Kepada yang kelak datang lalu menetap #1
- Segala sesuatu yang pernah datang, lalu beranjak pergi itu pahit. Semanis apapun usaha yang dilakukan untuk pamit. -
Aku paham sekali bahwa datang dan pergi itu sepaket. Sebagaimana matahari terbit dan terbenam. Yang aku tak paham, aku selalu tak siap dengan perpisahan. Karena seringkali perpisahan terjadi saat sedang nyaman-nyamannya. Saat sedang senang-senangnya. Saat sedang cinta-cintanya. Padahal yang ku inginkan, sesuatu atau seseorang atau peristiwa datang, menetap, menjadikanku tenang, senang, nyaman, tapi selamanya. Awal yang tiada berakhir. Datang yang tidak pergi lagi. Bertemu tanpa berpisah. Tapi disisi lain, semua itu tak akan mungkin selama masih di dunia.
Oleh karenanya, aku tidak suka jika ada yang datang lalu membuatku nyaman. Bukan tidak suka dalam arti yg sebenarnya. Melainkan ketidaksukaan itu adalah wujud rasa takut akan perpisahan, takut ditinggalkan. Tapi ternyata begitulah sunnatullahnya. Dan yaah kembali lagi, kita hidup di dunia yang fana. Tak ada yang selamanya, tak ada yang kekal, apalagi abadi. Tak ada yang benar-benar membuat kita tenang, nyaman dan aman. Kecuali Dzat yang Maha Sempurna, Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Maka, ingin rasanya aku berpesan kepada siapapun yang nantinya memutuskan untuk menetap, agar dapat saling menguatkan walau hanya dengan saling bertatap. Agar berlabuh untuk menjadikan sebagian agama menjadi utuh. Agar dapat meyakinkanku untuk sama - sama bersandar dan menjadikan Allah sebagai muara segala cinta.
Sama-sama mengazzamkan dalam hati masing-masing bahwa segala yang datang dan pergi adalah dari Allah, setiap langkah yang menapak bersama adalah untuk menuju Allah, dalam setiap helaan nafas adalah untuk beribadah kepada Allah, dan merajut kehidupan bersama dalam mahligai yang agung sebagai bukti dari janji suci mitsaqan ghalidza, hanya karena Allah.
Sehingga, jika saatnya perpisahan itu datang, rasa pahit itu bisa tersamarkan, sakit itu bisa tertahankan, tak ada patah yang terlalu dalam. Karena Allah lah muara segala perjalanan yang dilakukan bersama dalam ketaatan.
Maka Ya Allah, jangan jatuhcintakan aku dengan dunia dan segala isi yang fana ini, melebihi jatuh cintaku pada Mu. Mampukan aku menempatkan Mu di tempat tertinggi dalam sanubari. Sehingga Engkaulah satu - satunya yang menempati tahta tertinggi di dalam relung hati.
- Rumah | Ahad, 30 Juni 2024