terkadang kita sering memandang sebelah mata orang yang belum bisa berbuat sesuatu yang positif untuk kehidupan dunia, maupun akhiratnya. kita sering alpa dalam memberikan udzur padanya, mengerutkan dahi sambil berkata, "ih, kenapa kamu ngga melakukan itu", "kenapa kamu melanggar peraturan itu", "dia berdosa karena ini dan itu". dalam suatu majelis hari ini, ada yang bertanya kepada ustadz, bagi yang sudah tau mungkin pertanyaan si penanya terlihat sepele, lucu dan "orang ini aneh", "gitu aja kok ditanyakan". dan akhirnya ada beberapa orang yang renyah dengan tawanya hingga terdengar ke orang orang orang disebelahnya (dalam bahasa gampangnya, ketawa ngakak). padahal, andai saja kita berada diposisi si penanya, andai saja kita mampu memberikan udzur kepadanya, "ahh, mungkin orang yang bertanya ini masih belum paham, masih belum tau", "mungkin ilmu yang ia tanyakan belum sampai kepadanya", dan andai andai baik lainnya, sehingga kita tak perlu "meremehkan" pertanyaannya. entah bagaimanapun cara "meremehkannya". jika ia belum bisa melakukan perbuatan yang kita kira baik, mungkin saja memang ia belum tau kalau ada perbuatan baik semacam itu, jika ia belum bisa mengamalkan ilmu yang kita punya, mungkin saja memang ilmu itu belum sampai kepadanya. ada peran kita didalamnya, meski kita tak mengenalnya kita bisa mendoakannya, jika kita mengenalnya mungkin ia perlu rangkulan kita. "Pahamilah udzur, karena memahami udzur dapat menumbuhkan sifat ma’ruf dalam menyikapi masalah. Jika makanan saja dicerna oleh usus selama 6 jam, butuh waktu. Bagaimana kemudian jika yang dicerna adalah ilmu dan hidayah? Hati itu dalam genggaman Allaah. Allah-lah yang menggerakkan hati seorang hamba. Kita hanya bisa berikhtiar untuk menjadi kunci pembuka hidayah dalam hati seseorang." sekian 'kegelian' pikiran hari ini saat di majelis. semoga kita terkaruniai hati yang mudah memberi udzur bagi mereka yang memang belum tau. saat kita berada di majelis yang sama, kita masih saudara kan ? :) #notedtomyselffirst #pelajaranhariini #akhlak