…entah!
dari sekian banyak ketakutan, aku mungkin hanya takut pada sepi, air mata, dan kehilangan. aku memahami bagaimana rasa bahagia itu mungkin punya waktunya sendiri untuk usai, dan aku terlalu menyangkal padanya. sebab aku tidak ingin merasakannya, walau sekecil apapun perihnya. tapi aku tidak siap dan tidak akan sanggup. bagaimanapun harus ku terima, aku harus punya alasan untuk tidak dapat peluang untuk membuat lagi lebih banyak penyangkalan. membuat aku harus mengambil keputusan sepihak bahwa lebih baik untuk meninggalkan karena aku yang meminta sendiri kebahagiaan itu usai dan pergi sebelum kalimat perpisahaan dari yang lain lebih dulu menemuiku, walau perpisahan itu mungkin juga tidak akan benar-benar datang, tapi firasatku mungkin juga benar. walau mungkin harus ada yang tersakiti, tapi percayalah bahwa kau dan beberapa yang lainnya tidak pernah sakit sendirian. aku turut larut dalam airmata dan perasaan bersalah, tapi yang penting itu tidak datang dari siapapun yang pernah ku sayang, karena aku sendiri yang memintanya. kau tidak salah, dan aku sudah aman. maaf tidak begitu berpikir tentang bagaimana kau akan sembuh, karena hingga kini aku bahkan belum pernah temui obatnya. dan entah sampai kapan. biar waktu yang menghapusnya…














