Topeng bisa menutupi wajah, tapi topeng ngga akan bisa menutupi sejarah. Para penguasa dengan mudah membeli rumah, tapi penguasa sangat susah memberi Marwah.

seen from Thailand
seen from Hong Kong SAR China

seen from Thailand
seen from China

seen from Botswana
seen from United States
seen from China
seen from Canada
seen from South Africa
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Iraq

seen from Indonesia
seen from Iraq

seen from Poland

seen from France
seen from Canada

seen from Malaysia

seen from Venezuela

seen from Japan
Topeng bisa menutupi wajah, tapi topeng ngga akan bisa menutupi sejarah. Para penguasa dengan mudah membeli rumah, tapi penguasa sangat susah memberi Marwah.
Dunia, mengapa semakin perih saja kehidupan. Apa yang kami inginkan, seringkali diacuhkan. Penguasa yang kami percayakan, tak lagi dapat diandalkan. Semakin keras melakukan penolakan, semakin tegas ingin direalisasikan. Apa yang kami khawatirkan, semakin menjadi kenyataan. Dimanakah tempat yang lebih tentram nan aman. Telinga manakah yang akan mau mendengarkan. Semoga selalu diberi kekuatan dan dijauhkan dari kesengsaraan.
Saya buka sebuah grup diskusi, ada seorang teman mengirimkan link. Awalnya hanya saya lihat dan tidak saya tindaklanjuti, saya memilih membuka grup lain dan beberapa personal chat. Hanya saja, ada perasaan yang mengganjal... rasa-rasanya ada yang membuat saya harus setidaknya mencari tahu ada apa di balik link yang teman saya kirim itu. Akhirnya....saya klik link tersebut dan menyuguhi saya dengan tayangan film yang cukup panjang, hampir satu jam setengah di channel Wacthdoc.
Saya masih diam dan tidak cukup tertarik dengan tayangan awal yang membuat saya bertanya "ini apaan sih?", saya masih bertahan menyaksikan tayangan film. Pandangan saya berubah dan pertanyaan saya di awal seolah sirna begitu saya, tergantikan dengan perasaan yang campur aduk dan saya hanya bisa bilang "Ya Allah....". Tayangan satu setengah jam lebih yang nampaknya menggedor-gedor hati saya dan mengatakan "tuh, banyak di wilayah lain Indonesia yang menderita. Elu mah ga ada apa-apanya, kuliah, tinggal di kosan atau rumah masih enak. Bersyukur lu!". Membuat saya berefleksi, salah satunya soal betapa ilmu harusnya diterapkan tak sekadar didapatkan.....seperti salah satu bagian dalam film ini yang menampilkan seorang anak petani yang berkuliah di fakultas hukum dan sudah menjadi sarjana lantas memilih mendampingi masyarakat menghadapi korporasi.
Selebihnya saya sungguh mengapresiasi film ini. Membuka mata bahwa ternyata omongan soal "penguasa sekarang tuh banyaknya pengusaha" ternyata benar adanya. Pun saya juga sangat berharap, suatu hari saya turut terlibat dalam perjuangan membuka mata banyak orang bahwa Indonesia tidak baik-baik saja dan kita harus terlibat dalam memperbaikinya.
Rezim kekuasaan kerapkali membuat sejarah formal menjadi titik, namun kearifan zaman mengubah titik menjadi koma, dan membuka fakta demi fakta yang tak terungkap sebelumnya.
Maria Hartiningsih
Mahasiswa “akrab” dengan rezim penguasa (?)
Dalam beberapa hari terakhir, media sosial kembali ramai oleh sebuah peristiwa. Peristiwa itu adalah adanya sebuah kegiatan yang dinamakan Jambore Mahasiswa Nasional di Buperta Cibubur. Konon klaim yang dinyatakan oleh panitia adalah acara tersebut dihadiri 3000 mahasiswa dari berbagai kampus. Tidak jelas siapa yang mengadakan acara ini, tidak ada logo lembaga apapun pada spanduk acara. Tapi kejanggalan jelas terlihat, karena acara yang katanya menjadi ajang konsolidasi justru dibuka oleh 2 menteri dari Kabinet Kerja. Disebutkan dalam rilis berita Republika bahwa Jambore ini dibuka oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Menurut saya ini hal yang luar biasa. Kenapa? Sebuah acara yang bahkan tidak jelas siapa yang mengadakan bisa mendatangkan 2 menteri sekaligus untuk membuka. Ditambah juga ternyata dihadiri oleh kedatangan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki menurut berita yang dirilis VIVAnews. Makin jelas kecurigaan siapa yang berada di balik acara jambore ini. Lalu keberjalanan acara tersebut diisi oleh pemberian materi oleh pembicara-pembicara mengenai suatu materi, dengan salah satu pembicaranya adalah Antasari Azhar yang bercerita soal kasus kriminalisasinya. Ternyata materi-materi yang disampaikan pada acara tersebut mengarah pada suatu isu. Sebagian besar materi pada 2 hal, politisasi agama dan SBY. Makin bertambah dan bertambah kecurigaan saya. Bukti-bukti foto yang beredar jelas menunjukkan bagaimana doktrinisasi para pembicara ini kepada mahasiswa
Yang lebih mengherankan lagi adalah apa yang terjadi pada akhir kegiatan tersebut. Kegiatan tersebut diakhiri dengan adanya sebuah aksi unjuk rasa yang justru diadakan depan rumah mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menurut berita yang dirilis oleh Kompas. Baru pertama kali, ada sebuah aksi unjuk rasa di depan rumah mantan Presiden RI. Bahkan seorang Soeharto yang pernah dituntut atas rezim Orde Baru, Gus Dur yang dilengserkan oleh MPR, dan Megawati yang dinilai bertanggung jawab atas penjualan aset negara tidak pernah mengalami unjuk rasa di depan rumah pribadi setelah tidak menjadi Presiden. Kenapa SBY? Ada kaitannya kah dengan AHY yang nyalon di Pilkada DKI dan SBY turun gunung? Ada kaitannya materi pada saat Jambore dengan kasus Ahok yang didukung PDI-P partai penguasa saat ini.
Sepanjang perjalanan bangsa Indonesia yang sebentar lagi akan memasuki umur 72 tahun. Pergerakan mahasiswa selalu tidak ‘harmonis’ dengan rezim penguasa, siapapun presidennya, siapapun partai yang berkuasa. Karena hakikatnya pergerakan mahasiswa hadir ketika permasalahan di negara ini belum terselesaikan serta ketika ketidakadilan masih ada dan itu menjadi tanggung jawab pemerintah yang mengelola negeri ini. Di era Sukarno pergerakan mahasiswa yang paling besar adalah peristiwa Tritura pada 1966 yang menewaskan seorang mahasiwa UI bernama Arif Rahman Hakim, sang pahlawan Ampera. Isu yang dibawa adalah menuntut Pemerintah Soekarno untuk melaksanakan 3 hal yaitu bubarkan PKI, rombak kabinet Dwikora dan turunkan harga sembako. Di era Suharto yang represif terhadap pergerakan, mahasiswa juga tetap melakukan pergerakan mengkritisi pemerintah seperti peristiwa Malari yang mengkritisi penanaman modal asing serta tentu saja aksi reformasi 1998 yang turut serta membuat Soeharto mundur. Begitu juga Presiden Habibie yang masih merasakan gejolak aksi reformasi karena masih dianggap antek Orde Baru dan pertanggung jawabannya tidak diterima MPR
Presiden Abdurrahman Wahid alias Gusdur juga merasakan pergerakan mahasiswa terutama saat-saat jelang beliau dilengserkan. Di era Megawati pun tak luput dari aksi mahasiswa akibat privatisasi beberapa BUMN dan harga BBM yang melonjak dari 2500 menjadi 4500 rupiah per liter. Era SBY selama 2 periode juga dilalui dengan begitu banyak aksi mahasiswa, terutama terkait dengan politik “Yoyo” menaikkan dan menurunkan harga BBM, yang paling dikenal adalah tahun 2008 yaitu aksi BEM-SI dengan tuntutan Tugu Rakyat (Tujuh Gugatan Rakyat) menjelang pilpres 2009. Era Jokowi? Sudah terukir jelas aksi serentak Maret 2015, 21 Mei 2015, 28 Oktober 2015, 21 Mei 2016 dan 28 Oktober 2016. Semua aksi tersebut jelas menyuarakan dan menuntut kepada pemerintah dan tidak “akrab: dengan rezim penguasa
Maka sejak kapan mahasiswa bisa begitu “akrab” dengan rezim penguasa seperti mahasiswa-mahasiswa peserta jambore ini? Saya yakin tidak semua mahasiswa seperti itu. Aliansi BEM Seluruh Indonesia yang beranggotakan BEM kampus besar seperti UI, ITB, IPB, Unpad, UPI, Undip, UGM, UB, ITS, Unsri, Unand dll. sudah mengeluarkan pernyataan sikap bahwa tidak terlibat dalam Jambore tersebut. Semoga mahasiswa-mahasiswa yang ikut jambore tersebut sadar bahwa mereka hanya menjadi alat politik penguasa untuk menekan siapapun yang menganggunya. Maka berhati-hatilah, idealisme harus selalu dijaga, karena mahasiswa tetap menjadi agen perubahan dan kontrol sosial sampai kapanpun. Selama ketidakadilan masih ada di negeri ini, selama itu pula mahasiswa akan terus bergerak mengawal pemerintahan, bukan membela pemerintahan. Semarang, 8 Februari 2017 YAPW
Menyelami Dunia Sang Penguasa Samudra - Keunikan Hiu yang Mengagumkan
Baik Alam semesta,manusia,hewan memiliki Tuan,Pemilik,Pengatur,Penguasa....
Kita semua baik manusia maupun hewan maupun alam memiliki Tuan….Pemilik,Pengatur,Penguasa
Tuan itu yang mengatur pergantian pagi dan malam Hujan dan kemarau… Makan dan minum Aktifitas dan istirahat Pernikahan kelahiran kehidupan kematian…
Yang memimpin kita kepada kebinasaan maupun keselamatan…
Dan umat Islam dalam doa sholat Alfatihah ayat 6-7 Berdoa:Tunjukilah kami jalan yang lurus ,jalan mereka yang diberi nikmat bukan jalan mereka yang dimurkai..bukan jalan mereka yang sesat.amin… Juga baca doa saput jagat..Minta kebaikan didunia dan kebaikan diakhirat dan berlindung dari siksa api neraka…
Tapi walau begitu umat islam didunia Juga bisa mati/didunia Dan sebagian masih sesat…. Bahkan terjerat pidana dan berbuat kejahatan… Mungkin alfatihah ayat 6-7 itu terkabul diakhirat…..tertunda untuk akhirat…
Dan kata alquran surat an najm terjemahan indonesia…yang ayat berapa saya lupa:"Apakah manusia mendapatkan semua yang dicita citakannya?Milik Allah akhirat dan dunia…
Dan Memang milik allah langit dan bumi dan isinya…dunia akhirat dan isinya…kita semua akan merasakan kematian..dan kepadaNya kita kembali…
Membebaskan Palestina, Mengakhiri Pengkhianatan Para Penguasa
𝗠𝗘𝗠𝗕𝗘𝗕𝗔𝗦𝗞𝗔𝗡 𝗣𝗔𝗟𝗘𝗦𝗧𝗜𝗡𝗔, 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗔𝗞𝗛𝗜𝗥𝗜 𝗣𝗘𝗡𝗚𝗞𝗛𝗜𝗔𝗡𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗣𝗔𝗥𝗔 𝗣𝗘𝗡𝗚𝗨𝗔𝗦𝗔. Gaza masih terus dirundung duka. Penduduknya masih terus diancam genosida. Mereka makin lemah tak berdaya. Per 15–16 Juni 2025, korban tewas di Gaza akibat genosida Zionis Yahudi telah mencapai sekitar 55.362 jiwa, dengan lebih dari 128.741 orang terluka sejak Oktober 2023. Sebagian besar korban adalah perempuan, anak-anak dan warga…