnya muncul kembali setelah bersembunyi di balik ilusi bidadari. Hahaha aku takkan tertipu, sebab aku tahu kau tak secantik itu.
Alih-alih menjawab rasa penasaran, bayanganmu malah membuatku makin tak karuan. Ya sebab, semakin ku terjerembab dalam bab-bab gelap yang ku tangkap, semakin ku teringat kisah kita yang biadab. Tapi ku tetap membiarkan diri ini diusung arus khayalan, mengikuti jejak-jejak harapan yang diam-diam tak sepakat dengan kenyataan.
Bulir-bulir pedih mulai merasuk melalui tulang rusuk, memenuhi rongga dada yang tertekuk, perlahan membuat hatiku tertusuk hingga membusuk. Aku teringat diriku yang hancur bersama pupus, rasional saat itu tak lagi menguasai diri, tuan dari tubuh ini sempat termakan oleh makhluk buas yang menyeramkan, yang mereka sebut-sebut sebagai Roman. Ya, aku setuju, ku anggap sebagai Roman Picisan. Hah? cinta? Hahaha entah cinta atau dosa, aku lupa bedanya, yang pasti aku pernah terbuai oleh pesona wanita biasa-biasa saja, yang cantiknya ku karang-karang sendiri, untuk kemudian ku nikmati tak peduli.
Kau ini adalah turunan padang. Kulitmu putih nyaris sepeti garam. Matamu kurang simetris, tapi tetap terlihat antagonis, sadis. Hidungmu mancung agak bengkok, tapi tetap terlihat kompak dengan wajahmu yang elok. Alismu tipis dan agak pirang, garisnya melebihi mata ke sisi luar wajahmu yang girang, sehingga terlihat seperti bulan sabit memeluk bintang. Bibirmu tidak tipis tidak juga tebal, terlihat agresif, seperti dipilih dengan selektif. Dahimu agak lebar, mengesankan pribadi yang pintar dan tegar. Rambutmu merah kecoklatan, seperti udang bakar yang menggoda iman saat ramadan. Bentuk tubuhmu cukup meyakinkan, tak perlu penjelasan.
Kau sebenarnya tidak terlalu cantik bagi sebagian orang, tapi bagiku yang puitis ini, kau sungguhlah epic. Oh iya, aku lupa satu hal; yang tak ku karang-karang sendiri, yaitu suaramu, suaramu sangatlah lembut dan merdu, yang ku pikir saat kau marahpun tetap syahdu, aduhai sejuk mendengar lirih lagumu. Ya, meskipun kita jarang sekali bertemu, tapi aku tetap hafal setiap chord yang dihasilkan gerak mulutmu. Sayang, kau bukanlah perempuanku.
Hahahaha. Kau jelas sedang asyik bersama kekasihmu yang lucu, yang wajahnya ganteng sepeti Justin Bieber, yang pandai sekali membuatmu gemas, senyumannya membuat teman-teman dekatmu cemburu, sehingga kecemburuan mereka membuatmu bangga memilikinya. Bagaimana tidak, aku saja yang laki-laki terpesona melihat tampannya, dan penampilannya yang super keren. Melihatnya mengibaskan rambut membuatku termangut, melihatnya bermain gitar membuatku gemetar, meleleh aku dibuatnya. Aku bahkan setiap kali melihat dia (kekasihmu), serasa ingin memaki diri, mengajak berkelahi takdir, takdir yang saat itu kurasa menganak-tirikanku. Tidak sampai disitu, aku bahkan mengutuk kebiasaanku yang dari dulu sangatlah kaku, yang hobinya hanya membaca buku, sehingga membuatku naif dan lugu. Seharusnya aku membagi waktu untuk pergi merawat diri ke salon, agar tak terlihat beloon. Atau belanja pakaian-pakaian yang mahal, agar saat melihatku kau tak terlalu sebal. Dan lain sebagainya, seperti yang dilakukan kekesihmu itu. Pfft..
Aku tidak pernah putus asa, meski pilihanmu membuatku nelangsa, tapi yasudahlah, semua harus kuterima dengan lapang dada. Aku sudah terbiasa menelan pahitnya tergila-gila, entah pada wanita atau pada ambisi sampah tak berguna. Aku tak yakin ini cinta, yang jelas aku sudah terbiasa mengalami kegagalan berasmara. Meskipun kali ini agak berbeda, tapi aku tetap bingung menamainya. Biarlah rasa yang berbeda ini menjadi level yang lebih tinggi agar aku semakin hati-hati, memilah-milih di mana harus meletakkan obsesi.
Aku kini mawas diri, aku tak seharusnya meremehkan rasaku padamu, tak seharusnya aku santai-santai saja di saat-saat yang menentukan kesanmu. Aku memang tak pandai merayu, aku akui itu, aku hanya tak berilmu soal itu. Aku sadar sudah terlanjur buruk di matamu, mungkin aku hanya benalu bagimu, yang sengaja kau biarkan berlalu, bagai hantu. Kau sungguh keliru. Atau mungkin aku yang keliru tentangmu, mungkin kau tak seperti dugaanku, mungkin seleramu saja yang terlalu semu (?). Tapi kini aku sudah memutuskan untuk menata diri, membuang jauh-jauh rasa malas ini, memperbaiki setiap senti cacat diri, mengedit sendi-sendi karakter alami agar terevisi. Kembali mengasah jiwa yang lemah, meregangkan lagi otot-otot yg mulai kolot, membengkel ulang kebiasaanku yang rusak, agar kelak kau malu telah membuatku tertolak, bahkan tanpa sempat menembak.
Latar satu, sore hari, di sebuah tempat yang menjajakan makanan di dekat kontrakan.
Penjual: “Baru pulang sekolah ya?”
Aku: “Eh, nggak juga.”
Latar dua, pagi hari, di sebuah angkutan umum.
Penumpang di sebelahku (dalam bahasa Sunda) ke teman di sebelahnya: “Geseran, kasihan nih bocah di sebelah saya kegencet nanti.”
Aku: ...
Latar tiga, siang hari, saat membeli biskuit di kantin.
Aku: “Berapa Bu jadinya?”
Penjual: “Lima ribu, Dek.”
Balada punya badan setinggi anak sekolahan dan wajah dengan zigomatik tumpah.